commented on Opini dan kritik pada : KEPPRES No. 12/2014 tertanggal 14 Maret 2014 pencabutan pemakaian istilah Cina

April, 16, 2014 pada 4:44 PM

Yulianto Liestiono commented on INDONESIA MENCABUT SE-06-/Pres.Kab/6/1967 YANG DISKRIMINATIF PADA WARGA TIONGHOA INDONESIA

Membaca artikel “INDONESIA MENCABUT SE-06-/Pres.Kab/6/1967 YANG DISKRIMINATIF PADA WARGA TIONGHOA INDONESIA” hati menjadi sedih … Nuansa salah menyalahkan terus tertanam dan disuburkan .. Cina menyalahkan ORBA … ORBA menyalahkan Cina dan keturunan Cina menyalahkan Nenek moyangnya .. Apakah kita masih terus akan larut mempersoalkan persengketaan yang keji atau kita lupakan saja dan anak cucu kita tidak juga akan mengingatnya ? Saya merasa sangat sedih karena persengketaan seperti ini memicu persengketaan darah dalam tubuh saya yang mengandung darah Jawa dan Cina. Dan saat ini cucu saya ditambah dengan ramuan darah Batak dan Jawa. Lalau saya harus mengingat terus menerus dan membaca persengketaan keji dan bodoh seperti ini. Meminjam kata lagu saat ini … Tuhan lumpuhkan saja ingatanku terhadap persoalan ini.

Salam buat Pak Hendrotan

end.

April, 10, 2014 pada 10:58 PM

Arofah Kusumarini commented on Opini dan kritik pada : KEPPRES No. 12/2014 tertanggal 14 Maret 2014 pencabutan pemakaian istilah Cina
Opini dan kritik pada : KEPPRES No. 12/2014 tertanggal 14 Maret 2014 pencabutan pemakaian istilah …

“Kembali pada Mahfud MD yang mengingatkan pada bahaya laten ekstrimisme dan bagian dari sebabnya adalah kesenjangan sosial yang kian meny(c)olok, selain akan merusak tatanan demokrasi Indonesia juga akan menjerumuskan negeri ini kekacauan yang mengerikan.”

Mungkin tidak hanya kesenjangan sosial, kesenjangan ekonomi bisa dibilang begitu. Saya pernah 1 bulan bekerja di sebuah apartemen di Surabaya. Bos nya keturunan Tionghoa. Apa katanya waktu interview saya..? “Di sini kita gak panggil client dengan sebutan mbak atau mas. Kamu panggil cece atau koko, kalau wajahnya bukan Chinesse kamu panggil kak”.

Apa bedanya ???
KAKAK = (bahasa Jawa) MBAK = CECE (bahasa China)
KAKAK = (bahasa Jawa) MAS = KOKO (bahasa China)

Bahkan orang jaga parkir yang keceplosan sebut ‘mas’ ke pengunjung bisa kena SP (Surat Peringatan), katanya sih pencemaran nama baik. Hmm saya rasa ini benar-benar ekstrimis Tionghoa banget pak.

Bagaimana komentar bapak selanjutnya ?
Saya tunggu ya. Terima Kasih…

End.

Menjawab pertanyaan mbak Arofah Kusumarini

: Bekas Bos Arofah ada kelainan pada pemahaman hahasa Indonesia, atau bodoh.

Panggilan akan lebih meng-Indonesia bila memakai kata : Mas, Mbak dan untuk yang
tuaan Bapak dan Ibu.

Salam
hendotan
11 April 2014

End.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: