April, 16, 2014 pada 4:44 PM

Yulianto Liestiono commented on INDONESIA MENCABUT SE-06-/Pres.Kab/6/1967 YANG DISKRIMINATIF PADA WARGA TIONGHOA INDONESIA

Membaca artikel “INDONESIA MENCABUT SE-06-/Pres.Kab/6/1967 YANG DISKRIMINATIF PADA WARGA TIONGHOA INDONESIA” hati menjadi sedih … Nuansa salah menyalahkan terus tertanam dan disuburkan .. Cina menyalahkan ORBA … ORBA menyalahkan Cina dan keturunan Cina menyalahkan Nenek moyangnya .. Apakah kita masih terus akan larut mempersoalkan persengketaan yang keji atau kita lupakan saja dan anak cucu kita tidak juga akan mengingatnya ? Saya merasa sangat sedih karena persengketaan seperti ini memicu persengketaan darah dalam tubuh saya yang mengandung darah Jawa dan Cina. Dan saat ini cucu saya ditambah dengan ramuan darah Batak dan Jawa. Lalau saya harus mengingat terus menerus dan membaca persengketaan keji dan bodoh seperti ini. Meminjam kata lagu saat ini … Tuhan lumpuhkan saja ingatanku terhadap persoalan ini.

Salam buat Pak Hendrotan

end.

April, 10, 2014 pada 10:58 PM

Arofah Kusumarini commented on Opini dan kritik pada : KEPPRES No. 12/2014 tertanggal 14 Maret 2014 pencabutan pemakaian istilah Cina
Opini dan kritik pada : KEPPRES No. 12/2014 tertanggal 14 Maret 2014 pencabutan pemakaian istilah …

“Kembali pada Mahfud MD yang mengingatkan pada bahaya laten ekstrimisme dan bagian dari sebabnya adalah kesenjangan sosial yang kian meny(c)olok, selain akan merusak tatanan demokrasi Indonesia juga akan menjerumuskan negeri ini kekacauan yang mengerikan.”

Mungkin tidak hanya kesenjangan sosial, kesenjangan ekonomi bisa dibilang begitu. Saya pernah 1 bulan bekerja di sebuah apartemen di Surabaya. Bos nya keturunan Tionghoa. Apa katanya waktu interview saya..? “Di sini kita gak panggil client dengan sebutan mbak atau mas. Kamu panggil cece atau koko, kalau wajahnya bukan Chinesse kamu panggil kak”.

Apa bedanya ???
KAKAK = (bahasa Jawa) MBAK = CECE (bahasa China)
KAKAK = (bahasa Jawa) MAS = KOKO (bahasa China)

Bahkan orang jaga parkir yang keceplosan sebut ‘mas’ ke pengunjung bisa kena SP (Surat Peringatan), katanya sih pencemaran nama baik. Hmm saya rasa ini benar-benar ekstrimis Tionghoa banget pak.

Bagaimana komentar bapak selanjutnya ?
Saya tunggu ya. Terima Kasih…

End.

Menjawab pertanyaan mbak Arofah Kusumarini

: Bekas Bos Arofah ada kelainan pada pemahaman hahasa Indonesia, atau bodoh.

Panggilan akan lebih meng-Indonesia bila memakai kata : Mas, Mbak dan untuk yang
tuaan Bapak dan Ibu.

Salam
hendotan
11 April 2014

End.

Dr. med. S.T.Chiu commented on ADA APA DENGAN KETURUNAN TIONGHOA ? / WHAT’S UP WITH INDONESIANS OF CHINESE DESCENT ?

stchiu1888@osnanet.de

Submitted on 2013/12/29 at 12:34 am

Saya dengan penuh hati setujuh analysa dan proposal Anda. Keturunan Chinese yang sulit diintergrasi dan assimilasi ialah kaum keturunan Chinese yang dididik oleh sekolah sekolah Chinese di Indonesia sampai tahun 1966, sekolah sekolah itu dibawah pengaruh dan kontrol oleh Komitee overseas Chinese RRC dan Front Persatuan melalui konsulat RRC pada saat itu. Murid-murid keturunan Chinese, pada waktu itu sebagai WNA, umumnya dididik menjadi sangat nasionalis dan patriotis terhadap RRC. Tidak mengherankan bahwa sampai hari ini ada surat kabar bahasa China sumber berita terutama dari Chinese News Agency/ Xinhua News Agency.

————————————————————–

Terima kasih atas responnya, silakan lanjut…..

hendrotan, 30/12/2013. 10.10 am

————————————————————–

 

Billy commented on JAWABAN UNTUK MAMANG DAN JURNALIS KORAN MANDARIN
globalmillionaire@yahoo.com

Submitted on 2013/12/26 at 12:02 pm

Adalah fakta keturunan Tionghoa, India, Arab, Eropah di Indonesia tidak memiliki daerah teritorial di Indonesia yang bisa disebut sebagai daerah asal-usul mereka. Namun hal yang sama juga terjadi di Malaysia.

Tapi ada perbedaan perspektif di kedua negara terhadap kaum-kaum yang dianggap pendatang ini. Apa pendapat Bapak Hendro Tan mengenai status Tionghoa dan non-bumiputera lainnya di Malaysia? Secara konstitusional memang ada “Ketuanan Melayu/Bumiputera” di Malaysia. Bumiputera diistimewakan dalam beberapa hal, dan bahkan ada kasus intervensi pemerintah untuk larangan penggunaan kata/nama tertentu dalam kitab agama non-mayoritas yang berbahasa Melayu. Namun secara budaya, keturunan Tionghoa, India, dan non-bumiputera lainnya diberi kebebasan mempraktekkan kebudayaan dan bahasa leluhurnya masing-masing. Hal ini tercermin dalam media massa milik pemerintah mereka yang juga muti-bahasa (tidak hanya milik swasta).

Masyarakat bumiputera di situ juga tampak tidak berkeberatan dengan adanya praktek kebudayaan/agama kaum-kaum non-bumiputera secara terang-terangan. Etnis pribuminya sama dengan Indonesia (walau mereka jauh lebih sedikit sukunya, mayoritas bumiputera identik dengan Melayu), etnis non-pribuminya juga sama dengan Indonesia (ada keturunan TIonghoa, India, Arab, Eropah). Dan seperti yang kita ketahui non-bumiputera di Malaysia juga cukup Nasionalis dan secara politik tidak berkiblat ke negeri leluhurnya masing-masing.

————————————————————–

Terima kasih atas responnya, silakan lanjut…..

hendrotan, 30/12/2013. 10.10 am

Dear all,

Suara ICAS,

Produk Hukum satu negara berasal dari rasa keadilan manusia dan masyarakatnya berikut sejarahnya , yang mengkristal dan di apresiasi bersama , sedangkan rasa keadilan berhulu pada akal budi umat manusia disuatu wilayah sekecil suku adat sebesar suku bangsa dan negara sampai dengan PBB persatuan bangsa bangsa.

Pertanyaannya : Akal budi macam apa yang dipakai sebagian warga peranakan Tionghoa yang enggan belajar seni budaya setempat ( dihabitat tempat mukim mereka ) ?

Bebal atau abai pada kondisi , situasi dan toleransi, sebagaimana anggota Ketua Komisi DPRD di Tolikara Jayapura Papua itu, tidakkah siapa pun akan menerima resiko yang sama di putaran roulettenya .. ?

Sepertinya pemikir pemikir senior Peranakan Tionghoa perlu mendalami atau membuat terobosan pemahaman baru yang beratmosphir positif, yang melampaui keegoan individual dan kekolotan segregasi, agar tidak terjadi di hulu airnya keruh, tak dapat tidak dihilirnya semakin kotor saja .

Tgl. 1 Februari 2013. Jam 18.00

Best regards, hendrotan

End.

Jawaban Kepada  Yerry Padang

Tgl. 10 Des. 2012  jam 15.00 wib

WACANA KEBANGSAAN, NEGOISASI TANPA HENTI

Oleh: hendrotan

KALAU KEBUDAYAAN INDONESIA, MENURUT UMAR KAYAM (ALM) ITU DINAMIS DAN TIDAK PERNAH FINAL, MAKA BAGI SAYA INDONESIA JUGA TIDAK PERNAH FINAL. OLEH KARENA ITU WACANA KEBANGSAAN PUN, TERUTAMA KAITANNYA DENGAN TIONGHOA, HARUS DI NEGOSIASIKAN TERUS-MENERUS AGAR KETURUNAN TIONGHOA MENJADI MANUSIA INDONESIA SEUTUHNYA.

Tulisan  Saudara Yerry Padang, Yogyakarta, tanggal 26 November 2012, yang terkirim via email ke blog saya tanggal 1 Desember lalu, menanggapi pikiran-pikiran saya tentang asimilasi budaya belakangan ini. Ia terkesan bingung, mengapa saya mengusik masalah “lama” pada saat sekarang yang (kelihatan) damai. Tentu saja terima kasih, karena sebagai perupa, dia punya kepedulian dengan masalah-masalah kebangsaan, khususnya peranakan Tionghoa Indonesia.

Jangan salah, wacana kebangsaan itu dinamis, sehingga kita perlu bicarakan terus-menerus, karena di sana bersangkutan dengan ruang negoisasi tanpa henti. Waktu yang terus berjalan, mengantarkan orang-orang tua meninggal dunia, lalu perannya diganti oleh anak-anak muda dari jaman yang berbeda — kini menjadi dewasa dengan  pikirannya masing-masing — yang bisa jadi berbeda dengan generasi sebelumnya.  Dengan demikian, masalah “lama” mendapat penafsiran baru, mulai dari makna hingga kegunaannya. Ambil contoh Pancasila dan UUD Dasar 1945 misalnya. Itu masalah “lama” yang harusnya sudah final. Tapi apa yang terjadi? Seperti kita tahu bersama, Pancasila dan UUD 1945, akhir-akhir ini mendapat penafsiran dan pemaknaan yang berbeda dengan sebelumnya, dengan berbagai dalih, pemikiran dan kepentingan dibaliknya.

Kalau Pancasila dan UUD 1945 (beberapa kali di amandemen) saja bisa dinegoisasikan tanpa henti, mengapa soal asimilasi budaya di negeri ini kita tidak boleh membicarakan sesuai dengan konteksnya sekarang. Bagi saya yang penting adalah perspektifnya, bahwa ujung asimilasi budaya dalam pikiran saya adalah Tionghoa yang menjadi manusia Indonesia seutuhnya. Karena kita lahir, dibesarkan, makan minum dari tanah air Indonesia, dan kelak akan mati dalam pelukan bumi pertiwi.

Bertolak dari perspektif  seperti itu, saya berpendapat bahwa bukan Indonesia atau pribumi  yang beruntung dengan adanya Tionghoa selama ini, akan tetapi kitalah orang Tionghoa peranakan yang sudah seharusnya merasa diuntungkan oleh Indonesia. Bagaimana tidak, selama ini peranakan Tionghoa telah menerima “maha toleransi” dari anak bangsa Indonesia (baca pribumi), sehingga kaum Tionghoa bisa diterima sebagai warga bangsa (citizen) di negeri ini. Jadi jangan di balik Pak Yerry Padang !

Memang di kalangan Tionghoa yang berfaham integrasi atau yang pro faham integrasi atau chinois atau Totok-isme, banyak yang berpikiran bahwa Indonesialah yang beruntung dengan datangnya perantau Hoa Kiau dan adanya keturunan Tionghoa di Indonesia dewasa ini, dan tidak banyak yang mau berfikir sebaliknya, bahwa kitalah yang beruntung dengan adanya Nusantara dan adanya Indonesia.

Katakanlah Anda menyodorkan catatan, dimasa Hindia Belanda tahun 1927, ada sekelompok pemuda Tionghoa karena merasa kecewa pada NIVB persatuan sepak bola bentukan menner, kemudian mereka membentuk CKTH –– HNVB persatuan sepak bola etnis Tionghoa . Semangat tersebut bisa diacungi jempol, walau tereduksi oleh kekhususan etnisitas. Sehingga akan lebih terpuji bila membaur tanpa batasan ras.

Saya bisa mengerti dan tidak menutup mata, bahwa tidak sedikit peranakan Tionghoa yang menyumbangkan prestasinya dibidang olah raga bagi ibu pertiwi, bahkan banyak yang berhasil mengharumkan nama dan mengangkat mertabat bangsa Indonesia di gelanggang internasional.  Dalam pandangan saya, itu terjadi karena Indonesia memberikan peluang bagi keturunan Tionghoa, untuk maju ke gelanggang pertandingan internasional. Tanpa pemberian kesempatan, tidak mungkin siapa pun bisa maju dengan sendirinya.

Dalam kaitan ini, saya lebih menaruh hormat pada tokoh-tokoh keturunan Tionghoa  yang berkarakter kuat sikap kebangsaannya seperti Soe Hok Gie, Yap Thiam Hien, PK. Ojong, Ong Hok Ham, Junus Jahya, Harry Tjan Silalahi, hingga Kwik Kian Gie, dllnya, mereka ikut “menjaga” Indonesia yang telah melahirkannya dengan caranya masing-masing. Juga saya lebih menaruh hormat pada seorang sineas seperti Teguh Karya; artis seperti Tan Ceng Bok, Fifi Young, musisi seperti Bubi Chen, komikus Kho Ping Ho, penyanyi dan pengarang lagu Masnah, Chrisye, dan seniman serba bisa Didik Nini Thowok, memberikan dedikasi dan prestasinya bagi negara yang melahirkannya. Sudah tentu hal ini, tidak bisa disejajarkan dengan jasa peranakan Tionghoa yang berprofesi sebagai pedagang atau pengusaha bioskop atau bos pemilik pabrik, apalagi mereka yang oportunistis.

Yang kita sering lupa adalah menyadari dimensi. Orang tahunya hanya apa yang kita rasakan. Sesungguhnya kesadaran dimensi masa lalu, masa kekinian, masa yang akan datang dan pada harapan atmoferis, akan mendorong kita tidak melihat segala sesuatu secara sepotong-potong. Bahkan akan menjadikan kita waspada, menjaga dan memperjuangkan yang baik. Dalam konteks itu, siapa yang tidak hormat dengan para pahlawan yang telah mengantarkan kita ke depan pintu gerbang kemerdekaan, hingga mengisi kemerdekaan sampai sekarang. Kita tahu, beberapa tokoh Tionghoa juga ikut dalam persiapan kemerdekaan Indonesia, bahkan sesudah itu ada pula yang turut mengisi kemerdekaan di dalam pemerintahan. Langkah-langkah dan kesempatan seperti itu patut dipuji, disyukuri, dan terus dimaknai.

Seperti yang kita ketahui, hal yang sering kita baca di surat kabar, bahwa banyak dari kaum pejuang kini hidupnya menderita secara ekonomis. Tanda dan piagam kehormatan yang mereka miliki, tidak bisa menolong diri para pejuang, dan tidak bisa untuk menggedor kesadaran pengusaha super kaya peranakan Tionghoa yang setiap tahunnya terpampang di majalah FORBES UNTUK TURUT MEMBERIKAN SANTUNAN DAN PENGENTASAN MENDASAR.

Akhirnya, sungguh tidak patut , bahkan nista, bila dalam memperingati hari pahlawan ada yang merasa kalah nikmat jika dibanding  nonton pementasan wayang potehi. Ini menjadi salah satu bukti bahwa kita harus terus menerus mengingatkan perlunya pelaksanaan asimilasi budaya, secara murni dan konsekwen (pinjam bahasa lama). Membicarakan asimilasi budaya dimasa dewasa ini, bukanlah tindakan mengungkit-ungkit, melainkan sebuah “alarm”, agar kita  tetap terjaga dan selamat bila terjadi “tsunami” sosial sewaktu-waktu. Apakah Anda tidak melihat tanda-tanda tsunami sosial itu ? Saya telah melihatnya, maka saya melihat wacana kebangsaan itu perlu selalu dinegosiasikan tanpa henti. (*)

Tgl. 10 Desember 2012

hendrotan

End.

A comment on the post “ASIMILASI BUDAYA: JALAN BUDAYA MENJADI INDONESIA SEUTUHNYA”

Author : yerrypadang (IP: 114.79.56.179 , 114.79.56.179)

E-mail : yerrypadang@yahoo.com

PARA ‘PENDEKAR SILAT’ TIONGHOA DENGAN ‘JURUS’ PRIBUMI

Oleh: Yerry_P.

Np_Yogyakarta, 26 November 2012

Sangat menarik tulisan Pak Hendrotan dalam blognya yang saya baca semalam [25 Nov 2012]. Baru kali ini saya membaca tulisan seorang owner galeri yang berdarah keturunan.

Memang sangat susah untuk mengungkapkan kegelisahan yang bersinggungan dengan kondisi sosial-budaya yang terkadang sangat alergi untuk diwacanakan.

Dari judul tulisan tersebut, saya berharap akan bermunculan tanggapan dari orang-orang atau golongan di luar warga keturunan Tionghoa. Dengan begitu akan terbangun komunikasi yang tak hentinya dalam media sosial. Hanya sayangnya, orang-orang Indonesia [entah itu WNI atau WNIketurunan] adalah masyarakat yang suka lupa. Syukurlah jika seseorang lupa akan kebaikan yang diberikannya, cuma tragisnya tidak sedikit yang lupa akan keburukan yang telah ditaburnya.

Saya sendiri bingung, apakah wacana ini masih relevan dibicarakan sekarang atau memang sudah selesai. Kalau melihat sumbangsih orang-orang Tioghoa di bumi Indonesia mulai dari zaman penjajahan hingga sekarang, betapa beruntungnya bangsa ini karena tidak sedikit predikat yang baik telah mereka torehkan dalam berbagai sektor.

Dari Geliat Olah Raga Hingga Rimba Kreatif

Kita ambil contoh, bagaimana orang-orang Tionghoa yang membentuk Commite Kampionwedstrijden Tiong Hoa [CKTH] pada tahun 1927, yaitu sebuah organisasi sepak bola orang-orang Tionghoa.

Organisasi ini dibentuk untuk menutupi kekecewaan mereka terhadap penganaktirian organisasi Nederlandsch Indische Voetbal Bond [NIVB] yang terbentuk tahun 1919 yang kemudian menaungi klub-klub sepak bola di Indonesia [pada waktu itu masih Hindia Belanda]. Kekecewaan kaum Tionghoa tidak pelak juga dirasakan oleh kaum bumiputra, yang dipandang sebelah mata oleh NIVB. Akhirnya, tiga tahun kemudian, setelah CKTH terbentuk dan kemudian merubah diri menjadi Hwa Nan Voetbal Bond [HNVB] tahun 1930, pada tahun itu pula kaum bumiputra mendirikan PSSI [19 April 1930]. Semua organisasi sepak bola nasional dibubarkan dan melebur ke dalam PSSI.

Dari sinilah bagaimana kita melihat cikal bakal kompetisi sepak bola di Tanah Air yang semarak hingga kini, walau HNVB sudah tak terdengar, tapi para pemilik modal seperti perusahaan-perusahaan rokok ikut mensponsori kompetisi ini yang nota bene didominasi oleh pengusaha Tionghoa. Belum lagi bila kita melirik ke olah raga badminton [bulu tangkis]. Saya pikir tidak sedikit orang-orang Tionghoa yang sudah mengharumkan nama Indonesia di kejuaraan internasional.

Selain dibidang olah raga, warga Tionghoa banyak berperan dalam pengembangan kebudayaan.

Perlu dicatat di sini beberapa karakter yang sedikit banyak berpengaruh seperti; Soe Hok Gie [dengan perjuangannya], The Liang Gie [sebagai pengarang buku Filsafat Seni], Asmaran S. Kho Ping Hoo [penulis cerita silat] hingga Kwik Kian Gie [di bidang ekonomi]. Lain halnya bila kita berbicara di dunia perfilman. Bila kita tarik kembali waktu di masa 1926-1932, mayoritas sutradara dan produser film kala itu adalah kaum Tionghoa peranakan. Sebut saja sutradara seperti Nelson Wong dan The Teng Chun. Kedua orang tersebut tidak hanya sebagai sutradara yang memproduksi sebuah tontonan [hiburan].

Tidak pula hanya melihat film sebagai media ekspresi [seni], tapi film adalah piranti penyampaian pesan [informasi]. Mereka memperhitungkan bahwa masyarakat Tionghoa perantauan terdiri dari dua kelompok. Yang pertama yang disebut Xin Ke atau Tioghoa totok yang merupakan generasi pertama yang masih terkait erat dengan tradisi serta fanatik menggunakan bahasa negeri leluhur – yang jumlahnya sedikit pada waktu itu – dan Tionghoa peranakan yang sudah tidak lagi menggunakan bahasa negeri leluhur, tetapi berkomunikasi dengan bahasa daerah di mana mereka bermukim, juga menguasai bahasa Melayu. Mereka tidak lupa bahwa citarasa masyarakat Tionghoa totok jauh berbeda dengan Tionghoa peranakan yang lebih dekat dengan budaya pribumi [HM Johan Tjasmadi dalam ‘100 Tahun Bioskop di Indonesia [1900-2000]’, hal 19].

Tidak hanya para sutradara dan produser Tionghoa sebagai kreator film, tapi pemilik bioskop/ wadah tayangpun di tahun 1936 dimiliki oleh kebanyakan warga Tionghoa. Sebut saja Bioskop ‘Omni Bioscoop’ [Ambarawa] dengan pemilik Djaw Kok Kay, ‘Esplanada’ [Ambon]: Liem Chid Liong, ‘Corrie’[Banjarmasin]: Ong Keng Lie, ‘Royal Cinema’ [Bengkulu]: Tjia Seng Han, ‘Royal Theater’ Blitar]: Sie Wie Bo, ‘Tiong Hwa Biosc’ [Bukit Tinggi]: Tjoa Sin Soe, ‘Oranje Bioscoop’ [Gorontalo]: Liem Tjae Tong, ‘Cinema Palace’ [Jakarta/Batavia]: Oey Soen Tjan, ‘Atrium Theater’ …[Malang]: Fred Young, ‘Roxy Theater’ [Magelang]: Kho Tjie Ho, ‘City Theater’ [Semarang]: Liem Khoen Hwan, ‘Capitol Theater’ [Solo]: Ong Poan Thay, ‘Tiog Hwa Biosc’ [Ternate]: Soen Seng, ‘Sirene Talkies’ [Ujung Pandang]: T. L. Ong, dan masih banyak lagi bioskop di tempat yang sama yang mungkin saja anda akan malas membacanya bila saya salin semua.

Saya pikir dari sejumlah kecil bisnis dunia hiburan yang saya kutip tersebut adalah merupakan wadah atau media untuk mempropagandakan sebuah kebudayaan. Mengapa demikian? Karena pada masa itu, film-film yang diproduksi tidak sedikit yang bernarasikan kebudayaan [tradisi]. Bila kantong-kantong kebudayaan tersebut bertransformasi ke arah galeri seni pada masa kini, berarti ada perubahan paradigma. Saya tidak bermaksud untuk menghubungkannya [menyamakan bioskop dan galeri seni saat ini], tapi ada peralihan hasrat untuk tetap atau paling tidak mempertahankan suatu kebudayaan dalam dunia seni. [Sebagai catatan saja bahwa ada sebuah gedung di Yogyakarta yang dulunya sebagai gedung bioskop, lalu berubah wujud menjadi sebuah galeri]. Jika pada masanya perfilman di Indonesia sangat berjaya, mengapa tidak, galeri-galeri seni di Indonesia [khususnya di Pulau Jawa] sekarang ini mengambil alih untuk mengakulturasikan budaya setempat dengan budaya Tionghoa?. Jadi, warga Tionghoa yang mengolah kebudayaan masa itu, berbeda dengan warga Tionghoa yang megakomodasi seni atau kebudayaan di masa kontemporer ini. Dan di dalam dunia seni, persinggungan kebudayaan menjadi cair.

Saya sendiri tidak mendengar lagi seorang Tionghoa yang bergerak sebagai pelatih sepak bola dalam suatu klub saat ini. Hanya beberapa saat yang lalu masih ada pelatih tertua di Indonesia yang berwarga keturunan Tionghoa yaitu alm. Endang Witarsa [ayah dari Ibu Melani W. Setiawan].

Sementara sutradara atau produser di dunia perfilman yang berwarga keturunan Tionghoa sudah tidak berprestasi saat ini, atau bisa dikata tidak ada gaungnya lagi. Bahkan, para sineas Indonesia sudah diambil alih oleh sutradara ‘pribumi’ yang masih konsisten, hingga mendapat penghargaan secara internasional.

Ilmu Pewayangan dan Sangkar Besi

Kita tinggalkan dulu wacana sepak bola dan perfilman, kita tengok aktivitas pementasan wayang yang tidak kalah serunya dengan wayang kulit. Hampir empat tahun belakangan ini, saya melihat pementasan Wayang Potehi, kemudian terlibat dalam beberapa diskusi atau pembicaraan tentang wayang tersebut. Di situ saya justru terkesima, di saat melihat para aktifisnya yang nota bene adalahorang ‘pribumi’. Mulai dari dalang hingga seniman musiknya. Kalau Pak Hendrotan menanyakan kemana Tionghoa Peranakan pada Hari Pahlawan?. Di sini saya juga bertanya, kemana orang Tionghoa di saat pementasan Wayang Potehi?. Bukankah narasi wayang ini banyak tentang epos?. Ataukah sudah luntur mental kebangsaan kita dan menghindar dari rimba kepahlawanan?.

Bila kita saksikan pementasan wayang tersebut, justru asimilasi sangat kental nuansanya. Selain mereka memakai bahasa ‘Cina’ [hanya sebagian yang teraplikasi dalam pementasan], tapi lebih dominan memakai bahasa Indonesia, yang lebih mudah dipahami. Memang terasa ironi, karena dalang dari Wayang Potehi bukan lagi dari warga Tionghoa, tapi sudah diambil alih oleh warga setempat [baca: pribumi]. Bahkan ilmu mendalangnya diwariskan secara turun-temurun.

Dengan begitu, saya terkadang masih bertanya-tanya dengan statemen awal Pak Hendrotan yang mengatakan bahwa di Indonesia, sampai hari ini mengapa masih ada sebagian warga Tionghoa keturunan yang takut, salah mengerti, bahkan trauma pada asimilasi?. Pertanyaan Pak Hendrotan tersebut memang ada betulnya. Ini bisa kita peruntukkan kepada warga keturunan Tionghoa yang ‘susah melupakan’ dan senantiasa memelihara trauma-trauma masa lalu pribadinya atau keluarganya. Bila kita melihat cara bergaul warga Tionghoa di Pulau Jawa dengan kaum pribumi, sangat disayangkan bila masih ada gesekan rasial. Sebab warga Tionghoa di Jawa sudah sangat intimnya dengan memakai bahasa setempat. Sangat berbeda dengan warga Tionghoa di Makassar atau Sulawesi Selatan pada umumnya. Bila orang Tionghoa di Jawa sudah bisa menyublim dengan bahasa Jawa dan hampir melupakan bahasa leluhurnya, beda halnya di Sulawesi Selatan. Sebagian besar warga Tionghoa masih berbahasa Mandarin dengan sesamanya dan saya tidak pernah mendengar warga Tionghoa Sul-Sel berbicara memakai bahasa setempat kepada sesama warga Tionghoa. Dan bahkan, jika melihat tampilan rumah mereka sangat ‘berjarak’ dengan tampilan rumah pribumi. Kalau kita melihat begitu masifnya tampilan rumah mereka dengan sangkar besi pada jendela atau pintu, ini menandakan ada hal yang belum bisa dilebur. Akibatnya kecurigaan satu sama lain selalu menghantui. Belum lagi jika kita menyinggung bagaimana warga Tionghoa yang menikah dengan warga pribumi, bahkan hingga ke perbedaan keyakinan. Ini masih sangat tabu. Saya berharap pembahasan ini tidak berhenti pada media sosial seperti ini. Tapi lebih kepada media yang lebih terbuka lagi. Yang lebih akomodatif [proses penyesuaian manusia dalam kesatuan sosial untuk menghindari interaksi ketegangan] dan lebih meluas ke seluruh Indonesia.

Membangunkan Kembali Trauma Masa Lalu?

Ada pengalaman lain yang saya alami selama dua puluh tahun saya berkesenian di Yogyakarta.

Suatu saat saya menonton pameran seni rupa Agus Suwage, kemudian FX Harsono di tempat yang berlainan. Kebetulan pada saat itu saya bertemu dengan perupa asal Padang, Sumatera. Saya bertanya kepadanya, apa yang kamu tangkap dari visualisasi seperti ini. Dia menjawab, sudah saatnya trauma-trauma masa lalu dikubur saja, jangan diangkat lagi kepermukaan luka masa lalu.

Ini akan melahirkan lagi kebencian-kebencian kepada keturunan warga Tionghoa, maupun sebaliknya. Saya sendiri sependapat dengannya, hanya saja ada perspektif lain yang coba saya pahami. Bahwa di negeri tercinta ini, ada banyak hal buruk yang mudah sekali dilupakan, cuma masalahnya di sisi lain banyak juga orang yang susah melupakan trauma masa lalu dan kemudian ‘memeliharanya’ kembali dalam sebuah wadah seperti seni rupa.

Selain itu, ketika Dadang Christanto berpameran di Sangkring Art Space beberapa waktu yang lalu dengan tajuk ‘Seeing Java’, saat itu ada diskusi tentang kekaryaannya. Ada hal yang menarik yang menjadi konsentrasi diskusi yaitu masalah identitas. Jika tajuk pameran tersebut adalah Seeing Java, mengapa Dadang justru lebih menekankan kecinaannya?. Dan kata Dadang, dia lebih suka memakai kata Cina [kepada warga keturunan Tionghoa] dibanding memakai kata Tionghoa. Dengan maksud, lebih menekankan bahwa orang lebih mengingat kata Cina untuk tetap menjaga agar tidak terulang lagi perlakuan yang tidak pantas kepada warga keturunan ini. Saya setuju dengan pendapatnya itu.

Tapi ada hal yang justru lebih menohok kepada warga keturunan Tionghoa akan kata Cina, dibanding hanya mengingatkan warga pribumi. Yaitu suatu ketidaknyamanan karena kata tersebut lebih  ‘berjarak’ bila dibanding dengan kata Tionghoa. Jadi saya setuju dengan pemakaian kata Tionghoa karena lebih melebur, walau tidak bermaksud menanggalkan gen asal nenek moyang.

Bila kita menyimak di awal tulisan saya ini, tentang bagaimana orang-orang atau warga Tionghoa pada masanya memakai kata Tionghoa dalam organisasi olah raganya, tidak seperti halnya ketika kata tersebut berubah menjadi Cina. Memang pada masa pemerintahan Soekarno, kata Cina sudah terpakai, bahkan mungkin jauh sebelumnya, ketika imigran Cina [Tiongkok] masuk ke Indonesia. Dan pada masa pemerintahan Soekarno, bahasa, tulisan hingga kesenian Tionghoa sangat hidup. Namun sangat disayangkan ketika Soeharto memimpin Negara ini. Warga keturunan Tionghoa sangat terpasung. Semua atribut Tionghoa harus ditanggalkan. Masa perayaan Imlek atau sampai Cap Go Meh sepi dari keriuhan. Tanda atau tulisan kanji merek dagang harus dihapus. Warga Tionghoa sangat menderita dan kehilangan kemerdekaan berbudaya. Dari sinilah awal timbulnya gesekan di masyarakat hingga kata Cina lebih pas untuk penandaan rasial, bukan sebagai warga yang sudah berbaur sedemikian lamanya untuk menjadi orang Indonesia seutuhnya. Bila saya pikirkan, ada pula sisi positif dari strategi Orde Baru ini, bahwa ketika warga Tionghoa menanggalkan segala sesuatu yang melabelnya, orang Tionghoa siap ‘membumi’ dan tidak ekslusif [Toh.. kita sudah pasti tahu bahwa ‘gawan bayi’ pasti masih melekat].

Tentunya, statemen saya terakhir tadi sangat mengena bila kita menengok sebuah mentalitas pluralisme. Tiliklah Kiai haji Abdurrahman Wahid atau akrab disebut Gus Dur, bagaimana bapak bangsa kita ini menerapkan dan mengamini akan keberadaannya. Individu yang memiliki darah campuran akan bertutur sangat fasih dan enteng untuk menyatukan bangsa yang majemuk ini dalam wadah pluralisme. Akhirnya, seolah-olah Gus Dur adalah anti klimaks dari lengsernya Soeharto dengan rezim Orde Barunya. Dan semua menjadi hidup, barongsai yang begitu hebatnya sudah bisa kita lihat saat perayaan kebudayaan Tionghoa. Imlek sudah menjadi libur nasional. Dan atribut-atribut Tionghoa meramaikan tempat perbelanjaan, bahkan anak-anak Indonesia sudah memiliki pakaian [fashion] yang khas milik orang Tionghoa. Bila orang Tionghoa membagi-gikan angpao saat hari raya Imlek, demikian pula kaum muslim membagi-bagikan rezekinya kepada anak-anak saat Idul Fitri. Lalu masih khawtirkah kita, bila terjadi lagi masa suram seperti masa Orde Baru?. Maukah kita tetap memelihara trauma masa lalu yang menjadikan kita seperti orang paranoid hingga terjadi lagi gesekan sosial-budaya?. Tentu hal itu tidak menjadi obsesi bagi kita. Dengan tetap waspada dan menanam optimisme untuk bisa menjadi ‘pendekar’ Tionghoa bijak dengan tidak menutup diri meminjam ‘jurus’  kearifan lokal pribumi [Indonesia].

End.

———————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————-

Tgl. 8 Des. 012, jam 12.00 wib

Pak Dr. Irawan dan teman komunitas Yth.

1. Usia sejarah kemerdekaan Indonesia masih muda sekali, baru 67 tahun, sedangkan perjalanan ketatanegaraannya juga baru 62 tahun. ¹

Betul kata P. Dr. Irawan, ” Amerika ada hari ini bukan sudah langsung begini, tapi penuh perjuangan juga selama beratus tahun ”, karena itu mutu undang undang, penegakan hukum dan kondisi politik, ekonomi, sosial, hankamnas dll. di negara kita belum sebaik Amerika, ya wajar saja kan ..

2. Pemerintah dengan muatan negarawan dan politikusnya mau pun pemangku kepentingan di negara ini, dalam waktu 10 atau 20 thn. kedepan tidak akan bisa membawa negeri ini menjadi bumi pertiwi yang tertib, nyaman dan adil hukum plus adil kesejahteraan, sebagaimana seperti Amerika, Australia, Jepang dan negara maju di bilangan benua barat lainnya, namun kita bersama sebagai rakyatnya yang sejati wajib memperjuangkan cita cita tersebut sampai kapan pun.

Saya jadi teringat kata seorang Pendidik atau Pengajar Peranakan Tionghoa di dalam suatu seminar, dia lahir di Indonesia, WNI dan mengajar di Australia, menurut dia selama ini pemerintah Indonesia tidak dapat melindungi warganya dengan penegakan hukum yang serius dan sistim keamanan yang baik dan sinergi, hingga dia tidak merasakan rindu rumah ( HOME SICK atau HOME SWEET HOME ), berbeda di Australia yang bisa membuat dia rindu selalu, karena setiap citizen mendapat jaminan hak dan perlindungan keselamatan yang baik, yang tanggap dan bertanggung jawab dari pihak negara, waktu itu, saya tidak sempat menyampaikan pertanyaan kepada Pengajar tersebut ( moderator menyatakan waktunya habis dan seminar dinyatakan selesai ).

Dari sini, kita memperoleh empat jawaban :

a. Tidak tepat menyandingkan ( untuk membandingkan ) Indonesia dengan
Australia, menimbang berawal perbedaan perbedaan bentuk geografi,
jumlah penduduk, sistem tata kepemerintahan dan tata administratur
kenegaraan yang terwarisi dan yang terpaksa diwariskan,² sampai di
ujung kemampuan dan mentalitas warga yang terjajah dan penjajah.

b. Bilamana ada satu, dua atau puluhan ribu orang yang kesejahteraannya
berkecukupan, dan telah berpengalaman mengelana jauh ke negara maju
menjadikan mereka tidak Rindu Rumah Indonesia, namun tahukah Anda
berapa ratus juta rakyat Indonesia yang sangat Rindu Pada Rumah
Indonesianya.

c. Indonesia akan maju dan tangguh seperti yang diharap oleh para Intelektual /
Pengajar tersebut, bila lembaga pendidik sudah berperan untuk
mencerdaskan masyarakatnya dengan ukuran, mutu dan nilai pendidikannya
seperti negara maju yang digadang, namun itu membutuhkan rentang waktu
yang cukup panjang, dan proses tersebut sudah dimulai sejak enam tahun
yang lalu, semoga akan tercapai dalam 24 tahun kedepan,

d. Mengapa para Intelektual / Pengajar yang berada diluar negeri itu tidak
melakukan profesinya di Indonesia saja, memenuhi panggilan jiwa berbuat
lebih banyak untuk bangsa sendiri, akan dimuliakan dia sebagai insani
Indonesia pejuang, dari pada berujar dengan kata satirikal, namun tidak
konstruktif dan tidak berbuat sesuatu wujud yang guyub bagi bangsa dan
negeri ini.

3. Kita semua berharap Indonesia dapat menjunjung dan mengedepankan hukum
diatas segalanya, layaknya di Amerika atau Australia yang melaksanakan dengan konsekwen, Kesetaraan, anti Diskriminasi, Hate crime, Guilty by omission, dll.
Kita juga berharap Indonesia yang aman, damai, tertib, rukun, adil hukum plus
adil kesejahteraan dan semuanya yang baik, namun kalau negara belum berhasil
menggapai semuanya yang di ekspektasikan itu, terus bagaimana ?
Apakah akan lebih baik, jika kita pesimis saja dan membanding sembari
mencibir …

4. Sudah tepat dan benar bahwasanya asimilasi budaya tidak boleh dipaksakan,³
namun atas kesadaran, berlanjut –– menyadarkan –– dan terus bergetuk tular
untuk kemaslahatan anak turunan peranakan Tionghoa, mengapa tidak ?
Memang dapat diyakini menyebarkan kesadaran ini tidak mendatangkan Cuan
Lui bahkan Liao Lui, namun kalau demi baiknya anak keturunan kita, apakah
masih bertanya tanya mengapa di lakukan ?

Asimilasi budaya bertujuan untuk kemaslahatan anak, cucu keturunan
kita = peranakan Tionghoa di Indonesia, tidak harus menunggu negara dalam
kondisi good and clean government, setara, rukun, damai dan adil hukum plus
adil kesejahteraan, atau menanti setelah negara membuat undang undang dan
aparatur negaranya bersih dan bertanggung jawab melaksanakannya, menurut
hemat saya akan lebih waras, kalau sekarang juga kita sudah ( berkewajiban )
berjuang lebih dulu dengan itikad baik dan hati bersih untuk melakukan gerakan
kesadaran ini, semoga Anda Pak Dr. Irawan, Pak Tony S., Pak Gozali,
Pak Alex, Pak Hardy CHUNG, Pak Handoko, Pak Siang Hoa dan teman teman
Komunitas Peranakan Tionghoa mau mendukungnya dan Tuhan mengabulkan,
Amin.

Sekian, kalau ada yang salah mohon maafnya dan mengharap koreksi perbaikan.

Catatan kaki

1. 1945 / 46 Belanda dibantu sekutu ingin menjajah kembali Indonesia, namun rakyat Indonesia dan Tentara Nasional berbahu melawan, akhirnya Belanda dan Sekutu mundur, oleh sebab itu proses pelimpahan administratur ketata negaraan tereduksi / cacat oleh tidak relanya Belanda menyampaikan kemerdekaan bagi Indonesia secara tulus, disamping itu keterputusan dan rusaknya sistim administratur tersebut atas penjajahan Jepang selama 3 tahun.

2. Nasib Indonesia berbeda dengan nasib Malaya / Malaysia, Indonesia mendapat warisan sistim administratur ketata negaraan yang sengaja direduksi bahkan banyak bagian yang dirusak oleh Belanda; sedangkan Malaya mewarisi secara utuh bahkan lewat persiapan yang edukatif dan kaderisasi yang profesional oleh Inggris.

3. Tulisan ” Asimilasi Budaya ” merupakan esai yang berwacana pemikiran, manifestasi sikap berbangsa, sah saja penulis menggugah kesadaran warga Peranakan Tionghoa sebagai bagian anak bangsa atau anak negeri Indonesia, dan sepanjang tidak memakai cara kekerasan, pemaksaan, intimidasi dan aturan kasar yang dibuat untuk hal tersebut diatas, maka sudah dapat dipastikan tidak akan bersentuhan dengan undang undang HAM.

Best Regards

hendrotan

————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————

Kamis, 6 Desember, 2012 07:27

Pak Alex, dalam hal ini masalahnya beda dengan asimilasi. Adalah tugas negara untuk tidak membeda-bedakan warganya. Jika negara masih membeda-bedakan warganya, itu berarti negara belum sehat. Tidak ada hubungannya sama sekali dengan anjuran asimilasi. Justru ketika negara bisa mewadahi semua warganya, maka semua golongan, etnis, agama, suku bisa berkembang dan berinterasi secara setara. Dalam wadah yang seperti ini, saya yakin asimilasi secara organik akan terjadi.

Ketika negara memberi perlakuan beda kepada warga, maka konflik (belum tentu manifest) akan muncul dan akan menyulitkan terjadinya asimilasi secara organik. Dalam kondisi seperti tersebut, maka diperlukan kekuasaan (negara) untuk mendorong peleburan dua atau lebih budaya/etnis.

Handoko – Solo

End. 

Kamis, 6 Desember, 2012 07:51

Yth pak Alex dan pak Handoko, menurut saya asimilasi haruslah berjalan natural tidak boleh dipaksakan (karena ini termasuk hak asasi manusia) biarlah berjalan sealami mungkin. Seperti halnya para sesepuh kita ketika berimigrasi ke nusantara, mereka berasimilasi secara natural. Begitupun dengan agama harus berjalan natural. Jangan ada unsur pemaksaan untuk menerima atau memindahkan agama seseorang. Mengenai istilah pribumi dan non pribumi, setahu saya sejak pemerintahan Habibie sudah ada kepres yang menghapus istilah tersebut dalam hubungan civic. Sesungguhnya posisi dan kondisi warga Tionghoa saat ini sudah lebih baik dari pada saat pemerintahan Suharto. Salam TG

End.

Kamis, 6 Desember, 2012 08:46

Pak Alex melontarkan tuntutan kepada pemerintah atau penguasa mengenai adanya diskriminasi atau pembiaran diskriminasi. Dan Pak Handoko menyatakan asimilasi secara organik bisa terjadi dengan sendirinya kalau nuansa kesetaraan bisa diciptakan. Setidaknya begitulah pikiran singkat saya mengertikan pandangan dari kalian.

Nah sekarang kita sudah tahu pokok permasalahannya, jadi tinggal kemauan politik dari pemerintah atau penguasa untuk niat menjalankannya atau tidak.

Sebagai pembanding di negara kafir, disini ada undang2 anti diskrimiasi, dan pelaksanaanya juga ada. Jadi tidak semata hanya undang2 saja, tanpa pelaksanaan. Jadi barang siapa yang merasa didiskriminasi , dapat menuntut di pengadilan, bahkan kalau terbukti tuntutannya , orang itu bisa kaya karena dapat uang kompensasi, terutama kalau yang dituntut itu pemerintah. Di negara kafir ada anti hate crime, barang siapa kalau terbukti melakukan tindakan anarkhis dan setelah diusut ternyata karena hate crime , maka pemerintah selalu melakukan tindakan2 pengamanan, kalau tidak pemerintahnya atau penguasanya akan dituntut  dengan pasal pembiaran, guilty by omission.

Nah balik kepada negera beragama, ketika seorang pedangdut yang nyapres mengeluarkan kata2 yang memojokan pejabat dari etnis tertentu berdasarkan keethnisannya, dan pemerintah atau penguasa tidak mengambil tindakan apa2, maka ini bisa di golongkan sebagai guity by omission.

Jadi benar seperti yang dikatakan oleh Pak Tjandra Ghozali, bahwa asimilasi tidak dapat dipaksakan, mungkin dihimbaukan juga tidak perlu sama sekali. Karena kawin mawin dengan siapa saja tidak perlu diatur, yang penting suasananya harus kondusif. Bakal kawin sendiri. Pokoknya kalau cakep hatinya baik dan punya lui lah, maka dengan sendirinya gampang kawin kemana saja. Tapi sekarang tambah lagi satu pesyaratannya yaitu musti perawan , kata Bupati Garut “Aceng” .

salam,

Dr.Irawan.

End.

Kamis, 6 Desember, 2012 09:13

Teman-teman semua,

Sangat menarik diskusi mengenai topik ini. Kalau saya pribadi, saya memilih untuk tidak mempermasalahkan “asimilasi”, “integrasi”, dsb.

Kenapa saya berpikir demikian? Saya mengambil dalam lingkup kalangan etnis Tionghoa saja. Ada yang merasa lebih nyaman dengan ke-Peranakan-annya, ada yang lebih nyaman dengan ke-Totok-annya, ada yang lebih nyaman dengan ke-Hokkian-annya, ke-Tiociu-annya, dsb. Ada golongan Tionghoa yang merasa lebih atau bahkan paling Tionghoa dibandingkan dengan golongan Tionghoa yang lain. Di sini saja kita melihat sesama etnis Tionghoa pun ada perbedaan persepsi, pemahaman, kenyamanan dan pemikiran. Contoh saja: INTI, PSMTI, ASPERTINA, siapa yang paling Tionghoa? Siapa yang paling Indonesia? Dalam nama masing-masing organisasi tsb jelas ada kata INDONESIA’nya dan juga TIONGHOA’nya.

Tidak bisa golongan yang merasa Totok memaksakan pemikirannya ke yang Peranakan. Sebaliknya, yang Peranakan tidak bisa memaksakan pemikirannya ke golongan lain. Ini sama persis dengan etnis Tionghoa secara kesatuan dipandang di dalam negara Republik Indonesia ini. Ada yang kawin campur, ada yang beda agama, ada yang memeluk Islam, Katholik, Kristen, Buddha, Khong Hu Cu, Tri Dharma, dsb, dsb. Apakah kemudian yang memilih menikah dengan sesama Tionghoa, menjalankan ajaran Khong Hu Cu – bersembahyang di altar leluhur itu “lebih Tionghoa” dan tidak mau berinteraksi, tidak mau berintegrasi/berasimilasi dibandingkan dengan seorang Tionghoa yang memeluk Islam, menikah dengan etnis non Tionghoa?
Saya memilih untuk tidak mempermasalahkan integrasi, asimilasi, dsb, dsb, karena menurut saya, adalah hak setiap individu untuk menemukan identitas dan jati diri yang paling nyaman untuk dirinya dan keluarganya. Tentu saja yang paling nyaman dan pas menurut satu orang pasti berbeda dengan orang lain.

Saya lebih memilih untuk mencoba menuliskan artikel, mengumpulkan kepingan budaya Tionghoa, baik yang Peranakan ataupun masih dari sana untuk dirangkum dalam artikel-artikel sehingga paling tidak dapat meninggalkan sedikit catatan sepele remeh temeh untuk anak-anak saya, sukur-sukur dibaca masyarakat luas juga. Untuk itu saya memilih untuk mendirikan dan mengelola satu website yang berisi ratusan artikel saya dan ribuan artikel kontributor lain yang tersebar di seluruh dunia. Pak Handoko dan pak Tjandra adalah 2 dari sekian ratus kontributor. Saya memilih untuk tidak membahas dan menulis masalah-masalah yang menurut saya sudah berlalu dan tidak bisa kita tarik mundur lagi. Saya ingin menatap ke depan dan meninggalkan sedikit oret-oret untuk generasi mendatang.

Demikian urun rembug saya. Terima kasih untuk perhatiannya.

salam hormat,
Aji

End

——————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————–

Pengirim : +62852456XXXXX ( tidak bernama )

Tgl. 26 jam 17.46, 17.57, 18.13 dan tgl. 27  jam 11.15 , Nov. 2012

  1. Saya adl keturunan China yg kebetulan tinggal diindonesia, bukan keturunan pribumi yg kebetulan berparas oriental. Spt keturunan2 dari bangsa lainnya yg jg tinggal diindo, saya tdk melalaikan kewajiban yg dituntut oleh pemerintah. Yakni menaati hukum dan membayar pajak dsbnya. Stlh membaca tulisanmu ttg asimilasi budaya, saya sama sekali tdk paham dgn maksud anda. Bisakah anda memberikan bbrp contoh yg lbh spesifik dlm prakteknya? Mnrt saya.. selama asimilasi itu tdk bertentangan dgn keyakinan individual maka tdk akan menjadi mslh, tp jika ada unsur2 yg melanggar keyakinan seseorg maka itu sulit dilakukan. Saya jg menilai anda terlalu mengada2 alias lebay dgn menanyakan keberadaan warga tionghoa dihari pahlawan, emang seharusnya tionghoa hrs dimana n ngapain? Apakah semua etnis n suku sudah berkumpul n hny menyisakan tionghoa aja yg absen? Apakah ada libur nasional dihari itu sbg penunjang kehadiran kami?
  2. Tuduhan narsis thd etnis tionghoa adl tidak tepat! Saya tdk meliat dan merasa ada unsur2 narsis dlm keengganan berasimilasi, melainkan lbh merujuk ke ciri khas dan jati diri setiap suku tanpa terkecuali. Etnis apapun yg tinggal dinegeri lain jg tak mgkn melakukan asimilasi budaya selama itu dinilai melanggar keyakinan mereka ataupun penghapus jati diri mereka. Apakah org eropa, timur tengah dan indo sendiri bisa/mau berasimilasi ketika mereka tinggal dinegeri china???
  3. Jadilah org bijak.. jgn terus menerus membuat propaganda yg dapat menciptakan pandangan negatif org lain thd sekelompok minoritas. Asimilasi sudah dilakukan oleh tionghoa2 surabaya, bahkan tampang2 org china benteng yg sudah tak dpt lg dibedakan dgn pribumi, lalu apa yg mrk dapat??? Pepatah bijak.. ibarat duren yg wangi, tak perlu teriak2 utk menjualnya. Dari jarak kiloan meter bisa tercium. Himbauan anda sudah mulai menyentuh H.A.M. dan yg pasti adl sama sekali tdk bergaransi dan memiliki jaminan apapun. Jadi jika anda merasa itu adl baik, maka lakukan saja! Kami akan mengikuti jika suatu saat itu memang terbukti baik. Gitu aja koq repot?
  4. Gak perlu baca yg lain dl, saya Cuma mau tanya.. Mnrtmu budaya tionghoa mana saja yg perlu diasimilasi? Caranya? Bisa berikan bbrp contoh yg lbh spesifik agar saya paham?

End.

Jawaban Kepada  +62852456XXXXX ( tidak bernama )

Tgl. 1 Des. 2012  jam 19.00 wib

Ini bukan kali pertama saya menerima tanggapan berisi pertanyaan-pertanyaan bernada “kompor mleduk” dari Anda. Karena itu, demi kemaslahatan forum publik TUKAR PENDAPAT ini—di mana setiap orang yang ikut serta berdiskusi secara elegan mencantum identitas atau nama—maka saya ingin pastikan bahwa jawaban saya atas tanggapan Anda kali ini, akan menjadi kali penghabisan, kecuali jika Anda secara kesatria mau menyebut identitas atau nama Anda, sebagaimana yang dilakukan peserta lainnya dalam media TUKAR PENDAPAT ini.

Dengan begitu, tanggapan atau pertanyaan Anda akan berkedudukan sebagai salah satu suara publik yang bertanggung-jawab—bukan sejenis kiriman “surat kaleng” kepada orang yang beda pendapat dengan Anda.

Atas ketetapan itu, saya ingin meringkas pendapat saya sebagai jawaban kepada serenteng tanggapan atau pertanyaan Anda. Mengapa demikian? Saya tegaskan bahwa TUKAR PENDAPAT ini merupakan ikhtiar bersama anak-bangsa Indonesia untuk memahami persoalan-persoalan eksistensial, identitas, dan kesadaran kebangsaan di kalangan peranakan Tionghoa sebagai penduduk dan warga negara ( CITIZEN )-bangsa di republik ini.

Sayangnya, ternyata, sebagaimana pengakuan Anda, Anda adalah “keturunan China yang kebetulan tinggal di Indonesia.” Dan “spt keturunan-keturunan dari bangsa lainnya yang tinggal diindo,” Anda “tidak melalaikan kewajiban yang dituntut oleh pemerintah. Yakni menaati hukum dan membayar pajak dsb.”

Namun demikian, pengakuan itu justru membuat saya bisa mengerti mengapa Anda begitu ofensif terhadap pendapat-pendapat saya—utamanya yang berkenaan dengan asimilasi budaya di kalangan peranakan Tionghoa di Indonesia.

Rupanya, Anda adalah sejenis ekspatriat yang hidup nyaman di negeri ini. Aneh bin ajaibnya, dengan kenyamanan itu, Anda justru merasa terusik dengan pemahaman yang membangkitkan kesadaran kebangsaan Indonesia di kalangan peranakan Tionghoa di republik ini.

Baiklah saya tegaskan bahwa peranakan Tionghoa di Indonesia bukanlah kaum ekspatriat. Mereka adalah anak-bangsa Indonesia, yang akar sejarahnya dan sumber identitasnya, berasal dari negeri ini dan menghujam di bumi negeri ini. Karena itulah sudah seharusnya peranakan Tionghoa mencintai dan mengabdi HANYA untuk bangsa ini, tanah air ini—INDONESIA, titik.

Dengan begitu, peranakan Tionghoa di republik ini dapat sepenuhnya menunjukkan eksistensinya sebagai anak-bangsa Indonesia seutuhnya—bukan ekspatriat atau “orang asing yang tidak asing” di negeri ini. Itu sebabnya, jika masih ada peranakan Tionghoa yang berperilaku atau bermental ekspatriat ( HOA KIAU atau totok ), maka sudah sewajarnya diingatkan akan fitrahnya sebagai anak-bangsa Indonesia sejati.

Dengan saling ingat dan mengingatkan, saya yakin, peranakan Tionghoa di republik ini akan mampu merawat kesadaran dirinya sebagai anak-bangsa Indonesia seutuhnya. Dengan kesadaran itu, hemat saya, jejak dan langkah peranakan Tionghoa di Indonesia akan senantiasa berada dalam naungan hikmat penuh kebijaksanaan dari jiwa bangsa ini—yaitu PANCASILA. Perlu diketahui, PANCASILA merupakan dasar utama atau pijakan paling penting dari gagasan-gagasan saya tentang asimilasi budaya.

Saya ingin sekali menjabarkannya secara panjang lebar di sini. Tapi, mengingat status Anda, saya pikir, penjabaran itu lebih penting saya publikasikan kepada sesama anak-bangsa Indonesia—terutama mereka yang peranakan Tionghoa.

Akhir kata, tujuan saya dengan asimilasi budaya jelas—yaitu mencari hikmah jiwa bangsa Indonesia di kalangan peranakan Tionghoa untuk menumbuh-suburkan kesadaran kebangsaan, sebagai anak-bangsa Indonesia seutuhnya melalui dialog kemanusiaan, perdamaian, dan persaudaraan.

Pada  bulan  Januari akan diterbitkan tulisan bertema ASIMILASI BUDAYA DAN PELAKSANAANNYA, sekian.

Tgl. 1 Desember 2012

hendrotan

End.

————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————

Jawaban kepada Bp. Hardy Chung ( lanjutan )

Tgl. 1 Des. 012, jam 13.15 wib
Yth. Teman teman di Komunitas Peranakan Tionghoa,
Menyabung tulisan tgl. 26 Nov. 012., maaf, terlambat satu hari ( seharusnya tgl. 30 Nov. )

Dalam kesempatan ini saya ingin menyambung respon saya atas pendapat Pak Hardy CHUNG tentang “pengertian budaya” yang berkaitan dengan “kebutuhan primer manusia”—yaitu “sandang, papan, pangan” yang memiliki implikasi pada “keyakinan dan pelaksanaan masing-masing pribadi” manusia. Seturut pendapat Pak Hardy CHUNG, implikasi itu berupa pemahaman dan pengamalan “haram” yang bisa jadi berbeda, tapi juga bisa jadi sama, di antara para pemeluk agama yang pusparagam.

Pada hemat saya, dari pendapat Pak Hardy CHUNG itu masih bisa ditambahkan ihwal argumen di balik pemahaman dan pengamalan “haram”. Pasalnya, argumen itulah sejatinya yang menuntun pemahaman dan pengamalan “haram” dalam kehidupan harian setiap pemeluk agama. Argumen itu, dalam bahasa keagamaan, berasal dari kitab suci masing-masing. Islam dan Yahudi, misalnya, sama-sama mengharamkan babi, tapi sangat mungkin itu dituntun oleh argumen keagamaan yang berbeda.

Dengan kata lain, pengamalan atas “haram”—apa pun itu—bisa saja sama, tapi itu tidak lantas menunjukkan pemahaman yang sama pula di antara pemeluk agama. Sebaliknya pun demikian. Pengamal vegeterian bisa jadi adalah orang-orang yang berasal dari pemeluk agama yang berbeda, tapi mereka mungkin memiliki pemahaman yang sama dalam hal mengonsumi daging sebagai makanan yang haram.

Satu hal lagi, bahwa babi bukanlah satu-satunya hal yang diharamkan dalam Islam. Sebutlah, misalnya, alkohol dan judi—yang juga diharamkan dalam Islam. Demikian pula dengan Yahudi bukanlah sebuah agama yang dimonopoli oleh Israel saja. Bahkan di Iran pun ada penganut Yahudi.

Dengan keterangan itu, saya ingin meneruskan respon saya atas pendapat Pak Hardy CHUNG, tentang asimilasi budaya dan hak asasi manusia. Bagi saya, asimilasi budaya penting, sebagai jalan budaya yang strategis, bagi peranakan Tionghoa untuk mengada tanpa hentinya, pengakuan sebagai anak bangsa di Indonesia—terutama yang berkenaan dengan harkat dan martabatnya sebagai warga negara-bangsa. Dengan asimilasi budaya, hemat saya, tersedia kemungkinan bagi peranakan Tionghoa di Indonesia, untuk mengikis diskriminasi sosial-politik yang menginjak-injak hak asasi manusia.

Saya tahu, istilah “asimilasi” masih terdengar traumatis di telinga para peranakan Tionghoa di Indonesia. Pasalnya, “asimilasi” itu berkenaan dengan proyek politik sebuah rezim yang ingin mengerangkeng peranakan Tionghoa di Indonesia sebagai semacam “kambing hitam” politik dan “sapi perahan” ekonomi.

Tapi, harap diketahui, sebagaimana telah saya jelaskan dalam tulisan saya di blog http://www.hendrotanhendro.wordpress.com, pemahaman saya atas “asimilasi” berbeda dengan pemahaman “asimilasi” rezim Orde Baru. Tegasnya, pemahaman saya atas “asimilasi” ditopang oleh kesadaran sejarah sebagai anak-bangsa Indonesia dan penghormatan kepada hak asasi manusia dengan cara damai dan anti kekerasan.

Itu sebabnya kenapa saya lebih suka menyebutnya sebagai “asimilasi budaya”—yaitu penyatuan dalam keberagaman hasil cipta, karsa, dan karya peranakan Tionghoa sebagai sebuah pengamalan budaya Indonesia seutuhnya.
Sekian, kalau keterangan dan pemahaman saya ini ada yang salah, diharap maafnya dan sudi kiranya di perbaiki.

hendrotan.

End.

—————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————–

Jawaban kepada Bp. Tony S

Tgl. 1 Des. 012, jam 12.00 wib

Pak Tony S yang baik,

Cerita Anda menghadiri pernikahan anak kolega Anda itu, mengingatkan saya pada cerita Yap Thiam Hien ketika menikahkan anak sulungnya, Yap Hong Gie, dengan perempuan Jawa bernama Tetty Kintarti, pada Juli 1988.

Cerita itu saya baca dalam buku Leo Suryadinata, “Mencari Identitas Nasional: Dari Tjoe Bou San Sampai Yap Thiam Hien” (Jakarta: LP3ES, 1990, halaman 202. Buku ini diterbitkan ulang oleh Komunitas Bambu, Jakarta, dengan judul “Tokoh Tionghoa dan Identitas Indonesia: Dari Tjoe Bou San Sampai Yap Thiam Hien”, pada Maret 2010).

Diceritakan: “Dalam acara resepsi di Gedung Serbaguna Gelora Senayan, Jakarta, kedua mempelai mengenakan pakaian adat Jawa bergaya Solo—demikian pula Yap. Ini mengejutkan banyak orang (mengapa harus terkejut ? ), padahal ini tidak berlawanan dengan keyakinan Yap. Ia tidak anti-kawin campur atau asimilasi, kalau ini berdasarkan kesukarelaan. Hak asasi manusia itulah yang dijunjungnya, kiranya Yap telah menitipkan pesan secara edukatif pada peranakan Tionghoa, khususnya yang mengaku berjiwa Indonesia, padahal sesungguhnya mereka masih totokisme.”

Dengan kutipan cerita itu, saya ingin mengambil hikmah, bahwa berbeda dengan kolega Anda yang sekedar modifikasi—Yap menjalankannya dengan kesadaran. Tentulah Anda ingat bahwa Yap adalah seorang anggota pendiri BAPERKI yang berpaham “integrasi”. Kendati demikian, dengan kesadaran sejarahnya, Yap adalah seorang pengamal “asimilasi” yang “berdasarkan kesukarelaan” dan penjunjungan atas hak asasi manusia.

Dengan hikmah itu, saya ingin menggarisbawahi bahwa “asimilasi” dalam pemahaman saya bukan sebuah proyek politik sebagaimana pada jaman orba, melainkan sebuah “jalan budaya” yang memungkinkan peranakan Tionghoa dengan sukarela mengukuhkan eksistensinya sebagai anak-bangsa Indonesia seutuhnya.

Best Regards

hendrotan

End.

—————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————

Jawaban kepada Bp. Hardy Chung

Tgl. 26 Nov. 2012, jam 16.00 wib
Yth. Teman teman di Komunitas Peranakan Tionghoa,
Pernyataan-pernyataan Pak Hardy CHUNG—terutama ihwal Cheng Ho “yang memiliki jasa terbesar dalam penyebaran agama islam di kawasan ini (southeast asia) dgn pelayaran 7 kali ke 30 negara lebih pada tahun 1405”—, menarik untuk dijawab lebih lanjut, karena hal tersebut berkenaan dengan apa yang disebut oleh banyak sejarawan dengan “historisitas dan mitos Cheng Ho”.

Menimbang hal tersebut, selama beberapa hari belakangan ini, saya mencoba melacaknya dengan membaca sejumlah buku sejarah tentang Cheng Ho. Ternyata, pernyataan Pak Hardy Chung tersebut tersurat dalam buku “Cheng Ho: Penyebar Islam dari China ke Nusantara” (Jakarta: Kompas, 2010) karya Tan Ta Sen, Presiden International Zheng He Society dan Direktur Cheng Ho Cultural Museum.

Namun demikian, jika kita baca buku tersebut secara seksama, maka kita akan temukan penjelasan bahwa “Cheng Ho memanfaatkan Islam sebagai tempat berkumpul yang menyatukan orang China Perantauan. Kunjungannya tidak hanya meningkatkan status sosial orang-orang China Muslim mazhab Hanafi, tetapi juga mendorong lebih banyak orang China untuk memeluk Islam” (halaman 276-277).

Penjelasan itu, hemat saya, menunjukkan pengertian bahwa sejatinya Cheng Ho melaksanakan penyebaran agama Islam “hanya” untuk orang atau komunitas China Perantauan, khususnya yang ada di Asia Tenggara, pada masa itu. Pengertian ini, sejalan dengan buku “Malay Annals of Semarang and Cerebon” yang dikutip Tan Ta Sen—yang menyatakan bahwa “Cheng Ho banyak membantu dalam menyebarkan Islam di kalangan komunitas-komunitas China di Kepulauan Melayu. Dia memperkenalkan sistem administrasi yang lebih baik untuk mengatur orang-orang China Muslim di komunitas-komunitas China Perantauan di Jawa dan Sumatera” (halaman 276).
Karena itulah, persoalan misi dan penyebaran agama Islam oleh Cheng Ho tak menjadi perhatian penting banyak sejarawan, alih-alih masih merupakan pokok soal perdebatan. Bahkan Tan Ta Sen sendiri menegaskan hal itu sebagai semacam “pesan tersirat yang tidak dinyatakan” (halaman 24) dalam ekspedisi Cheng Ho dari 1405 sampai 1433 (ada juga sejarawan yang menyatakan sampai 1453).

Ternyata, hal itu berkenaan dengan kedaulatan politik di Nusantara dan Asia Tenggara. Maksudnya, jika Cheng Ho melakukan penyebaran agama Islam secara terang-terangan, maka itu sama saja dengan melakukan intervensi politik-keagamaan di suatu wilayah atau kerajaan yang dikunjunginya.

Kita bisa mengonfirmasi pernyataan tersebut dengan pernyataan bernada skeptis dua sejarawan terkemuka Belanda, H.J. de Graff dan Th. G. Th Pigeaud, dalam buku “Cina Muslim di Jawa Abad XV dan XVI: Antara Historisitas dan Mitos” (Yogyakarta: Tiara Wacana, 2004, halaman 146), ini: “ Penting untuk dicatat bahwa ekspedisi Cheng Ho pada awal abad ke-15 bukanlah contoh pertama intervensi Cina dalam urusan kerajaan Jawa “.

Sampai di sini timbul pertanyaan: apa sesungguhnya misi ekspedisi Cheng Ho itu ?

Ternyata, hal itu pun masih menjadi perdebatan di antara para pakar dan sejarawan. Pendapat ini merujuk kepada tulisan jurnalis Frank Viviano “Armada Akbar Cina” (National Geographic Indonesia, Juli 2005, halaman 28-51). Kata Frank, “Alasan sebenarnya di balik pelayaran Cheng Ho masih menjadi perdebatan hangat para pakar. Sedangkan para sejarawan berpendapat alasannya adalah perdagangan, penggunaan kekuasaan untuk mengancam negara-negara lain, pertahanan militer, dan bahkan rasa tidak aman dalam diri Zhu De (Kaisar Ming—Red.), yang khawatir kemenakannya, yaitu kaisar sebelumnya yang digulingkannya telah melarikan diri ke luar negeri. Cheng Ho, menurut teori itu, dikirim untuk memburu pendahulu Zhu itu” (halaman 38).

Namun demikian, Frank berkesimpulan: “Tampaknya tidak ada penjelasan yang lebih memuaskan tentang alasan pelayaran itu, selain kerinduan akan ketertiban setelah satu abad selalu mengalami kekerasan yang tiada tara—kerinduan tentang adanya masa depan yang lebih pasti, dan penemuan kawasan lain yang berlawanan dengan kekacauan itu” (halaman 38-39).

Kesimpulan Frank tersebut sejalan dengan pendapat sejarawan Bernard H.M. Vlekke. Dalam bukunya, “Nusantara: Sejarah Indonesia” (Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia, 2008, halaman 90-91), Vlekke menyatakan: “Pada 1368, Cina terbebas dari Dinasti Mongol—dan 14 tahun kemudian imperium itu sepenuhnya dipulihkan dibawah kaisar pertama Dinasti Ming. Dinasti Ming memulai pemerintahan dengan kebijakan ekspansi yang jelas di perairan Selatan, meneruskan karya Kublai Khan agung. Duta-duta dikirim ke Champa dan Kamboja, ke Malaya dan Indonesia untuk meminta penyerahan dan permintaan itu didorong oleh armada yang kuat.”

Dengan armada yang kuat—terutama yang dipimpin oleh Cheng Ho, Dinasti Ming beroleh pengakuan kekuasaan di kawasan Asia Tenggara. Satu di antaranya dari kerajaan Malaka, sebagaimana dikemukakan sejarawan M.C. Ricklefs dalam bukunya “Sejarah Indonesia Modern 1200-2004” (Jakarta: Serambi, 2005, halaman 57-58), berikut ini: “Ancaman utama bagi Malaka sejak awal adalah Siam, tetapi Malaka sudah minta dan mendapat perlindungan Cina sejak tahun 1405. Setelah itu, Malaka berulang kali mengirim duta-dutanya ke Cina, yang di dalamnya tiga orang raja yang pertama ikut serta, sedangkan armada-armada Cina secara besar-besaran mengunjungi Malaka di bawah pimpinan Admiral Dinasti Ming bernama Zheng He (Cheng Ho), yang terus berlanjut sampai 1434. Perlindungan Cina yang nyata ini telah membantu Malaka berdiri kokoh.”

Atas pengakuan terhadap armada Cheng Ho, terbukalah pintu perdangangan yang sangat menguntungkan bagi Dinasti Ming. Karena itu, menjadi bisa dimengerti jika sejarawan Anthony Reid dalam buku “Asia Tenggara dalam Kurun Niaga 1450-1680, Jilid 2: Jaringan Perdagangan Global” (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2011) menyebutnya sebagai simbol “zaman perdagangan” Asia Tenggara pada awal abad ke-15. Katanya, “Jika ada masa yang harus disimbolkan untuk permulaan “zaman perdagangan Asia Tenggara, misi perdagangan negara yang pertama di bawah pimpinan si kasim Laksamana Zheng He pada tahun 1405, adalah simbol yang paling cocok” (halaman 16).

Pernyataan Reid tersebut ditegaskan oleh sejarawan Denys Lombard dalam bukunya “Nusa Jawa: Silang Budaya, Bagian II: Jaringan Asia” (Jakarta: Gramedia, 2005, halaman 30), sebagai berikut: “Ketujuh pelayaran besar armada Laksamana Zheng He (Cheng Ho) dari 1405 sampai 1453, ke arah pelabuhan-pelabuhan Nusantara dan samudera Hindia, sampai Srilanka, Quicon, Kocin, Kalikat, Ormuz, Jeddah, Mogadiscio dan Malindi—membuktikan minat pemerintahan raja-raja Ming pertama, khususnya minat Kaisar Yongle, terhadap perniagaan besar, dan bagian yang tetap dipegang oleh kaum Muslim dalam perniagaan itu.”

Sampai di sini, pelacakan dan pembacaan saya atas “historisitas dan mitos” tentang ekspedisi Cheng Ho, terutama yang berkaitan dengan misinya dalam penyebaran agama Islam, berakhir dengan kesimpulan sementara, sebagaimana pernyataan Tan Ta Sen, berikut ini: “Di bawah pengarahan dan dukungan Cheng Ho, komunitas-komunitas China Muslim menyebar pesat di pelabuhan-pelabuhan pesisir Jawa, tetapi momentum ini terhenti ketika Cheng Ho wafat pada 1433. Kematiannya juga mengakhiri fase China dari komunitas-komunitas China Muslim mazhab Hanafi dan dimulainya fase lokalisasi” (halaman 278).

Dengan demikian, hemat saya, sangat mungkin Cheng Ho menjalankan misi penyembaran agama Islam dalam ekspedisinya, tapi itu tidak lantas berarti dia yang memiliki jasa terbesar dalam penyebaran agama islam di kawasan ini (southeast asia) dgn pelayaran 7 kali ke 30 negara lebih pada tahun 1405—sebagaimana yang dinyatakan Pak Hardy CHUNG.
Semoga bermanfaat untuk membuka pelacakan atau penelitian yang lebih luas dan mendalam lagi.
Bersambung ––––
*Tulisan berikutnya akan diposting tgl. 30 Nov. 2012

hendrotan

End.

MENGOMENTARI :

TULISAN TEMA    ” ASIMILASI BUDAYA : JALAN BUDAYA MENJADI INDONESIA SEUTUHNYA  ”, Oleh hendrotan

Kamis, 22 November, 2012 07:30

Sekalipun sering tak menyetujui beberapa pandangan pandangan saudara Hendro Tan , silakan sdr. Hendro Tan tetap menulis pandangan pandangan saudara, agar pemahaman kita menjadi lebih berimbang – bhineka pendapat amat diperlukan , tanpa perlu ngotot memaksakannya , karena masing masing mempuyai pemikirannya sendiri , untuk pembaca seperti menjadi pedoman para ahli kungfu ” just absorb what is useful” (seraplah hanya yang dianggap berguna}, seperti saat saya mohon penghentian debat dengan sdr. Beni Bevly yang sebagai ahli taekwondo pasti mengenal adagium ini . Sayang sekali sdr. Hendro Tan kurang sekali memuat tulisan tulisan perihal seni lukis misalnya dan karya karya pelukis Tionghoa – topik yang saya percaya amat saudara kuasai untuk menambah khazanah pemikiran.
Maaf karena kesibukan , sekalipun terlambat sehari (mestinya 21 November bukan ?), saya ucapkan selamat ulang tahun kepada sdr. Hendro Tan dan ikut bersulang dengan anggur kesukaan saudara (rahasia – jadi tidak saya beritahu, atau mungkin khawatir keliru, karena banyak yang saudara sukai).

Ansano (Christine Widagdyo)

End.

Kamis, 22 November, 2012 08:22

Negara kita negara demokratis dimana setiap warga boleh menyatakan pendapatnya dengan bebas selama tidak menghina dalam bentuk SARA. Dengan demikian pendapat yg beragam bagaikan bunga yang berwarna warni yg lebih indah dari bunga satu warna. Salam TG

End.

Kamis, 22 November, 2012 13:18

DI INDONESIA, SAMPAI HARI INI MENGAPA MASIH ADA SEBAGIAN WARGA TIONGHOA KETURUNAN YANG TAKUT, SALAH MENGERTI, BAHKAN TRAUMA PADA ASIMILASI ? SEDANGKAN DI FILIPINA DAN THAILAND, ASIMILASI BERHASIL MENGANTARKAN KEDUA NEGARA ITU, SEHINGGA TIDAK MENGENAL LAGI DISKRIMINASI RASIAL TERHADAP TIONGHOA.

Pak Hendrotan yb,

Pada paragraf into anda sangat menarik sekali, dan menggelitik saya untuk berkomentar. Ada kata “Mengapa takut , dan sedangkan….”.

Saya selalu memikirkan sesuatu dengan kata Mengapa ? Dari situ kita cari , dan ketemu mengapa?  lagi dan seterusnya, lama-lama akhirnya dekat juga dengan pokok permasalahannya. Seringkali kita menjadi tersesat melenceng tanpa arah, padahal kita masih jauh dari pokok permasalahamnya. Meskipun saya harus akui tidak selamanya kita bisa menggapai pokok permasalahannya. Tapi kalau sudah mendekati itu juga sudah bagus, dari pada kesasar terlalu jauh.

Baiklah saya kembali ke intinya. Mengapa orang Tionghoa di Indonesia harus takut dengan asimilasi. Kami yang di Amerika rasanya tidak ada phenomena itu. Mengapa ?  Kami di Amerika tidak perlu membahas asimilasi, kami tidak perlu mempertanyakan bagaimana kami selaku imigran memposisikan diri terhadap Amerika. Sebagai kebanyakan Tionghoa asal Indonesia disini, kami kalau disuruh berpihak harus kemana ? Jawabannya adalah, selaku warga negera Amerika tentu saja kami berpihak kepada Amerika, lalu option berikutnya setelah Amerika , kami memastikan diri berpihak kepada Indonesia , baru option ketiga kami berpihak ke Tiongkok. Ini adalah jawaban sejujurnya dari mayoritas kalangan Tionghoa asal Indonesia yang pernah saya survey. Saya rasa ini masuk akal dan memang seharusnya begitu.

Walaupun kami tidak lahir di Amerika, tapi kenapa kami committ mengabdi kepada Amerika ? Mungkin karena undang2 negera Amerika menjamin hak dan keselamatan warga negaranya secara setara. Jadi disini sumbernya ada di negara, bukan semata-mata ada di sekelompok orang atau etnis.

Kita lihat sejarah di kamp intenir orang Jepang di Amerika. Dulunya orang Jepang sudah dianggap orang Amerika. Tapi gara2 Pearl Harbor di bom oleh Dai Nippon, Maka pemerintah Amerika tidak mau ambil resiko, maka semua warga keturunan Jepang dimasukan ke kamp, tapi tetap mereka di beri sarana yang memadai. Setelah urusan selesai mereka menjadi warga negara biasa lagi. Orang Jepang di Amerika juga mengerti.

Ketika suatu hari saya mendengarkan siaran radio bahasa entah Mandarin atau cantonese, disana juga dibahas. Kalau anak2 mereka (Tionghoa) menjadi prajurit Amerika, dan tiba2 Amerika berperang dengan RRT. Mereka harus bagaimana ? Banyak jawaban spontan yang berbunyi; ” Kalau kita sudah jadi warga negera Amerika tentu saja kita harus bela Amerika”. simple as that !

Jadi kesimpulan saya kuncinya sebenarnya ada di undang2 negara dan pelaksanaan undang2 oleh aparatur negara.

Nah sekarang apa solusinya?  BTW Sekarang orang Indonesia kalau ngomong sudah mulai pinter, mereka selalu tanyakan : “Kalu geto , apa solusinya dong ?”  kata2 ini saya sering dengar kalau ada diskusi2 di Konsulat RI.

Solusinya gampang saja, yaitu rakyat harus menyuarakan ketidak beresan negara , dan menuntut negara agar mengaturnya lebih baik, dan kalau nggak becus , suruh turun , atau jangan dipilih lagi. Kalau ada rakyat yang pinter dan berpotensi, jangan ragu2 ajukan diri menjadi pengurus negara. Macamnya Ahok dan Jokowi , dan Dahlan Iskan. Mereka itu dulunya juga rakyat biasa ‘kan ? Karena mereka merasa terpanggil , maka mereka mengabdikan diirnya untuk negara.

Buat rakyat yang kurang berpotensi dan kurang pinter, tapi mempunyai kepedulian terhadap Indonesia yang lebih baik, maka jadilah pendukung2 nya.

Amerika ada hari ini bukan sudah langsung begini, tapi penuh perjuangan juga. selama beratus tahun.

Semoga berguna, dan mudah2an ada kawan2 lainnya lagi yang kasih tambahan, agar Indonesia menjadi lebih baik.

salam,

Dr.Irawan.

End.

Kamis, 22 November, 2012 13:51

Selamat siang pak Dr Irawan n all. Menurut saya justru konsep asimilasi di Indo yg harus dipertanyakan.. ? Mengapa dalam ber-asimilasi masyarakat Tionghoa harus melepaskan segala akribut budayanya ? Termasuk nama dan marga ? Saya ingat ketika tahun 70an dan saya jadi korban kepres, yg mana WNA tidak diperbolehkan sekolah di sekolah2 swasta. Begitu pula ketika saya sudah WNI pada saat anak2 saya lahir dan mau mengurus akte lahir, nama marga tetep tidak diperbolehkan dicantumkan. Nah…… dengan hal hal seperti inilah yg membuat kita kita seolah olah adalah WNI kelas 2 sehingga hak hak kita sebagai Warganegara dibatasi. Namun rasanya kita tidak perlu memperpanjang serta menangisi masalalu keTionghoaan kita karena, bukankah semenjak reformasi hak hak kita sebagai warga negara sudah dipulihkan ? Sayapun sependapat dengan pak Dr kalau ditanya siapa yg akan dibela kalau suatu ketika Indonesia berperang dengan Tiongkok ? Sebagai warganegara yg baik saya sudah seharusnya membela negara kita sendiri ketimbang Tiongkok, karena Tiongkok adalah negara leluhur bukan lagi tumpah darah saya. bong_felix

End.

Jumat, 23 November, 2012 00:43

Jawaban baba Bob Jokiman meningatkan saya bahwa dahulu para leluhur kita yang datang dari Tiongkok kebanyakan menikah dengan perempuan Bali. Contoh yg paling gamblang adalah Souw Beng Kong kapiten Tionghoa pertama di Batavia mengawini wanita Bali. Tadinya saya berpikir kalau wanita Bali lebih cantik dari wanita Jawa atau Sunda ternyata salah. Mereka mengawini wanita Bali karena sama sama menyukai babi sebagai lauk makanan. Untuk wanita Jawa dan Sunda mereka mendapat hambatan kesulitan makan babi. Di masa penjajahan pengaruh agama tidak sekuat sekarang. Umumnya mereka yang mengawini wanÍta Jawa atau Sunda tetap berbeda agama. Sang suami beragama Sam Kauw sedang sang isteri beragama Islam abangan. Keturunan mereka yang lelaki mengikuti tradisi sang ayah yang beragama Sam Kauw sedang yang perempuan mengikuti tradisi garis ibu campur ayah – sembahyang pakai hio juga pakai pendupaan (ukupan) serta berbaju kebaya sarung batik. Di zaman sekarang bukan tidak ada asimilasi. Cukup banyak di gereja Protestan dan Katolik para muda mudi menikah lintas suku dan ethnis. Umumnya orang Tionghoa menikah dengan orang Batak atau Manado. Salah seorang keponakan saya (perempuan) menikah dengan pemuda Batak baru2 ini. Memang kalau seandainya satu agama maka proses asimilasi lebih cepat lagi seperti di kota Manado (salah satu kota bebas peristiwa Mei 98). Salam TG

End.

Jumat, 23 November, 2012 01:15

Hahahaha … Om Bob hebat membabarkan sesuatu, terima kasih om.

Mohon ijin utk menambahkan sesuatu ya Om:

1. Yang memiliki jasa terbesar dalam penyebaran agama islam di kawasan ini (southeast asia) adalah Cheng Ho dgn pelayaran 7 kali ke 30 negara lebih pada tahun 1405. Berarti Tionghoa tdk anti-muslim. (Bahkan byk muslim Tionghoa diseluruh dunia). Jadi masalah agama tdk ada masalah dan tdk ada hubungan pada komunitas Tionghoa dimanapun berada.

2. Pengertian budaya adalah kebiasaan manusia yg dijalankan secara turun temurun yg menjadi bagian dari satu komunal. Kebiasaan manusia yg bisa kita pisahkan pada kebutuhan premier: sandang, papan dan pangan. Pagan yg merupakan kebutuhan pokok manusia, tdk terlepas pada kehidupan sehari-hari. Ada ajaran yg mengharamkan semua makluk hidup (buddha), di islam haram hanya pada babi, hindu haram pada sapi, taoisme juga haram sama sapi, kristen tdk tahu apakah ada yg haram atau tdk !!! … Masing-masing memiliki pemahaman yg diletakan pada keyakinan dan pelaksanaan masing2 pribadi. Haram mkn babi bkn monopoli ajaran islam, yahudi (israel) adalah bangsa yg pertama haram makan babi sebelum ajaran islam…dan byk tionghoa yg justru mengharamkan semua jenis daging (vegetarian) … (Jadi mohon maaf teori om Bob aku patahkan)

3. Apakah hrs ada asimilasi budaya? Aku rasa jika ini ada berarti sdh bisa dilaporkan pada komnas HAM. Pelanggaran HAM berat. Tapi apa yg terjadi, tionghoa diseluruh dunia begitu msk ke suatu lingkungan akan beradaptasi dgn lingkungan lokal. Tionghoa jawa memakai batik, tionghoa madura, tionghoa bali dll … Semuanya rata-rata meninggalkan jejak budaya hybrid yg tdk bisa dipisahkan pada kehidupan sosial bermasyarakat. Tapi jika ada organisasi, agama, kelompok, institusi, tokoh yang menyerukan asimilasi budaya apalagi pemaksaan jelas-jelas itu sdh pelanggaran HAM berat. Termsk policy pengunaan nama Indonesia dan menghilangkan nama Chinese … Itu sdh pelanggaran HAM …

Khamsia dan mohon maaf jika ada yg keliru, mohon pencerahannya …
Hardy CHUNG

End.

Jumat, 23 November, 2012 07:53

1. Yang memiliki jasa terbesar dalam penyebaran agama islam di kawasan ini (southeast asia) adalah Cheng Ho dgn pelayaran 7 kali ke 30 negara lebih pada tahun 1405. Berarti Tionghoa tdk anti-muslim. (Bahkan byk muslim Tionghoa diseluruh dunia). Jadi masalah agama tdk ada masalah dan tdk ada hubungan pada komunitas Tionghoa dimanapun berada.

=======================

Engko Hardy yang pandai dan cerdas;  sungguh luar biasa anda ini, dua jempol deh untuk uraiannya.

Engko owe almarhum adalah tokoh PITI juga, Tionghoa masuk Islam tidak haram.

Namun yang menjadi sorotan owe, mungkin skop lebih sempit, maklum bukan pakar seperti engko Hardy.

Yaitu asimilasi melalui pernikahan yang owe maksud alot, bukan banyak-nya English,

tapi alotnya orang Jawa

2. Pengertian budaya adalah kebiasaan manusia yg dijalankan secara turun temurun yg menjadi bagian dari satu komunal. Kebiasaan manusia yg bisa kita pisahkan pada kebutuhan premier: sandang, papan dan pangan. Pagan yg merupakan kebutuhan pokok manusia, tdk terlepas pada kehidupan sehari-hari. Ada ajaran yg mengharamkan semua makluk hidup (buddha), di islam haram hanya pada babi, hindu haram pada sapi, taoisme juga haram sama sapi, kristen tdk tahu apakah ada yg haram atau tdk !!! … Masing-masing memiliki pemahaman yg diletakan pada keyakinan dan pelaksanaan masing2 pribadi. Haram mkn babi bkn monopoli ajaran islam, yahudi (israel) adalah bangsa yg pertama haram makan babi sebelum ajaran islam…dan byk tionghoa yg justru mengharamkan semua jenis daging (vegetarian) … (Jadi mohon maaf teori om Bob aku patahkan)

=============

Anda betul sekali siapa yang bisa bantah. Teori owe bukan hanya patah malah  hancur…

Namun konteks pertanyaan: “MENGAPA MASIH ADA SEBAGIAN WARGA TIONGHOA KETURUNAN YANG TAKUT, SALAH MENGERTI, BAHKAN TRAUMA PADA ASIMILASI ? SEDANGKAN DI FILIPINA DAN THAILAND, ASIMILASI BERHASIL MENGANTARKAN KEDUA NEGARA ITU, SEHINGGA TIDAK MENGENAL LAGI DISKRIMINASI RASIAL TERHADAP  TIONGHOA. ” Rasanya belum tuntas, seperti orang makan bakso tanpa sambel, pasti kurang sedaaap

3. Apakah hrs ada asimilasi budaya? Aku rasa jika ini ada berarti sdh bisa dilaporkan pada komnas HAM. Pelanggaran HAM berat. Tapi apa yg terjadi, tionghoa diseluruh dunia begitu msk ke suatu lingkungan akan beradaptasi dgn lingkungan lokal. Tionghoa jawa memakai batik, tionghoa madura, tionghoa bali dll … Semuanya rata-rata meninggalkan jejak budaya hybrid yg tdk bisa dipisahkan pada kehidupan sosial bermasyarakat. Tapi jika ada organisasi, agama, kelompok, institusi, tokoh yang menyerukan asimilasi budaya apalagi pemaksaan jelas-jelas itu sdh pelanggaran HAM berat. Termsk policy pengunaan nama Indonesia dan menghilangkan nama Chinese … Itu sdh pelanggaran HAM …

==============

Ayo siapa mau jadi pelopor melaporkan  Pemerintah ORBA yang dengan PP “memaksa” keturunan Tionghoa ganti nama di tahun 60an ke Komisi HAM/DPR? Bagaimana kalo usilin,  ehhh salah usulin  Basuki Tjahaja Purnama pake saja nama aslinya  Zhong Wan Xie sebagai Wagub DKI Jakarta, apakah kira2 ia mau dan sekaligus jadi Ketua Panitia Penuntutan Pelanggaran HAM ke DPR? Hitung2 sebagai hadiah Natal/Tahun baru untuk kaum Tionghoa Peranakan? Kalo perlu demo, seperti kaum buruh dan PRT ke Balaikota, owe mau ikut jika kebetulan ada di Jakarta.

BJ

End.

Jumat, 23 November, 2012 13:09

Setahu saya memang peranan orang China dalam penyebaran agama Islam di Jawa sangat besar. Mereka yang datang ke Nusantara khususnya Jawa saat itu kebanyakan beragama Islam dari mahzab Hanafi (bukan hanya Ceng Ho).
Saat saya jalan-jalan ke Yunan, saya bertemu dengan banyak suku Hui yang beragama Islam. Mereka berjilbab dan menjalankan syariat dengan baik. Restoran Muslim di Kunming dan kota-kota lain di Yunan sangat banyak.
Beberapa tulisan saya ini semoga membantu kita memahami bahwa China tidak anti Islam:

http://baltyra.com/2011/05/12/dasar-china-4-habis-catatan-perjalanan-ke-dongwang/

http://baltyra.com/2010/10/12/mengunjungi-tanah-leluhur-bagian-3-perjalanan-ke-wu-jing/

Hadoko Widagdo

End.

Jumat, 23 November, 2012 13:33

Pak Tjandra; Pak Ansano & Pak Hendro Tan Yth;

Minggu lalu saya diundang oleh seorang dokter yang menikahkan puteranya di Bidakara; Mereka pakai pakaian Adat Betawi  .- Ketika saya tanya : Apa pernikahan itu mengikuti Adat Peranakan Betawi atau adat lainnya ??

Ternyata setelah beliau menjelaskan : Dengan adanya banyak ASUPAN – acara itu adalah MODIFIKASI – walau  Pakaian ADAT digunakan oleh Orang Tua laki & Perempuan – Sang Pengantin pakai Pakaian Pengantin yang JUGA DI MODIFIKASI !

Saya akan meminta agar tayangan YOUTUBE nya dapat di EDIT dan dikumpulkan – agar memperkaya koleksi MUSEUM Cheng Ho yang lagi disiapkan oleh kelompok khusus tsb !

Ttg istilah ASIMILASI etc – mungkin Pak Hendro dapat baca2 buku2 jaman Pak Sindhunata/ LPKB agar tahu : Jaman itu yang disebut ASIMILASI itu apa ? dan kenapa BERSEBERANGAN dengan Konsep BAPERKI (Siauw Giok Tjhan Cs yang dituduh dekat dengan PKI; namun sampai saat inipun TIDAK PERNAH ada Keputusan Pengadilan yang menyalahkan BAPERKI tsb lho ! yang  membawa konsep INTEGRASI ! <Baca bukunya Siauw Tiong Djien

– Mudah2an Sumbang Saran saya jangan sampai memperuncingkan lagi PERBEDAAN MASA LALU !

Karena itu; bagi siapa saja yang ingin mendalami masalah BUDAYA – sebaiknya banyak mendalami Pertentangan2 akibat Politik : DEVIDE ET IMPERA nya para Penjajah – dan siap utk bersatu demi Masa Depan INDONESIA yang kita cintai Bersama !

Semoga;

Salam Hormat;

Tony S

End.

TAMAN BUDAYA YANG DI IMPOR DARI TIONGKOK

DISKUSI KEBANGSAAN

Menanggapi tulisan Sdri Unaifah TAMAN BUDAYA YANG DIIMPOR DARI TIONGKOK.

From: Jumadi>juma_adi@yahoo.com< Submitted on 2012/11/11 at 5:02 am

Membaca tulisan Taman Budaya yang di impor, saya jadi tergerak untuk ikut berkomentar, pada dasarnya saya sebagai anak bangsa yang kebetulan terlahir sebagai orang Jawa yang tinggal di Jakarta, menjadi sangat terganggu dengan adanya TBTI, yang saya yakini tidak mewakili keinginan sebagian besar teman teman saya tersebut.

Saya sangat setuju dengan penulis Unaifah, tentang bagaimana seharusnya membuat museum yang akan mempresentasikan budaya peranakan cina, yang sudah ratusan tahun hidup di Indonesia, semisal, bagaimana pengaruh seni budaya cina mempengaruhi seni budaya betawi dan daerah lain, demikian pula sebaliknya, daripada harus menampilkan budaya mitos.

Sun Go Kong, Sampek Engtay…biarlah menjadi cerita film, komik, ataupun ludruk / ketoprak karena memang disitulah areanya..tidak seharusnya hal yang bersifat mitos ditampilkan di museum yang tugasnya memberikan gambaran utuh, tentang kiprah warga peranakan cina di Indonesia ( meski sebenarnya saya tdk suka dengan istilah peranakan cina, karena pergaulan saya dengan teman teman cina saya, tak sekalipun diperlukan menyentuh hal itu karena saya merasa mereka Indonesia ). Kalau museum TBTI menampilkan sejarah dan kebudayaan peranakan cina yang sudah berasimilasi terhadap budaya lokal. Alangkah indahnya.

Yang jadi pertanyaan, apakah dalam membangun museum tersebut, tidak melibatkan para pakar sejarah yang sarat disiplin ilmu yang lebih lazim di sebut kurator, agar tujuan membangun museum tepat sasaran dan bermuatan nilai edukasi, yang akan memberi pemahaman yang sebenar-benarnya, tentang kiprah tokoh tokoh warga peranakan cina yang berjasa pada bumi Pertiwi di Nusantara ini atau bangunan heritage peranakan cina dari Sabang sampai Merauke.

Kiranya pembangunan ini sebuah gambaran kesombongan sekelompok pengusaha, yang kebetulan kaya raya dengan berani beraninya memakai kata BUDAYA TIONGHOA INDONESIA, tapi dengan membabi buta meng impor budaya mitos dari Negara Cina. Jadi menurut saya, pengelola Museum TBTI perlu di ingatkan, bahwa mereka itu mendirikan bangunan museum dan konstruksi olah pikirnya diatas tubuh bumi pertiwi kita.

Semoga saja dengan tulisan ini dapat menggugah pengelola TBTI sampai siuman, jika impor budaya Cina, disini tidak akan cocok, sebab yang kamu pijak adalah bumi INDONESIA, bukan RRC, jika pengelola TBTI terus saja ngotot dengan niatnya yang tidak masuk akal, kami sebagai warga pribumi akan terus mengkritisi hal ini, juga saya yakin banyak warga peranakan cina yang merasa tidak nyaman terhadap adanya TBTI yang kecina cinaan.

PERANAKAN CINA ADALAH ORANG INDONESIA DAN SAUDARA SEKANDUNG DARI IBU PERTIWI KAMI, TENTU SELAMA KALIAN MAU MENJADI INDONESIA SEJATINYA, LUR ( DULUR ).

Sekian

Wassalam
Jumadi.

End.

———————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————-

TAMAN BUDAYA YANG DI IMPOR DARI TIONGKOK

DISKUSI KEBANGSAAN
Dari : 081808XXXXX
Tgl. 6 Nov. 2012 jam 15.25

Siang ICAS,

Saya sangat setuju dengan tulisan kritik pada pengelola TBTI, menurut saya masalah itu terjadi karena :

1. Sepeninggal tokoh budayawan Onghokham yang berjiwa Indonesia seutuhnya, pengamatan saya dinegeri ini belum tampil budayawan keturunan Tionghoa yang berbobot sebagai penerusnya, sesungguhnya ini dibutuhkan bagi warga keturunan Tionghoa, agar dapat meluruskan pemahamannya pada makna kebangsaan.

2. Kini yang tampak berperan adalah ratusan pengusaha keturunan Tionghoa yang kaya raya, pada umumnya dibenak mereka bertujuan cari “Cuan” belaka, kemudian beromantika dengan budaya impornya dari Tiongkok.

3. Pemerintah kita yang seharusnya berkebijakan mempertahankan kelestarian budaya adat daerah sebagai harga diri bangsa, malahan ( beberapa pejabatnya ) terkesan menjual diri demi “Cuan”.

Mudah-mudahan gerakan kesadaran berbudaya pada Indonesia seutuhnya yang dilakukan oleh ICAS dapat memberi pencerahan, sehingga kita sadar bahwa kita adalah bangsa Indonesia, Tionghoa hanyalah cover background yang memperindah, juga tembus pandang, tetapi jiwa kita adalah jiwa Indonesia dan itu tidak bisa terbeli sekali pun dengan China YUAN.
Peranakan Tionghoa dari kota Malang, Jatim.
End.

—————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————-

TAMAN BUDAYA YANG DI IMPOR DARI TIONGKOK

DISKUSI KEBANGSAAN

dari :  6285232XXXXX

Tgl. 4 nov. 2012 jam 11.00

1. Pada saat persahabatan kedua rakyat Indonesia dan Tiongkok sedang baik, dan
Pemerintah Indonesia memberikan kesempatan yang sama untuk berkiprah
tanpa menghiraukan perbedaan Etnis, membangkit-bangkitkan perpecahan dan
memperbesar kecurigaan adalah sangat-sangat tidak bijaksana. Suasana
kondusif ini hendaknya jangan diganggu. Lebih aneh lagi bila inisiator dari
gangguan dan pemecah belahan datang dari etnis Tionghoa sendiri. Rakyat dan
negara Indonesia sendiri sekarang sudah toleran dan menerima kebudayaan
Tionghoa sebagai bagian dari kebudayaan Indonesia. kemungkinan ribut-ribut
ini sengaja dibangkitkan oleh orang tertentu yang membawakan misi khusus
dari negara Asing yang tidak suka dengan persahabatan erat kedua bangsa dan
negara. Sudah makin nyata bahwa selain mungkin membawakan misi khusus
dari negara asing juga disini pemikiran gaya Orde Baru kembali ingin disajikan
lagi, yaitu “Asimilasi, penghilangan paksa budaya Tionghoa”.

2. Kini kita sudah bukan saatnya lagi mempersoalkan keberadaan dan jati diri suku
Tionghoa di Indonesia. Sekarang saatnya bagi seluruh rakyat Indonesia dari
berbagai suku untuk bersatu, bekerja dan berjuang untuk mencapai “
Masyarakat Adil dan Makmur “ yang kita cita-citakan bersama. Lihatlah di DKI
Jakarta, suku Jawa dan suku Tionghoa, bekerjasama dengan sangat baiknya
sebagai Gubernur dan wakilnya. Merisaukan keberadaan suku Tionghoa di
Indonesia saat ini tentu mempunyai motif-motif tertentu.

End

TAMAN BUDAYA YANG DI IMPOR DARI TIONGKOK

Jawaban Kepada 6285232XXXXX

Tgl. 4 nov. 2012 jam 11.00

Para Pencari Hikmah yang Kritis

Pembaca yang Budiman,

Sejak Agustus lalu, PUSAT STUDI KESADARAN KEBANGSAAN INDONESIA =  INDONESIAN CITIZENSHIP AWARENESS STUDY CENTRE  dengan singkatan “ ICAS ” meluncurkan blog indonesiaseutuhnya.wordpress.com ini sebagai forum dikusi publik tentang kebangsaan dan keindonesiaan dalam segala dimensinya, terutama dimensi budaya peranakan Tionghoa di Indonesia.

Kami yang berhimpun dalam PUSAT STUDI KESADARAN KEBANGSAAN INDONESIA adalah anak-bangsa Indonesia dari lintas generasi, profesi, suku, dan agama. Kami mengundang dan mengajak para cendekiawan, peneliti, dan peminat kebudayaan dari latar belakang pendidikan, keyakinan, dan etnis yang beragam untuk berdiskusi dan menuliskan pemikiran mereka mengenai dimensi tersebut dengan pendekatan kritis, argumentasi bernas, dan sumber data yang dapat dipertanggung jawabkan secara intelektual.

Dengan begitu, mengamalkan pendapat sastrawan Pramoedya Ananta Toer, kami ingin berlaku jujur dan adil sejak dalam pikiran sehingga dapat menegakkan wibawa kebenaran yang tegas-tegas menolak segala hal yang bersifat pribadi, sentimen, dan demagogi.

Karena itulah sungguh menggelikan jika muncul anggapan bahwa PUSAT STUDI KESADARAN KEBANGSAAN INDONESIA dan blog http://www.indonesiaseutuhnya.wordpress.com ini adalah “forum untuk membangkitkan perpecahan” dan “memperbesar kecurigaan” terhadap warga keturunan Tionghoa dengan “pemikiran gaya Orde Baru” yang diprakarsai oleh “orang tertentu yang membawakan misi khusus negara asing yang tidak suka dengan persahabatan kedua bangsa dan negara” (Tiongkok dan Indonesia—Red.).

Namun demikian, kami telah mafhum bahwa anggapan tersebut harus ditanggapi dengan kepala dingin dan hati bersih, sehingga kecurigaan dan tudingan tak mendasar yang terkandung di dalamnya dapat bermanfaat sebagai hikmah diskusi yang memungkinkan kami tetap berlaku kritis, sebagaimana pembaca yang budiman dapat buktikan sendiri dalam tulisan-tulisan yang dimuat di blog http://www.indonesiaseutuhnya.wordpress.com ini.

Dengan demikian, kami merasa tak perlu bersilat lidah dengan berlarat-larat dalam menanggapi sangkaan bergaya telik sandi semacam itu. Selanjutnya, sebagaimana yang menjadi ikhtiar kami, forum ini hendak selalu mengedepankan apa yang disebut Romo Y.B. Mangunwijaya sebagai misi “para pencari hikmah yang kritis”, yaitu menegaskan dan meluaskan cita-cita asimilasi budaya untuk menjadi Indonesia seutuhnya melalui pertukaran pemikiran yang menghargai puspa ragam sudut pandang dan harkat-martabat kemanusiaan yang satu dalam keberagaman dengan kritis—bukan politis, apalagi rasis.

Akhir kata, perlu disampaikan  himpunan ini bersifat / karakter nirlaba.

Tanggal 5 Nov. 2012 jam 19.07

Salam dan regards,

Sekretariat

PUSAT STUDI KESADARAN KEBANGSAAN INDONESIA

INDONESIAN CITIZENSHIP AWARENESS STUDY CENTRE

“ ICAS ”

 

 

End.

HOMPIMPA

DIKUSI KEBANGSAAN

From: Iskandar Hamzah <hamzahisk@yahoo.com>;
To: <hendrotan888@yahoo.com>;
Subject: tanggapan atas jawaban Anda
Sent: Wed, Nov 14, 2012 12:16:40 PM

Pak Hendrotan yang baik,-

Ada beberapa hal yang saya merasa perlu untuk menanggapi atas jawaban terakhir Anda dalam forum Tukar Pendapat Kebangsaan.
Di Tiongkok ada pula berbagai suku yang berasal dari “Luar” seperti yang bapak katakan tetapi toh tetap diakui dan disebut sebagai salah satu sukunya Tiongkok. Suku Thai di Sishuangpana misalnya, suku Korea di Yenpien, suku Mongol. Anda juga belum mengulas tentang suku Kurdi yang saya sebutkan dalam jawaban yang lalu itu.

Kini kita telah diakui sebagai salah satu suku bangsa Indonesia, ini adalah hal yang sangat baik, artinya masalah pengakuan etnis Tionghoa sebagai bangsa Indonesia selesailah sudah. Tetapi Pak Hendrotan dengan mengemukakan berbagai alasan antara lain masalah teritori, masalah berasal dari “Luar” dan lain-lain, tidak setuju.
Kalau begitu bagaimana yang menurut Pak Hendrotan penyelesaian yang realistis ?

Tentang berasal dari “luar”, apakah pak Hendrotan tidak pernah mempelajari Sejarah Indonesia, dimana dikatakan Bangsa Indonesia semuanya juga berasal dari “Luar” yang selama berabad-abad lamanya bermigrasi ke kepulauan Nusantara dari Hindia Belakang, dari teluk Tonkin di Vietnam dlsb. Perbedaannya hanyalah soal kurun waktu saja, siapa yang lebih dulu dan siapa yang belakangan. Berdasarkan ilmu Anthropologi, Bangsa Indonesia, Melayu, Thai, dan Tionghoa termasuk satu golongan Ras, yaitu Ras Mongoloid.

Pada akhirnya, saya ingin menanggapi anjuran Bapak yaitu, bila ingin diakui sebagai salah satu suku Bangsa Indonesia, sebaiknya membeli saja salah satu pulau di Nan Sha Jin Dao (Kepulauan Spratley) dan bermukim disana. Walaupun anjuran nyeleneh ini bisa dianggap sebagai guyon, karena kehabisan jawaban, tidakkah anjuran itu sama saja dengan “mengusir” suku Tionghoa untuk kembali ke wilayah RRT, karena Nan Sha Jin Dao adalah wilayah Tiongkok ? Kok aneh ya ?

Sekian tanggapan saya, terima kasih.

Wassalam.

Iskandar Hamzah

End.

HOMPIMPA

Jawaban kepada : Iskandar Hamzah hamzahisk@yahoo.com
Tanggal, 14 November 2012, Jam 12:16 PM

Pak Iskandar Yth.

Menjawab tulisan Anda sebagai berikut :

1. Kepulauan Spratly  ( Nan Sha Jin Dao ) terbelit sengketa
kepemilikan oleh RRC dan negara Asean, beberapa negara Asean antara lain
Malaysia, Brunei dan Philipina saling klaim sebagai empunya. Karena itu,
kalau Anda berminat membeli ( untuk legitimasi sebagai Suku Tionghoa
Indonesia ) harus menunggu dulu negara mana sebagai pemiliknya yang sah …
Don’t worry pak, tidak terlintas dipikiran ini, agar Anda terusir balik ke negeri Tiongkok.

2. Menurut Anda warga keturunan Tionghoa telah mendapat pengakuan sebagai
suku Tionghoa Indonesia ; kapan diakui sebagai suku ? oleh siapa ? dan
berdasarkan undang undang dan peraturan yang mana ?
Karena itu, menurut hemat saya, kita warga keturunan Tionghoa sebaiknya
menjadi warga suku di tempat kelahirannya dan mau bergaul intens dengan
warga pribumi di sekitarnya.

3. Kajian Anda pada disiplin ilmu antropologi bertumpu dibagian yang mana, Pak ?.
Menurut saya, seharusnya Anda memakai antropologi budaya dan etnologi
sembari mendalami literatur di Museum Manusia Purba Sangiran, Sragen,
Jateng.

Menurut pengetahuan saya pada ilmu antropologi budaya + hukum, etnologi
dan sosiologi bahwa suku bangsa di Indonesia, selain sang empunya teritorial / wilayah turun temurun pada alam dan sumber dayanya, bumi dan pemandangan indahnya, sumber air dan udara komunitas tersebut, juga sebagai lambang peradaban budaya, kearifan adat, ingatan, kekerabatan, sikap, relasi sosial dan sejarah integritas komunitas tersebut. Karena itu, saya tegaskan sekali lagi pengesahan / mengesahkan SUKU bagi warga keturunan bangsa pendatang asing merupakan persoalan besar dan luar biasa bagi kedaulatan bangsa dan negara Indonesia, maka harus melewati pertimbangan yang benar – benar matang oleh tokoh masyarakat, Pemerintah dan para wakil rakyat di DPR.

4. Sebagian warga keturunan Tionghoa rancu mengidentifikasi dirinya, itu
berpangkal dari kesalahan memahami kontek kebangsaan, kemudian keterusan
berlindung pada alasan keragaman, hingga kian sulit menyadari esensi
kebudayaan Indonesia sejatinya, jadilah mereka peminggul setia Culture Of
The Other.

Karena itu, dibutuhkan semangat untuk mengabarkan kebenaran dan keadilan
oleh orang macam saya dan Anda, semoga bisa merekahkan kesadaran bagi
semua warga keturunan Tionghoa.

SEMOGA DENGAN REKAHNYA KESADARAN KITA DAPAT
MELAMPAUI PENCITERAAN, MENGELAK DARI HAL YANG
SENSASIONAL ( KEBOHONGAN DAN KEDUNGUAN ), MENYENTUH
YANG ESENSIAL ( KEJUJURAN DAN KECERDASAN ), AMIN.
Terima kasih.

Tanggal 17 Nov. 2012, Jam 14.00
hendrotan

End

———————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————

HOMPIMPA

DISKUSI KEBANGSAAN

From: Iskandar Hamzah <hamzahisk@yahoo.com>
Subject: Jawaban atas jawaban Anda
To: hendrotan888@yahoo.com
Date: Thursday, November 8, 2012, 6:51 PM

Pak Hendrotan yang baik,

Pendapat Anda bahwa untuk menjadi suatu suku harus mempunyai Territori tertentu pada  hemat saya agaknya kurang tepat.

Di Tiongkok ada suatu suku yaitu suku Hakka atau dalam bahasa Mandarin disebut Khe Jia Ren  atau kita kenal dengan suku Khek.   Mereka bermukim tersebar diberbagai propinsi seperti Fukien, Guangdong (Meisien), Sichuan dsb.  Namun disebut suatu suku karena mereka telah bermigrasi dari suatu daerah di Utara, Sungai Kuning, mempunyai bahasa dialek yang sama dan mempunyai kebiasaan yang sama.

Suku Kurdi, ada di Iraq, di Turki, bahkan di Eropa, mereka tidak mempunyai territori tertentu, tetapi tetap disebut Suku Kurdi.

Untuk disebut suku, bisa karena berasal dari keturunan yang sama, atau mempunyai kebiasaan dan adat istiadat yang sama.  Etnis Tionghoa di Indonesia, dimanapun berada, suku lain tetap mengenali dan menyebut mereka sebagai orang Tionghoa atau orang Cina.

Jadi pengakuan itu telah diberikan secara alamiah walaupun belum disahkan oleh MPR/DPR.   Saya rasa tidak ada satu suku pun di Indonesia yang pernah disahkan secara resmi oleh DPR/MPR.  Masyarakat mengenali dan menyebut mereka begitu saja.

End.

HOMPIMPA

Jawaban kepada : Iskandar Hamzah hamzahisk@yahoo.com
Tanggal, 8 November 2012, Jam 6:51 pm

Pak Iskandar Yth.

Menjawab Anda sebagai berikut :

1. Kalau pun warga Hakka disebut suku, menurut pengamatan saya,
itu dikarenakan mereka serumpun HAN ( di Tiongkok ) dan sama sama orang Tionghoanya.

2. Sedangkan kaum kita, BERASAL ORANG ASING DARI TIONGKOK yang hijrah atau bertransmigrasi ke Nan Yang Jin Dao, Kepulauan di Samudra Selatan antara lain Philipina, Malaya, Sarawak, Kalimantan Utara, Papua Nugini dan Nusantara = Indonesia, dan kita adalah keturunannya dinamakan keturunan Tionghoa.

Oleh karena itu, bila kaum kita keturunan Tionghoa ingin diakui menjadi SUKU di Indonesia harus memiliki teritorial / wilayah yang dikukuhkan oleh Pemerintah, DPR dan Tokoh Masyarakat.
( Tentu saja, teritorial tidak dapat diartikan sebagai hak guna usaha pada perkebunan kelapa sawit kan ? ! )

Namun, kalau masih ada saja yang berhasrat menjadi suku Tionghoa Indonesia, sebaiknya membeli salah satu pulau di Nam Sha Jin Dao (Paracel dan Spratley) untuk legitimasi teritorialnya, gimana setuju ya ?

Terima kasih.

Tanggal 9 Nov. 2012, Jam 17.00
hendrotan

End.

——————————————————————————————————————————————————————————————————–

HOMPIMPA

DISKUSI KEBANGSAAN

From: Iskandar Hamzah <hamzahisk@yahoo.com>
Subject: Tulisan Hompimpa
To: hendrotan888@yahoo.com
Date: Monday, October 29, 2012, 7:26 PM

Pak Hendrotan yang baik,

Persoalan kebangsaan bagi Suku Tionghoa Indonesia sudah hampir final. Keadaan saat ini sangatlah baik bagi bangsa Indonesia dalam kaitannya dengan suku Tionghoa.

1. Dengan di Amandemen nya UUD 45 dimana kata “Asli” telah dihilangkan maka hak dan
kewajiban semua Warga Negara Indonesia berdasarkan Hukum telah disamakan.

2. Dikeluarkannya berbagai peraturan Per-Undang-undangan yang menghilangkan berbagai
peraturan yang membedakan suatu golongan Warga Negara dari yang lain. -UU No. 39 th. 1999
tentang Hak Azazi Manusia -UU No 12 th. 2006 tentang Kewarganegaraan Republik Indonesia –
UU No 23 th 2006 tentang Administrasi Kependudukan -UU No 42 th 2008 tentang Pemilihan
Umum Presiden dan Wakil Presiden _UU No. 40 th. 2008 tentang Penghapusan Diskriminasi
Ras dan Etnis

Maka berdasarkan Undang-Undang kedudukan Warga Negara Republik Indonesia Etnis Tionghoa adalah sama dengan Warga Negara yang lain.

Bagi mereka yang lahir di Indonesia, kewarganegaraan nya cukup dibuktikan dengan KTP, dan Surat Bukti Kewarganegaraan Republik Indonesia TIDAK diperlukan lagi.

Maka sebagai reaksi dari kesemuanya itu suasana hati Etnis Tionghoa pada umumnya adalah merasa ikut memiliki Tanah Air Indonesia seutuhnya, dan siap berjuang sebatas kemampuan mereka untuk membangun dan membela bangsa dan negara Indonesia.

Haruslah dicatat, bahwa keadaan ini tidaklah dicapai dengan mudah, melainkan telah melalui proses panjang dan perjuangan yang berliku-liku sesuai dialektika zaman.

Adalah kewajiban kita untuk memberikan informasi dan menyebar luaskannya kepada seluruh Etnis Tionghoa yang belum mengetahui hal ini, karena mereka pun berlatar belakang Sosial dan pendidikan yang berbeda-beda.

Sejarah memberi pelajaran kepada kita, bahwa ada Aksi ada Reaksi. Cara-cara Orde Baru yang melakukan berbagai pemaksaan berdasarkan kecurigaan dan kebencian Etnis malah akan memberikan hasil yang sebaliknya. Bukannya makin membaur, Etnis Tionghoa yang ketakutan karena ditekan oleh Rezim pada waktu itu malah menutup diri, dan bersikap Apatis, kecuali beberapa Konglomerat yang ber kolusi dengan Rezim Orde Baru demi keuntungan pribadi.

Kesimpulannya adalah, kini lembaran baru telah dimulai, masa lalu yang kelam tetap dijadikan pelajaran untuk tidak diulangi lagi, Suku Tionghoa Indonesia bersama-sama dengan Rakyat Indonesia yang luas berjuang dan bekerja bersama untuk membangun Indonesia Raya yang jaya !

End.

HOMPOMPA

Jawaban kepada : Iskandar Hamzah hamzahisk@yahoo.com
Tanggal, 29 October 2012, Jam 7.26 PM
Dengan hormat,

1. Undang Undang yang Anda sebutkan, sudah ada di buku berjudul SEMANGAT PERJUANGAN PERANAKAN IDEALIS karangan Prasetyadji yang diterbitkan oleh Forum Komunikasi Kesatuan Bangsa dan beberapa buku yang memuat tentang Undang Undang kenegaraan lainnya, walaupun tak mengurangi penghargaan pada maksud baik Anda menjelaskan hal tsb.

2. Di Indonesia tidak ada Suku Tionghoa dan tidak akan pernah ada, karena persyaratan menjadi suku harus memiliki TERITORIAL yang diakui oleh Negara. ( Pemerintah, DPR dan tokoh masyarakat, yang selanjutnya dikukuhkan oleh Undang Undang )
Baca tulisan saya yang bertema Kepala Yang Terbelah di blog www.hendrotanhendro.wordpress.com

Terima kasih

Tanggal 6 Nov. 2012, Jam 18.46
hendrotan

End

——————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————

HOMPIMPA

DISKUSI KEBANGSAAN

PANEL KEEMPAT dari 08123XXXXX

Tgl. 01 Nov. 2012 jam 12.39

Selamat malam saudara2ku.

Ruang diskusi ini menurut hemat sy betul2 bagus utk ditindaklanjuti, karena apa yg disampaikan oleh para panel (meminjam istilah pak Hendrotan) msh dlm tataran saling curiga. Belum menyentuh pd pokok persoalan yg disajikan oleh pak Hendrotan, yaitu Assimilasi.

Assimilasi yg dimaksud pak Hendrotan disini adalah Assimilasi Budaya. Nah Assimilasi Budaya itu disebut Akulturasi Budaya. Menurut kamus bahasa indonesia tulisan Prof. Dr. J.S. Badudu – Prof. Sutan Mohammad Zain, akulturasi budaya adalah “Proses bercampurnya dua kebudayaan atau lebih krn percampuran bangsa2 dan saling mempengaruhi”.

Akulturasi budaya ini sangat manusiawi & berproses secara alamiah, karena memang tdk ada satupun budaya didunia ini yg bs bertahan secara permanen sepanjang masa. Semua budaya2 didunia ini saling pengaruh mempengaruhi. Contoh akulturasi budaya dibidang seni di eropa adalah Opera yg dibawa oleh Marcopolo dari daratan tiongkok ke daratan eropa. Dibidang makanan ada Spagheti, prosesnya jg sama. Nah sebaliknya di asia jg mengalami akulturasi budaya dibidang musik, yaitu musik klasik & musik pop yg dibawa oleh barat ke daratan asia, tdk terkecuali tiongkok. Tdk ada satupun negara di asia yg tdk memainkan musik klasik & musik pop, yg beda cuman alat musiknya aja.

Di indonesia ada makanan Lontong Cap Gomeh, suatu makanan lezat yg dibuat dari campuran santan, dipadu dgn lontong. Makanan ini disajikan pd akhir perayaan Imlek, yaitu tgl 15 (cap goh) bln pertama penanggalan Lunar.

Di bidang pakaian, hampir seluruh masyarakat di asia memakai baju barat atau disebut Hemd, bahan yg dibuat terserah masing2 negara.

Bnyk sekali contoh2 akulturasi budaya didunia yg tdk sy sebutkan disini. Tetapi pd hakekatnya akulturasi budaya adalah manusiawi & berproses secara alami.

Kembali ke pokok bahasan yg ditawarkan oleh pak Hendrotan, bhwsanya akulturasi budaya adalah tugas sejarah yg tdk terhindarkan alias tdk bs dihindari. Akan tetapi hrs diingat bhw proses itu tdk serta merta bs terjadi, jika kedua belah pihak tdk saling mengenal ato tdk saling ingin bergaul. Adalah tugas kita sbg anak bangsa utk menjadi prajurit terdepan dlm proses pergaulan ini, sehingga kecurigaan2 yg msh ada lambat laun bs tereliminasi.

Pengalaman pahit yg kita alami selama hampir 2 generasi, yaitu +/- 35 thn, dimana proses pergaulan ini menjadi terhenti, telah memakan korban yg tdk sedikit. Baik dari sisi materi maupun inmateri. Adalah tdk bijak jika kita tetap melihat kebelakang tanpa menatap kedepan. Karena apa yg ada dibelakang itu adalah catatan, sedangkan apa yg ada didepan itu adalah tujuan. Dan tujuan itu adalah masa depan bagi anak cucu kita. Jayalah bangsaku !! Jayalah Indonesiaku !!

Sekian & Semoga bermanfaat. Terimakasih.
Henry Hadi.

End.

HOMPIMPA

Jawaban Kepada PANEL KEEMPAT dari 08123XXXXX

Tgl. 1 Nov. 2012 jam 12.39

Isi tulisan Anda bagus, selamat ..

Tgl. 1 November 2012

hendrotan

End.

——————————————————————————————————————————————————————————–

HOMPIMPA

DISKUSI KEBANGSAAN

PANEL KETIGA dari  08123XXXXX

Tgl. 30 Okt. 2012 jam 01.20

Terimakasih kpd pak hendrotan yg telah meluangkan waktu & energy utk membuka ruang bagi kita utk mendiskusikan mslh kebangsaan ini.

Saya disini menanggapi dgn gaya bercerita mulai dari pengalaman kehidupan sy sejak kanak2 s/d skrg.
Dimasa kanak2, sy hidup di suatu perkampungan di srby yg dihuni oleh 3 suku, ada suku jawa, madura & tionghoa. Kehidupan kami sbg kanak2 sungguh menggembirakan. Kami semua bermain bersama, tanpa ada sekat2 perbedaan. Demikian jg dgn org tua kami, sbg tetangga, hampir semua penghuni kampung tsb saling bertegur sapa, walo org tua kami dari latar belakang suku yg berbeda. Sy msh ingat, waktu itu sy msh duduk dikelas dasar dari sekolah tionghoa di jl kalianyar. Kehidupan kami sbg kanak2 sungguh indah. Bayangkan ada anak2 tionghoa, jawa, madura bs bermain bersama. Tdk terkecuali anak2 perempuannya. Waktu ada perayaan Imlek org2 tionghoa dikampung tsb merayakan dgn cukup meriah, ada yg kermh tetangga sekedar utk memperoleh angpao, ada yg ke sanak family jg dgn tujuan yg sama. Setelah itu kami ramai2 ke kebun binatang yg terletak di ujung jl raya darmo.

Disaat sy msh kanak2, perayaan idul fitri belum seramai skrg. Yg ramai saat itu adalah peringatan Maulud nabi atau dikenal dgn sebutan “Muludan”. Yg kami ingat adalah aneka aksessori yg dijual disepanjang jl kusumabangsa. yg ngetren adalah aksesori dgn nuansa timur tengah, maklum karena yg dirayakan hr itu adalah hari Maulud Nabi. Sy sendiri berdandan ala timur tengah. Hampir semua anak dikampung tsb larut dlm perayaan Maulud nabi. Padahal kami saat itu tdk mengerti apa itu Maulud Nabi, yg penting bermain.

Tahun 1965 sy mendpt libur panjang, hampir 2 bln lamanya kami libur. Sayup2 terdengar berita dari kakak2 kami bhw sekolahan kami di jl kalianyar ditutup. Sy dipindah oleh org tua sy ke sekolah negeri di jl kusuma bangsa. Disini sy jg bermain bersama anak2 lain, yg mayoritas adalah dari jawa, ada sedikit madura & sedikit batak. Disekolahan ini sy hny bertahan 2 thn. Setelah itu sy pindah kesekolah swasta di jl jagalan. Disini mayoritas anak2 dari suku tionghoa, ada jg sedikit jawa. Tetapi tetap tdk ada persoalan bagi kami sbg anak2, yg penting bs bermain. Th 1967 ada kerusuhan, dimana2 toko2 dirusak, mobil2 dibakar. Perlahan2 terdengar bhw penyebabnya karena 2 anggota militer Indo digantung di S’pore, sehingga indo membalas dgn merusak toko2 & mobil2 milik tionghoa. Tamat SMP sy pindah kesekolah katholik di jl dr soetomo, skrg polisi istimewa. Di SMA sini betul2 muridnya heterogen, tetapi mayoritas adalah tionghoa. Tetapi sy tetap bergaul dgn semua teman, tanpa memandang suku. Bahkan sy berteman cukup baik dgn teman sekelas dari etnis arab.

Di saat sy duduk dibangku SMA inilah sy merasakan ada perbedaan perlakuan didlm masyarakat. Sy merasa tdk bebas merayakan hari raya Imlek. Ada semacam kekhawatiran utk merayakannya. Sedangkan teman2 sy dari Nasrani tdk ada hambatan utk merayakannya. Lebih2 dari suku jawa yg merayakan hari raya idul fitri. Sy bertny2 dlm hati, mengapa sy sbg tionghoa tdk boleh merayakan Imlek. Th 1974 terjadi peristiwa Malari, dimana rumah2, toko2 & mobil2 org tionghoa dirusak & dibakar.

Setamat SMA sy melanjutkan study ke eropa. Disinilah mata sy dibuka akan keberagaman budaya dari bermacam2 bangsa dari hampir seluruh dunia. Setahun 2 X kami merayakan festival budaya di kampus2. Dari eropa barat, eropa timur, timur tengah, china, amerika, amerika latin, masing2 negara menampilkan budayanya masing2. Mulai dari makanan, tari2an, hasil kerajinan dll. Sy bertny2, kok lain & beda sekali dgn apa yg sy alami di indo, dimana sy adalah warga negara indo dari etnis tionghoa, tetapi tdk diperbolehkan mengexpresikan kebudayaannya. Sedangkan di eropa ini sy adalah tamu yg numpang belajar, akan tetapi dipersilahkan utk menampilkan kebudayaannya. Apa yg salah dgn negaraku ini ???? Saat itu usia sy baru sekitar 20an. Disini sy bergaul dgn teman2 mahasiswa hampir dari seluruh dunia.

Dari Turki, Yunani, Belanda, Rusia, Afrika, Timur tengah, Hongkong, China, Vietnam, Korea, USA, Brazil, Argentina dll. Pemerintah setempat menyambut dgn baik keberagaman budaya2 seluruh dunia. Tdk itu saja, paham2 & buku2 dijual bebas dimana2, bahkan buku MAOpun dijual dgn bebas. Dijalan2 aliran Harikrisna menari2 sambil berdendangria. Apa yg melatarbelakngi kebijakan pemerintah setempat, sehingga kami boleh menampilkan kebudayaan masing2 ? Tdk lain & tdk bukan adalah KEBEBASAN BEREKSPRESI.

Eropa tdk mempunyai satu pasalpun kebijakan yg membelenggu warga negaranya utk mengekspresikan apa yg menjadi keyakinannya, sepanjang hal tsb tdk mengganggu ketertiban umum. Demikian jg dgn kami sbg tamu jg diberi kebebasan utk mengexpresikan kebudayaannya.

Th 1983 sy pulang ke indo. Suasana berbalik 180 derajat, dimana sy kembali merasakan kekhawatiran seperti sebelum berangkat ke eropa. Sy merasakan ada sesuatu kejanggalan yg ada dinegeri ini. Seiring berjalannya waktu sy memutuskan utk mendatangi kelenteng di jl jagalan utk mempelajari kitab2 agama Khong Hu Cu, kitab ini terbagi dlm 2 bagian, yaitu SHE SHU & WU JING. Suatu hari sy diberi oleh salah 1 teman buku dgn judul “HOA KIAO di indonesia” tulisan Pramoedya Ananta Toer. Dari buku inilah sy mulai diperkenalkan & dibukakan mata tentang penyebab anti cina di indo ini. Dari buku SHE SHU WU JING sy diperkenalkan tentang dunia politik kenegaraan, tugas & kewajiban raja terhdp rakyatnya.

Sambil mempelajari kitab2 diatas sy berkenalan dgn seorg Sri Bintang Pamungkas. Dari perkenalan dgn beliau sy dpt bergaul dgn teman2 aktivis kampus, jg teman2 non kampus, yg kesemuanya tdk puas terhdp kebijakan rezim ORBA. Mereka bertny kpd sy, apa mas henry sbg seorg tionghoa tdk merasa takut berteman dgn aktivis yg ingin menggulingkan Soeharto ? Sy bilang, sy sbg seorg warga negara indonesia berkewajiban menjunjung kebenaran & melawan semua kedoliman ORBA, termasuk melawan penindasan terhdp org2 tionghoa.
Singkat cerita tgl 12 Mei 1998 kami di srby turun kejalan utk memimpin barisan utk menggulingkan rezim ORBA. Teman2 jkrt jg melakukan hal yg serupa, cuma berbeda tglnya aja. Rezim Orba telah turun, kita sbg etnis tionghoa memperoleh kemerdekaan utk mengexpresikan apa yg menjadi keyakinan kita & mengexpresikan kebudayaan kita, seperti yg sy alami di eropa.

Nah setelah kita memperoleh kebebasan berekspresi ini sayangnya ada org2 ato kelompok tertentu yg kebablasan dlm menyikapi kebebasan berekspresi ini. Dan itu yg menjadi kekhawatiran dari pak hendrotan. Akan tetapi kebablasan ini tdk hrs dipertanggungjwbkan ke pundak paham Integrasi, ato sebaliknya kekhawatiran pak Hendrotan itu obatnya adalah paham asimilasi. Kita butuh CharacterBuilding & NationBuilding dlm menjwb semuanya itu.

Terimakasih. Henry hadi.

End.

HOMPIMPA

Jawaban Kepada PANEL KETIGA  08123XXXXX

Tgl. 30 Okt. 2012 jam 01.20

Isi tulisan Anda bagus, selamat .  .

Tgl. 30 Oktober 2012

hendrotan

End.

——————————————————————————————————————————————————————————————————————————

HOMPIMPA

DISKUSI KEBANGSAAN

PANEL KEDUA ( LANJUTAN 2 ) dari 089678XXXXX
Tgl. 30 Okt. 2012 jam 23.00

1. Sepertinya anda lbh tertarik mengomentari cara berdiskusi saya ketimbang menjawab pertanyaan dgn tegas dan lugas. Jwban anda sama sekali tdk mencerahkan, sejauh ini saya tdk bisa menarik kesimpulan apa2 atas klarifikasi yg anda sodorkan. Tapi saya hanya melihat anda berputar2 mondar mandir diluar ring. Tdk menyentuh substansi sama sekali. Contoh: ketika saya bertanya pihak manakah yg perlu berganti keyakinan jika diharuskan demi terwujudnya asimilasi, maka anda hanya perlu menjawab saya atau dia. (tentu disertai dgn alasan) ini yg saya mau.

2. Anda jg tdk bisa sembarang mengubah sejarah imlek hanya berdasarkan ketentuan pemerintah. Jika anda bersikeras maka akan terkesan terlalu dipaksakan.

3. Yg sedang anda “ributkan” salama ini adl asapnya. Tp knp anda tdk mencari dimana sumber apinya? Kita tdk bisa menuntaskan akibat sblm kita menyudahi sebabnya.

4. Yg membahayakan bagi negeri ini bukanlah mslh budaya, tapi melainkan mslh keyakinan yg tdk anda ungkap disini. Sering kita dengar berita terjadinya bentrokan antar agama, tapi blm prnh dgr bentrokan budaya tuh. Justru setau saya budaya tionghoa memiliki andil dlm meraup devisa utk negeri ini. Contohnya kota singkawang yg mampu menarik turis2 dari manca negara utk menyaksikan atraksi2 budaya tionghoa. Jd mnrt saya.. apa yg anda ributkan sama sekali bkn hal yg perlu diributkan. Dan yg perlu dibenahi justru tdk anda ungkap sama sekali. Oh betapa indahnya jika kristen berasimilasi dgn islam, dipadukan menjadi satu aja! Maka damailah Indonesiaku.

5. Bagaimana anda menjelaskan sikap kami yg tdk berubah2 warna ibarat bunglon??? Apakah kami keturunan tionghoa yg mengabdi pada negeri ini tp tdk melupakan tanah leluhur bisa disebut mendua? Lalu apa sebutannya bagi tionghoa yg mengaku mencintai negeri ini tapi justru mempraktekkan dan menganut paham2 barat???

6. Jika seandainya anakmu diadopsi olehku. Apakah dia sudah tdk bole mengakui bhw anda adl ortu kandungnya? Mnrtku.. selama dia tdk mengabaikan kewajibannya thdku, saya kira tdk mslh. Justru saya akan menganggapnya seorg anak yg berbudi luhur. Krn walaopun dia tdk mendapatkan kasih sygmu sama sekali sejak kecil tapi dia tdk menyalahkanmu. Justru dia berjiwa besar msh mengakui anda adl ortu kandungnya. Dan jika saya menyalahkan anak yg msh mengakui ortu kandungnya, maka saya sgh berjiwa kerdil. Bukankah begitu bung hendro???

7. Ingat baek2! Jgn menyesatkan masyarakat awam dgn persepsimu! Ketika kita membahas budaya maka kita tetap harus dalam konteks budaya. Jgn dicampur aduk lalu ditarik kesimpulan semaunya. Sejarah mengatakan bhw chinesse new years yg kita sebut dgn imlek diindo adl merupakan pesta rakyat. Adapun terkandung nuansa2 religius dlm perayaannya, itu krn cara umat manusia mensyukuri sesuatu. Jika anda yg sudah tdk respek thd budaya leluhur dan enggan merayakannya, tdk masalah bagi kami! Tapi saya harap anda jgn seenaknya membuat kesimpulan dgn persepsi pribadi utk menyesatkan org lain. Yakini saja agama pilihanmu. Praktekkan saja budaya barumu. Tekuni saja profesimu, jalani saja hidupmu, urus saja keluargamu! Tdk perlu mencari muka seolah2 ingin membenarkan org lain. Sdgkan anda sndri sudah keliatan jelas ingin mengaburkan kebenaran tentang imlek.

8. Anda tdk mengaku telah menghimbau etnis tionghoa utk berasimilasi,
tetapi anda mengkritisi mereka2 yg enggan berasimilasi. Jika kritikan tsb bukanlah bertujuan utk merubah pola pikir atau menghimbau mereka, lalu apa tujuan sbnrnya??? Apakah anda hanya sdg mencari2 bahan utk memojokkan etnis tionghoa? Agar mereka dibenci pribumi berkat tulisan2mu? Atau agar anda dipuja puji dan mendapatkan simpati dari pribumi? Yg mana satu tujuanmu yg sbnrnya bung??? Kadar kemunafikanmu bisa dinilai atas jwbanmu.

End.

HOMPIMPA

Jawaban Kepada PANEL KEDUA (LANJUTAN 2) dari 089678XXXXX
Tgl. 30 Okt. 2012 jam 23.00

Dari no. 1 s/d no. 8 tersebut, jawabannya sudah tersurat dan tersirat di tulisan – tulisan saya sebelumnya ( http://www.hendrotanhendro.wordpress.com ). Setelah meneliti tulisan Anda, ternyata tidak ditemukan hal yang baru, karenanya tidak diperlukan pengulangan pembahasan.

Terima kasih.

Tgl. 30 Oktober 2012

hendrotan

End.

——————————————————————————————————————————————————————————————————-

HOMPIMPA

DISKUSI KEBANGSAAN

 PANEL KEDUA ( LANJUTAN 1 )  dari   089678XXXXX

Tgl. 26 Okt. 2012 jam 23.00

  1. Kebenaran memang pahit ? sblm kita membahas lbh jauh, saya ingin kamu mendefinisikan dl arti dari ”kebenaran” dl ! kebenaran  mnrt siapa ? versi apa ? Berlandaskan atau berdasarkan kacamata siapa ? Acuannya apa ?
  1. kamu dengan entengnya menghimbau orang lain untuk berasimilasi, tp apakah kamu sendiri sudah melakukannya ? atau mungkin putri2mu? Hanya atas nama cinta? Dan apakah masalah adat, kebudayaan dan keyakinan tidak menjadi kendala bagi kedua belah pihak ?
  1. hahaha kau memang oon. Bisa2nya kau bandingkan seorg/sekelompok aktivis ham dgn prilaku masyarakat awam? Kalo seorang Munir selaku aktivis Ham yang sensitiv thd mslh kemanusiaan ya gak mengherankan. Toh dia mengatasnamakan manusia, bukan pribumi. Kalo masyarakat pribumi yg awam sesensitiv munir itu baru bisa kamu jadikan alasan utk menyalahkan pandanganku.
  1. apakah saya jg bole meminjam istilah ”penganut rasialisme” thd kau ketika kau mencap tionghoa2 lain??
  1. ada apa dgn gaya hidup etnis tionghoa? Apakah lbh buruk dr pribumi? Gaya hidup yg mana ya? Pekerja keras? Hemat? Dan apa yg salah dgn melestarikan budaya selama itu tdk merugikan atau melukai org lain? Apakah kami perlu berbaju batik? Atau merayakan sesuatu dengan tumpengan? Oh sangat sempit wawasanmu. Cinta tanah air bisa dilakukan dgn banyak cara tanpa hrs membuang budaya sndri. Contoh: membayar pajak dan menaati hukum adl slh satunya. Jd jgn terlalu norak dech loe !
  1. Bruakakaka saya rasa kau memang ada maunya, tujuan utamamu adl agar etnis tionghoa menjelma sbg cina yahudian spt kau, hanya saja kau ckp pintar dgn mengatas namakan indo sbg tameng, sejarah mana yg kau baca hingga membuatmu jd bodoh begitu? Chinese newyear adl hari raya keagamaan? Bruakakak br tau kalo KONGZI lahir pd bln 1 tgl 1 imlek. Haha

Silakan join ke group Tionghoa bersatu dan posting pemikiranmu disana

  1. Apakah memungkin bagi saya yg non muslim berasimilasi dgn yg beragama islam? Apakah kamu yakin tdk akan terjadi gesekan dan keruwetan sepanjang kisah kami kelak jika hanya berdasarkan asas slg menghargai? Dan jika slh satu dari kami hrs berganti keyakinan demi terwujudnya asimilasi, pihak manakah itu? Bygkan saja seandainya dirimu sndri yg hendak melakoni asimilasi tsb, apakah kamu sudi berganti agama? Apakah tdk akan ada pertentangan dari keluarga besarmu? Klo mengharapkan pihak mereka yg mengikuti agama kita (non muslim) maka sudah hampir pasti tdk mgkn, kalopun pasanganmu sudi, itupun tak mgkn direstui ortu mereka dgn suka cita. Dgn demikian, adakah solusi yg jelas dan tepat yg bisa kau jabarkan disini? Kawinkan putrimu dgnku maka aku “baru” akan memperlakukanmu dgn baik. Inilah teladan asimilasi yg sdg kau koar2kan utk org lain. Nyaman aja kalo ngomong.

8.        Kami dihimbau agar membuang budaya leluhur dan melakoni budaya negeri ini, tapi budaya mana satu yg kau maksud? Disaat bersamaan sebagian besar pribumi skrg malah lbh mendewakan budaya arab.Dan kau sendiri  tau dgn jelas bhw indo adl negara dgn umat muslim terbesar didunia. Dan kau jg tau dgn pasti bhw muslim dan Kristen memiliki sejarah yg slg bertentangan. Ibarat kasarnya adl “musuh bebuyutan”. Nah demi menunjukkan kecintaanmu thd negeri ini knp kau sengaja memilih Kristen utk menentang mereka? Siapa yg merupakan duri dlm daging bagi negeri ini? Kami atau kalian??? Budaya adl bawaan, jauh lbh melekat drpd keyakinan. Jd knp kau yg bisa membuang budaya leluhurmu malah tidak sanggup membuang keyakinanmu yg berasal dari Israel itu? Mrk bahkan bkn leluhurmu, bahkan tdk ada 1 pun sejarah yg mengaitkan mereka dgnmu. Tp knp kau tdk bisa? Tidak mau beda lho dgn tidak bisa.

9.   Mnrt saya.. Asimilasi mgkn saja terjadi jika terdapat sejumlah kecocokan dan memenuhi kriteria masing2. antara lain dlm hal keyakinan, kepribadian yg baik, penampilan yg menarik, ekonomi yg mapan, dan penerimaan yg tulus dari kedua belah pihak keluarga. Asimilasi yg dilakukan berdasarkan pertimbangan2 diatas tentu lbh bermakna krn menyangkut kebahagiaan yg menjalakannya. Tapi jika asimilasi dilakukan demi kepentingan sekelompok/ras/suku atau apalah sebutannya. Maka itu tak ubahnya ibarat memberi upeti pada pihak yg berkuasa demi mendapat perlakuan yg lbh baik. Ini jelas pemikiran yg salah dan menyesatkan. Saya yakin kamu jg tdk mgkn rela mengorbankan kebahagiaan saudari atau putri2mu demi kepentingan yg msh abu2 utk sekelompok org. jd mnrtku.. Asimilasi tdk bole dihimbau sambil mengintimidasi dan mencap bla3x thd org yg enggan melakukannya. Krn itu menyangkut kebahagiaan dan masa depan org lain.

10.  Ketika saya telah berumah tangga, saya tetap bole berbakti kpd ortu saya. Dan itu tdk berarti mengurangi rasa cinta saya thd istri saya. Ketika saya telah menjadi warga negara lain, saya tetap bole mengenang dan membela negeri leluhur walaopun hanya dalam bentuk suara. Dan itu tdk berarti rasa cinta saya thd negeri ini berkurang atau bahkan berkhianat. Coba kamu pelajari dulu karakter warga kita (indo) yg tlh menetap dan beranak pinak dinegeri lain, apakah mrk juga serta merta melupakan budaya yg menjd jati diri mereka? Apakah mrk jg tlh menjelma sbg sosok yg nasionalis bagi bangsa yg ditempatinya skrg??? Ini hny sbg perbandingan saja. Dan sbnrnya sifat mencintai kampong halaman adl sgt manusiawi dan merupakan suatu anugrah yg indah bagi hampir semua manusia dimuka bumi ini. Sgtlah menyedihkan bagi mereka2 yg tdk diberi anugrah tsb. Bunglon sgtlah cocok mewakili sifat mereka

1 lagi.. Coba pelajari ulang budaya atau sejarah perayaan imlek. Krn Sejauh yg saya ketahui.. imlek merupakan pesta rakyat China. Adapun perayaannya bernuansakan agama Tao dan KHC itu disebabkan krn pada zaman dahulu hampir semua org tionghoa beragama tradisional. Dan otomatis perayaan tsb terbawa hingga ke tata cara mereka dlm merayakan dan mensyukurinya. Yg kita maksud adl Chinese newyears.

Jd sy harap kamu jgn menyesatkan etnis tionghoa dgn persepsi kamu

sendiri ttg perayaan imlek yg sejarahnya entah kamu baca dibuku karangan siapa. Bedakan keyakinan dgn budaya! Tdk mengherankan jika banyak budaya2 tiongkok terkesan bernuansakan keagamaan tradisional. Krn pada zaman dulu rakyat china hanya mengenal dan menganut agama lokal. Jika saat itu agama Kristen sudah masuk ketiongkok mgkn tata cara perayaannya pun akan berbeda dng yg skrg.

End.

HOMPIMPA

Jawaban Kepada PANEL KEDUA (LANJUTAN 1) 089678XXXXX

Tgl. 26 Okt. 2012 jam 23.00

  1. Dalam tukar pendapat ini seringkali Anda melontarkan kata-kata kotor, umpatan,  dan tudingan emosional bernada rasisme. Karena blog ini adalah sebuah forum publik yang dibaca oleh masyarakat luas dengan pelbagai stratanya di seluruh Indonesia serta menjunjung asas kemanusiaan dan budi pekerti cinta damai, maka saya berharap pada tulisan berikutnya Anda mau memakai  kata–kalimat yang wajar / santun; bersama ini saya menjawab pertanyaan Anda ihwal “ kebenaran” dengan mengajukan hikmat seorang sejarahwan-penyair dari UGM, Yogyakarta, Kuntowijoyo. Katanya, kebenaran itu sayap awan yang akan mengabarkan kebun bunga di saat engkau tengah menunggu hari yang membeku, seolah tiada tangan gaib yang sanggup menolongmu. Dengan hikmat itu, saya ingin mengajak pembaca blog ini bukan hanya berpikirankritis tapi juga berhati lapang yang bersedia menampung kebenaran dalam pluralisme sudut pandang dan acuan, meski pahit rasanya. Walau seharusnya Anda sudah tahu, bahwa pada tulisan – tulisan saya di blog (www.hendrotanhendro.wordpress.com) telah tampak intrinsik-seseorang dengan jalan menawarkan KEBENARAN yang diyakini, itulah definisinya.
  1. Pertanyaan Anda ini menunjukkan bahwa Anda adalah seorang penuding yang emosional dengan pikiran berkabut. Karena itu, saya ingin tegaskan kepada Anda, bahwa ihwal asimilasi telah menjadi amalan saya sebagai seorang warga Indonesia, tentang hal ini saya sudah terakan dalam tulisan saya “Arti Asimilasi” (www.hendrotanhendro.wordpress.com). Apalagi saya percaya kepada kebijaksanaan seorang sastrawan besar Indonesia asal Blora, Pramoedya Ananta Toer bahwa seorang terpelajar harus bersikap adil dan jujur sejak dari dalam pikiran.
  1. Sekali lagi, pertanyaan Anda ini memperlihatkan betapa Anda adalah seorang pencemooh ber”kaca mata kuda” dalam menanggapi pendapat orang lain. Persoalan krusial dari cara pandang Anda itu adalah Anda menuding masyarakat pribumi tidak memiliki sensitivitas kemanusiaan sebagaimana para aktivis HAM. Pada hemat saya, pandangan dan tudingan Anda itu merupakan kesimpulan semena-mena (sweeping conclusion).  Kalau Anda membuka cakrawala pengetahuan dan pergaulan sosial Anda, maka Anda akan menemukan banyaknya masyarakat pribumi yang memiliki sensitivitas yang tinggi terhadap kasus mei’98, juga persoalan-persoalan kemanusiaan keturunan Tionghoa lainnya.¹
  1. Kata guru saya, seorang penganut rasialisme itu seperti ” maling teriak maling ” yang suka bersilat lidah dan membolak-balikkan retorika bak tong sampah bunyinya nyaring dan garang dalam menuding-nuding orang lain ketika bertukar pendapat. Karena itu, saya ingin tegaskan bahwa tukar pendapat kebangsaan bertujuan kepada hikmat-kebijaksanaan bagi seluruh anak bangsa Indonesia yang menghargai pluralisme pemikiran dan menolak segala bentuk kekerasan, baik dalam ucapan maupun tindakan.
  1. Pada hemat saya, salah satu persoalan sosial masyarakat keturunan Tionghoa adalah cara berpikir yang telah terkontaminasi dengan stereotipe-stereotipe rasial – yaitu memandang dirinya lebih berbudaya, dengan budaya yang murni dan autentik, sehingga merasa paling unggul dan superior, pintar, bergengsi dan harus mengeksklusifkan dirinya dalam pergaulan sosial. Karena itulah, jika ada orang keturunan Tionghoa ( seperti saya ) yang menolak stereotipe-stereotipe rasial itu, maka Anda memberi cap sebagai orang yang norak dan berwawasan sempit.

6.  Pertanyaan Anda ini, sekali dan sekali lagi, mengungkapkan betapa Anda adalah seorang ”tukang stempel” yang gemar memberi cap orang lain dengan istilah-istilah rasis, seperti ”cina yahudian”. Perlu Anda ketahui bahwa dalam hal imlek di Indonesia, tentu saja saya berpegang pada sejarah sosial-politik Indonesia. saya yakin setiap anak bangsa Indonesia yang membaca sejarah bangsanya sendiri pasti mengetahui bahwa perayaan imlek dimungkinkan di republik ini berkenaan dengan kesediaan pemerintah mengakui Konghucu sebagai agama resmi keenam. Karena itulah, dalam hal tersebut, konteks sosial-politik menjadi penting untukmemahami perayaan imlek di Indonesia. Tegasnya imlek menurut sejarah sosial politik Indonesia adalah suatu perayaan yang berkaitan dengan hari libur keagamaan – bukan budaya keturunan Tionghoa.

7.  Pertanyaan – pertanyaan Anda ini memperlihatkan betapa Anda adalah seorang pencemas yang menarik – narik kecemasan Anda untuk disodorkan kepada orang lain. Maka, saya merasa tidak berhak menjawab pertanyaan-pertanyaan Anda pada point ini, karena saya bukan ahli psikologi sosial yang dapat menjawab kecemasan orang orang yang mengidap penyakit segresi sosial dan kemurnian asal-usul.

8.  Saya tidak pernah menghimbau untuk membuang budaya leluhur. Saya pun tidak pernah menghimbau asimilasi perkawinan. Itu persangkaan Anda. Maka, baiklah saya tegaskan bahwa saya menghimbau Asimilasi Budaya sebagai ikhtiar pikiran dan tindakan untuk menjadi Indonesia seutuhnya. Dengan demikian, ihwal budaya leluhur dan asimilasi Perkawinan merupakan dua pokok soal yang akan terjawab dalam asimilasi budaya. Dengan asimilasi budaya, kita tak akan berkhayal tentang budaya leluhur dari luar, karena sejatinya budaya luhur dan leluhur kita adalah budaya Indonesia. Sedangkan ihwal asimilasi perkawinan, itu akan menjadi kecenderungan alamiah dan sinkretisasi yang dibijaksanai dengan kearifan lokal di negeri ini.

9.  Tentu, saya sepakat bahwa dalam penghimbauan asimilasi budaya, juga hal-hal lainnya, tidak boleh menggunakan cara-cara kekerasan, intimidasi dan mencap orang lain dengan stempel berbau rasisme seperti yang Anda lakukan ketika menanggapi tulisan saya, terutama dalam tukar pendapat kebangsaan ini. Tapi tak mengapa, saya justru menganggapnya sebagai “rahmat” yang memungkinkan saya untuk menghayati nilai pluralisme dan meresapi kebenarannya sebagai sesuatu yang pahit, tapi menyehatkan jiwa dan menyegarkan mata batin saya.

10. Seorang warga negara yang baik seharusnya adalah seorang nasionalis bagi negara dan bangsanya sendiri. Dengan demikian, secara sosial politik, negara – bangsa itu adalah kampung halamannya. Karena itu, bagaimana mungkin seorang yang lahir dan tumbuh berkembang di Indonesia masih berkhayal punya kampung halaman selain Indonesia. Saya kira khayalan itulah yang menunjukkan ketidak pahaman, bahkan ketidak setiaan seseorang dalam kesadaran dan sikap kebangsaannya. Dengan penjelasan itu, sebagai jawaban atas pertanyaan dan pernyataan Anda, saya ingin tandaskan bahwa sifat mendua sebagian masyarakat keturunan Tionghoa justru akan menunjukkan keberadaan mereka sebagai bunglon dimata pemerintah dan suku masyarakat lain di Indonesia. Karena itu, bagi saya , tidak ada cara lain untuk menjadi Indonesia seutuhnya kecuali dengan Asimilasi Budaya.

Tgl. 29 Oktober 2012

hendrotan

End.

Catatan kaki :

1.   Kasus Mei 98 dalam tukar pendapat ini sinonim dengan Kerusuhan Mei

1998 yang berlangsung di sejumlah kota—antara lain Jakarta, Bandung, dan Surakarta, seiring dengan mengalirnya arus deras Reformasi politik di Indonesia.

Dalam kasus tersebut, amuk massa telah memporak-porandakan tak berbilang rumah, toko, dan perusahaan, khususnya kepunyaan warga keturunan Tionghoa. Juga terjadi perkosaan banyak perempuan keturunan Tionghoa—dan pembunuhan sejumlah aktivis mahasiswa serta penghilangan paksa aktivis-aktivis politik.

Hingga kini, Kerusuhan Mei 1998 masih diliputi kabut ketidakjelasan dan kontroversi, terutama ihwal dalangnya. Namun demikian, setiap anak bangsa di negeri ini—dengan hati nuraninya—akan bersepakat bahwa Kerusuhan Mei 1998 merupakan sejarah kelam dalam kehidupan sosial-politik di republik ini.

Mengikuti pemikiran Budiarto Danujaya, pengajar filsafat politik di Universitas Indonesia (Kompas, 23 Februari 2011), Kerusuhan Mei 1998 adalah wujud dari “kebengisan intoleransi” terhadap sesama warga Indonesia. Karena itu, betapa pun kita mengakui bahwa dalam Kerusuhan Mei 1998 terdapat banyak korban dari masyarakat keturunan Tionghoa—kita tak bisa melokalisirnya sebagai peristiwa kekerasan terhadap orang-orang keturunan Tionghoa semata. Pasalnya, seperti kita tahu, tak terbilang pula orang-orang dari warga pribumi yang menjadi korban Kerusuhan Mei 1998.

Dengan demikian, sudah seharusnya kita menyikapi Kerusuhan Mei 1998 sebagai tragedi politik nasional juga kerusuhan sosial ( kesenjangan kaya dan miskin ) yang bernuansa rasialis dan ditenggarai terlibatnya oknum penguasa / pemegang tampuk kebijakan negara. Yang mana tragedi tsb. telah menumpahkan darah dan merenggut nyawa anak-anak bangsa Indonesia. Alih-alih, sepatutnya kita senantiasa mengingatnya sebagai tragedi politik yang telah merampas hak hidup sesama saudara kandung di negeri ini.

———————————————————————————————————————————————————————————————————

HOMPIMPA

DISKUSI KEBANGSAAN
Menanggapi tulisan Hompimpa di blog : http://www.hendrotanhendro.wordpress.com

PANEL KESATU dari 085232XXXXX
Tgl. 25 Okt. 2012 jam 13.00

1. Meninggikan Etnis sendiri dilakukan oleh semua bangsa di Dunia. Lihatlah, bangsa Inggris, Amerika, Jepang, Indonesia, semua mempunyai kebanggaan atas bangsanya. Sesudah berdirinya Tiongkok Baru, pemerintah RRT berupaya mengembalikan kepercayaan diri rakyat Tiongkok dan kebanggaan atas bangsanya. Ini disebabkan selama seratus tahun bangsa Tionghoa telah dihina dan direndahkan oleh bangsa-bangsa lain terutama oleh bangsa-bangsa Barat. Kini Amerika, Inggris, Perancis dll. Merasa terganggu dan terancam dengan bangkitnya Tiongkok sebagai kekuatan Dunia. Karena serangan militer seperti waktu yang lalu pasti gagal, mereka berusaha melemahkan mental orang Tionghoa dengan berkampanye menyerang berbagai kebijakan pemerintah Tiongkok. Ini juga menjadi pelajaran bagi kita Bangsa Indonesia yang belum benar-benar terbebas dari pengaruh Asing, yaitu Bangsa-bangsa Barat, dalam bidang Ekonomi dan Politik.

2. Sebetulnya ” Silent War ” antara Amerika Cs. Dengan negara-negara progresif didunia masih berlangsung. Amerika menggunakan inteligen CIA untuk melakukan berbagai aktivitasnya diluar negeri. Meskipun tidak secara formal di organisir, mayoritas etnis Tionghoa diluar negeri cenderung berpihak ke Tiongkok dalam “perang” ini. Apa sebabnya ? mau tidak mau etnis Tionghoa tetap dikaitkan dengan Tiongkok. Bila Tiongkok berjaya dan makmur etnis Tionghoa sebagai diaspora ikut dihargai. Bila Tiongkok melarat dan kalah, kita ikut dihina dan diusir-usir. Ini saya alami sendiri waktu SMP dan SMA dulu. Seringkali bila guru marah, ia berkata : “ kamu anak-anak Cina, kalau tidak suka di Indonesia, pulang saja ke negeri Cina !” Lebih-lebih dimasa Orde Baru, ketika CIA berhasil menggulingkan Bung Karno yang progresif, anti Tionghoa makin menjadi-jadi, sampai berbahasa Tionghoa pun tidak boleh. Bangkitnya Tiongkok menyaingi Amerika, membawa dampak yang baik bagi etnis Tionghoa.

3. Kini pelecehan dan penghinaan terhadap etnis Tionghoa makin jarang terjadi. Bahkan kita sudah diperlakukan sama dengan warganegara yang lain. UUD 45 sudah diamandemen sehingga teoritis kita dapat menjadi Presiden. Sudah ada yang menjadi Wagub DKI yaitu Basuki Cahaya Purnama atau Ahok.

4. Menghilangkan identitas ke Tionghoa an secara massal adalah tidak mungkin. Di Afrika saja, yang warna kulitnya sama hitamnya dan kita tidak bisa membedakan, masih terjadi permusuhan Etnis. Etnis Yahudi di Jerman dulu sudah melebur diri jadi orang Jerman asli, toh Hitler masih bisa membedakan dan membasmi mereka. Yang penting kita cegah adalah berkuasanya rezim rasialis seperti Hitler dan Orde Baru.

5. Memang benar, Basuki Cahaya Purnama alias AHOK mengabdi kepada bangsa dan negara Indonesia sebagai wakil Gubernur DKI, Liem Swie King mengabdi dalam bidang bulutangkis, Yap Thiam Hien SH mengabdi dalam bidang hukum, Kwik Kian Gie mengabdi dalam bidang Ekonomi. Semua mereka tidak mengganti nama Tionghoa nya dan orang mengetahui kalau mereka etnis Tionghoa. Tidak perlu anti.

6. Mereka berjasa besar bagi Indonesia tanpa mengganti identitas ke Tionghoa an nya. Pengabdian mereka diterima dan dihargai. Tidak perlu menjauhkan diri apalagi ikut-ikutan Amerika untuk anti Tiongkok dan anti Tionghoa, bahkan kita harus mendekatkan Indonesia agar bersahabat dengan Tiongkok. Ini pendapat saya.

End.

HOMPIMPA

Jawaban Kepada PANEL KESATU 085232XXXXX
Tgl. 25 Okt. 2012 jam 13.00

1. Program kerja pemerintah Tiongkok untuk mengembalikan rasa percaya diri rakyatnya ( yang dinistakan oleh Sekutu Militer Delapan Negara dan dampak psikologi selama satu abad ), itu baik saja ! saya pun ikut berbangga dan berbahagia !

2. Namun pemerintah RRC jangan memakai pengaruh diaspora manca negara, kita yang sudah menjadi warga negara dan lahir diluar negara Tiongkok, mengharap RRC menghormati pernyataan pada kebijakan kewarganegaraan yang telah ditanda tangani, jangan lain di kata lain pula tindakan.

3. Dengan mengemban sejarah gelap yang ada, kedepannya saya dan anak, cucu, cicit sebagai keturunan Tionghoa di Indonesia, berharap menjadi salah satu anak bangsa Indonesia seutuhnya tanpa menonjolkan identitas Tionghoa, apalagi hubungan emosional dengan Tiongkok

4. Pengakuan ( diterimanya ) atas harkat dan martabat warga keturunan
Tionghoa di Indonesia DITENTUKAN Oleh kesadaran dan pengabdian
( sikap ) kita sendiri, bukan dikarenakan maju atau mundurnya negara /
pemerintah RRC.

5. Karena itulah, bila berbicara dalam konteks kebangsaan, RRC harus
dipahami sebagai negara asing, sama seperti Amerika, Australia, Jepang dll.
Maka, sudah seharusnya warga bahkan masyarakat keturunan Tionghoa
Indonesia MENUNJUKKAN EKSISTENSINYA berdasarkan pengabdian
dan kesetiaan kepada bangsa Indonesia bukan kepada bangsa China.

6. Jika dicermati dengan seksama pada tulisan – tulisan saya, maka kesadaran dan
sikap kebangsaan saya jelas, saya seorang anak bangsa Indonesia yang
berkeinginan membagi pengetahuan atau refleksi berdasarkan wawasan kritis atas
persoalan-persoalan sosial–politik yang melingkupi masyarakat Tionghoa di
Indonesia.

Dengan begitu, sejatinya saya berkehendak menjelmakan cinta tanah air saya
dalam naungan kemanusiaan bagi seluruh anak bangsa Indonesia, khususnya anak
bangsa Indonesia keturunan Tionghoa, agar tanpa keraguan sedikitpun untuk rela
mengabdikan diri sesuai dengan keahlian masing-masing kepada republik tercinta
ini. Singkatnya, kritisisme saya kepada sebagian warga keturunan Tionghoa di
Indonesia yang masih berpegang teguh pada nasionalisme romantik kampung
halaman di Tiongkok sebagai tanah air mereka, adalah didasarkan pada kesadaran
saya pada nasionalisme demokratik bahwa Indonesia adalah tanah air kita sebenar-
benarnya.

Tanggal, 26 Oktober 2012

hendrotan

End.

—————————————————————————————————————————————————————————————————————–

HOMPIMPA

DISKUSI KEBANGSAAN

PANEL KEDUA dari 089678XXXXX
Tgl. 25 Okt. 2012 jam 20.00

1. Pesan guruku : jangan lakukan apa yang kamu tidak inginkan orang lain lakukan terhadapmu ! ini mgkn akan berguna utkmu.

2. Pemerintah tiongkok “MEMANFATKAN”??? Apakah ada himbauan resmi dari pemerintah tiongkok utk etnis tionghoa perantauan agar melakukan ini dan itu ? Jadi apa yang menjadi dasarmu utk mengkritik pemerintah tiongkok? Dasar edan loe..

3. Tak perlu yang jauh2 dulu. Kau jelaskan dulu pertanyaanku yg tadi. Kenapa mereka lebih sensitive ketika rakyat palestina ditindas ketimbang kasus 98mei yang menimpa etnis tionghoa dinegeri sndri?

4. Tak ada pencerahan yang bisa kudapat dari mu. Aku tdk begitu suka membaca artikel yang panjangnya amit2 dan isinya tak jelas. Aku lbh suka tanya jawab perpoint gitu. Tapi sygnya tak satupun yg bisa kau jelaskan padaku. Kecewa mode on. Ironisnya.. Saat kau gencar menghimbau etnis tionghoa melepaskan jati diri dan kebudayaan mereka, malah kau sendiri yang menjalani budaya yahudi. Hahaha kau ibarat pisang. Alias chinese banana. Kulitnya kuning isinya putih. Tapi malah berlagak item. Bruakakaka

5. Saya rasa cukup itu dulu. Semoga ada pencerahan yg benar2 bukan berdasarkan kemunafikan. Quote: Brani mengakui kesalahan bukanlah suatu kemunduran.

6. Agar lbh fair, tdk ada salahnya jg kau mewakili pemerintah tiongkok dlm mengkritisi suku uighur dichina yg jauh lebih menutup diri dibanding etnis tionghoa diindo.

7. 1 lg.. Menurutmu Apakah etnis tionghoa perlu membuang budaya perayaan imlek? Dan jika dibuang, kami diarahkan utk merayakan hari apa? Natal? Idul fitri? Atau apa neh? Saya sgh tak abis pikir dgn cara berpikirmu yg mempermasalahkan kebudayaan. Sdgkan sesama pribumi aja saling melestarikan budaya mereka masing2. Suku batak, jawa, sunda, madura, melayu, dayak dsbnya masih mempertahankan budaya mereka masing2, lalu knp kami harus membuang budaya kami? Lalu kami hrs pilih mana satu utk menggantikan budaya kami? Ironis sekali ya..Disaat pemerintah skrg yg lbh toleran thd budaya tionghoa, eh malah ada cina oon yg mempermasalahkan budayanya sendiri. NB: saya bukan dari keluarga guru, saya bahkan tdk tamat sma. Tp setidaknya saya bisa berpikir lebih bijak drpd org yg mgkn pny gelar spt kamu. Saya jg tdk pinter merangkai kata2 agar enak dibaca, tp setdknya mksd yg ingin saya sampaian bisa dimengerti dgn kalimat sederhana.

End.

HOMPIMPA

Jawaban Kepada PANEL KEDUA dari 089678XXXXX
Tgl. 25 Okt. 2012 jam 20.00

1. “Kebenaran itu memang pahit”, kata guru saya. ”Tapi sampaikanlah, karena pahitnya itu justru akan menentukan nilai hidupmu, jika kebenaran itu dianggap oleh orang lain sebagai kebodohan, maka yakinkanlah dirimu bahwa orang itu adalah bagian dari masa lalu yang gagal menerangi masa depan, sehingga benaknya mengelana dalam kabut. Karena benak orang itu berkabut, sesungguhnya engkau perlu memaklumi bila semua perkataanmu yang berisi kebenaran dipandangnya sebagai kesalahan, kemudian menudingmu sebagai orang edan. Tak mengapa, engkau sejatinya tengah beruji kesabaran yang akan mendekatkanmu kepada hikmat dan kebijaksanaan dari kaum yang tercerahkan di republik Indonesia”.

2. Dengan mengumandangkan pernyataan simbolis : Hoa Ren Hoa Chiao, Chio Tze Yuu Chia Jin = ”Orang Tiongkok dan perantau Tionghoa merupakan satu keluarga besar yang mesra”–itulah yang menjadi dasar KRITIK saya kepada pemerintah Tiongkok. Harap diingat, dalam konteks asimilasi budaya dan sikap kebangsaan, pernyataan itu menyiratkan pengertian bahwa orang Tionghoa dimana pun, tidak terkecuali di Indonesia, masih merupakan warga bangsa Tiongkok. Padahal, sesungguhnya mereka tahu bahwa itu merupakan sesat pikiran dari sudut pandangan dan konsep negara-bangsa yang berdaulat. Sementara itu, warga keturunan Tionghoa di Indonesia seharusnya mengerti bahwa setelah berabad-abad hijrah ke Indonesia, maka tak ada negeri lain yang patut di cintai kecuali negeri ini – Indonesia. Selain yang ( telah ) memberikan tempat pijak bermukim, kehidupan dan kesejahteraan, juga memberikan kenangan, kekinian dan pengharapan.

3. Orang yang mengatakan bahwa kaum pribumi lebih sensitif kepada penindasan rakyat Palestina ketimbang kasus mei ’98 – sepertinya mereka miskin informasi. Perlu saya sampaikan, kalau Anda membuka mata hati dan mengamati dengan cermat, maka Anda akan mengetahui betapa sangat sensitifnya kaum pribumi kepada kasus mei ’ 98. Bacalah majalah Tempo (edisi 6-12 Oktober 1998 ), maka Anda akan menemukan bukti bahwa mereka tak hanya sensitif, tapi juga berjuang membongkar kasus mei ’98 sebagai persoalan kemanusiaan. Selain itu, amatilah apa yang dilakukan mendiang Munir dkk. lewat lembaganya Kontras (komisi untuk orang hilang dan korban kekerasan). Bahkan Munir mengorbankan nyawanya, antara lain karena memperjuangkan kasus Mei ’98 yang sengaja disembunyikan oleh penguasa.

4. Karena itulah, tak mengapa saya di cap sebagai Chinese Banana, cap yang justru menunjukkan bahwa orang yang memberi cap itu adalah penganut rasialisme yang memuja kemurnian etnisnya. Padahal, itu merupakan konstruksi politik yang akan menjebaknya sebagai kambing hitam, terutama pada saat terjadinya huru-hara sosial–politik .

5. Itu sebabnya, lebih dari sekedar pencerahan, warga keturunan Tionghoa sebaiknya kalau tidak boleh dikatakan harus merangkul pluralisme dalam kehidupan sehari-harinya dengan cara berfikir dan bergaul terbuka sebagai bagian integral suatu kelompok masyarakat Indonesia dimana ia berada. Bukan mengembang-biakkan gaya hidup dan sikap kesukuan yang di import dari Tiongkok. Ingat pepatah, dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung. Dalam pepatah tersebut terkandung hikmat budaya asimilasi yang telah diamalkan oleh banyak orang keturunan Tionghoa yang memiliki wawasan nasionalisme dan sikap kebangsaan yag mendalam, seperti Onghokham, PK Ojong dan John Lie.

6. Dengan asimilasi, saya yakin akan eksistensi orang keturunan Tionghoa di Indonesia menjadi nyata lewat kontribusinya kepada kehidupan disekitarnya, dimana ia merupakan masyarakat bagian integral yang tak terpisahkan lagi, sehingga tidak ada alasan lagi bagi dalih–dalih politik untuk mengeksklusi1. warga keturunan Tionghoa di Indonesia.

Dengan demikian, bukan perayaan imlek yang menentukan nilai hidup orang keturunan Tionghoa, tapi penghormatan dan pengabdiannya kepada bangsa ini lewat pengabdian pada masyarakat dimana orang Tionghoa telah melebur jadi satu. Contohlah warga keturunan Arab, mereka menjadi terhormat karena ada orang-orang seperti Munir, Anis Baswedan dll. yang mengabdi untuk harkat dan martabat bangsa ini, bukan karena memperjuangkan hari raya Idul Fitri. Bagi saya, orang keturunan Tionghoa seharusnya lebih mengedepankan budaya perayaan kebangsaan, bukan perayaan etnis, apalagi yang di import dari Tiongkok. Dengan itu, saya ingin menandaskan bahwa saya bukan Anti Tiongkok atau benci Tionghoa, melainkan seorang anak bangsa Indonesia yang ingin menumbuh-kembangkan dengan cinta terhadap budaya dalam negeri, apa pun latar belakangnya, berdasarkan nilai-nilai luhur yang digali-dalam dari tanah air sendiri.

Menjawab pertanyaan apakah etnis Tionghoa perlu membuang budaya perayaan Imlek ?. Menurut hemat saya, Imlek adalah hari raya agama Kong Hu Cu, tentu umat agama Kong Hu Cu harus dan wajib merayakannya, bagi warga keturunan Tionghoa yang Kristiani dan yang Muslim bisa ikut merayakan sepanjang tidak bersentuhan dengan kaidah keagamaan masing masing.

Dengan demikian perlu ditegaskan bahwa perayaan Imlek itu adalah perayaan agama Kong Hu Cu, bukan perayaan etnis Tionghoa atau warga keturunan Tionghoa. (hendrotan)

Catatan kaki
1. meminggirkan, mengasingkan atau memojokan

Tanggal, 26 Oktober 2012

hendrotan

End.