Menanggapi tulisan HOMPIMPA di blog : www.hendrotanhendro.wordpress.com

HOMPIMPA

DIKUSI KEBANGSAAN

From: Iskandar Hamzah <hamzahisk@yahoo.com>;
To: <hendrotan888@yahoo.com>;
Subject: tanggapan atas jawaban Anda
Sent: Wed, Nov 14, 2012 12:16:40 PM

Pak Hendrotan yang baik,-

Ada beberapa hal yang saya merasa perlu untuk menanggapi atas jawaban terakhir Anda dalam forum Tukar Pendapat Kebangsaan.
Di Tiongkok ada pula berbagai suku yang berasal dari “Luar” seperti yang bapak katakan tetapi toh tetap diakui dan disebut sebagai salah satu sukunya Tiongkok. Suku Thai di Sishuangpana misalnya, suku Korea di Yenpien, suku Mongol. Anda juga belum mengulas tentang suku Kurdi yang saya sebutkan dalam jawaban yang lalu itu.

Kini kita telah diakui sebagai salah satu suku bangsa Indonesia, ini adalah hal yang sangat baik, artinya masalah pengakuan etnis Tionghoa sebagai bangsa Indonesia selesailah sudah. Tetapi Pak Hendrotan dengan mengemukakan berbagai alasan antara lain masalah teritori, masalah berasal dari “Luar” dan lain-lain, tidak setuju.
Kalau begitu bagaimana yang menurut Pak Hendrotan penyelesaian yang realistis ?

Tentang berasal dari “luar”, apakah pak Hendrotan tidak pernah mempelajari Sejarah Indonesia, dimana dikatakan Bangsa Indonesia semuanya juga berasal dari “Luar” yang selama berabad-abad lamanya bermigrasi ke kepulauan Nusantara dari Hindia Belakang, dari teluk Tonkin di Vietnam dlsb. Perbedaannya hanyalah soal kurun waktu saja, siapa yang lebih dulu dan siapa yang belakangan. Berdasarkan ilmu Anthropologi, Bangsa Indonesia, Melayu, Thai, dan Tionghoa termasuk satu golongan Ras, yaitu Ras Mongoloid.

Pada akhirnya, saya ingin menanggapi anjuran Bapak yaitu, bila ingin diakui sebagai salah satu suku Bangsa Indonesia, sebaiknya membeli saja salah satu pulau di Nan Sha Jin Dao (Kepulauan Spratley) dan bermukim disana. Walaupun anjuran nyeleneh ini bisa dianggap sebagai guyon, karena kehabisan jawaban, tidakkah anjuran itu sama saja dengan “mengusir” suku Tionghoa untuk kembali ke wilayah RRT, karena Nan Sha Jin Dao adalah wilayah Tiongkok ? Kok aneh ya ?

Sekian tanggapan saya, terima kasih.

Wassalam.

Iskandar Hamzah

End.

HOMPIMPA

Jawaban kepada : Iskandar Hamzah hamzahisk@yahoo.com
Tanggal, 14 November 2012, Jam 12:16 PM

Pak Iskandar Yth.

Menjawab tulisan Anda sebagai berikut :

1. Kepulauan Spratly  ( Nan Sha Jin Dao ) terbelit sengketa
kepemilikan oleh RRC dan negara Asean, beberapa negara Asean antara lain
Malaysia, Brunei dan Philipina saling klaim sebagai empunya. Karena itu,
kalau Anda berminat membeli ( untuk legitimasi sebagai Suku Tionghoa
Indonesia ) harus menunggu dulu negara mana sebagai pemiliknya yang sah …
Don’t worry pak, tidak terlintas dipikiran ini, agar Anda terusir balik ke negeri Tiongkok.

2. Menurut Anda warga keturunan Tionghoa telah mendapat pengakuan sebagai
suku Tionghoa Indonesia ; kapan diakui sebagai suku ? oleh siapa ? dan
berdasarkan undang undang dan peraturan yang mana ?
Karena itu, menurut hemat saya, kita warga keturunan Tionghoa sebaiknya
menjadi warga suku di tempat kelahirannya dan mau bergaul intens dengan
warga pribumi di sekitarnya.

3. Kajian Anda pada disiplin ilmu antropologi bertumpu dibagian yang mana, Pak ?.
Menurut saya, seharusnya Anda memakai antropologi budaya dan etnologi
sembari mendalami literatur di Museum Manusia Purba Sangiran, Sragen,
Jateng.

Menurut pengetahuan saya pada ilmu antropologi budaya + hukum, etnologi
dan sosiologi bahwa suku bangsa di Indonesia, selain sang empunya teritorial / wilayah turun temurun pada alam dan sumber dayanya, bumi dan pemandangan indahnya, sumber air dan udara komunitas tersebut, juga sebagai lambang peradaban budaya, kearifan adat, ingatan, kekerabatan, sikap, relasi sosial dan sejarah integritas komunitas tersebut. Karena itu, saya tegaskan sekali lagi pengesahan / mengesahkan SUKU bagi warga keturunan bangsa pendatang asing merupakan persoalan besar dan luar biasa bagi kedaulatan bangsa dan negara Indonesia, maka harus melewati pertimbangan yang benar – benar matang oleh tokoh masyarakat, Pemerintah dan para wakil rakyat di DPR.

4. Sebagian warga keturunan Tionghoa rancu mengidentifikasi dirinya, itu
berpangkal dari kesalahan memahami kontek kebangsaan, kemudian keterusan
berlindung pada alasan keragaman, hingga kian sulit menyadari esensi
kebudayaan Indonesia sejatinya, jadilah mereka peminggul setia Culture Of
The Other.

Karena itu, dibutuhkan semangat untuk mengabarkan kebenaran dan keadilan
oleh orang macam saya dan Anda, semoga bisa merekahkan kesadaran bagi
semua warga keturunan Tionghoa.

SEMOGA DENGAN REKAHNYA KESADARAN KITA DAPAT
MELAMPAUI PENCITERAAN, MENGELAK DARI HAL YANG
SENSASIONAL ( KEBOHONGAN DAN KEDUNGUAN ), MENYENTUH
YANG ESENSIAL ( KEJUJURAN DAN KECERDASAN ), AMIN.
Terima kasih.

Tanggal 17 Nov. 2012, Jam 14.00
hendrotan

End

———————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————

HOMPIMPA

DISKUSI KEBANGSAAN

From: Iskandar Hamzah <hamzahisk@yahoo.com>
Subject: Jawaban atas jawaban Anda
To: hendrotan888@yahoo.com
Date: Thursday, November 8, 2012, 6:51 PM

Pak Hendrotan yang baik,

Pendapat Anda bahwa untuk menjadi suatu suku harus mempunyai Territori tertentu pada  hemat saya agaknya kurang tepat.

Di Tiongkok ada suatu suku yaitu suku Hakka atau dalam bahasa Mandarin disebut Khe Jia Ren  atau kita kenal dengan suku Khek.   Mereka bermukim tersebar diberbagai propinsi seperti Fukien, Guangdong (Meisien), Sichuan dsb.  Namun disebut suatu suku karena mereka telah bermigrasi dari suatu daerah di Utara, Sungai Kuning, mempunyai bahasa dialek yang sama dan mempunyai kebiasaan yang sama.

Suku Kurdi, ada di Iraq, di Turki, bahkan di Eropa, mereka tidak mempunyai territori tertentu, tetapi tetap disebut Suku Kurdi.

Untuk disebut suku, bisa karena berasal dari keturunan yang sama, atau mempunyai kebiasaan dan adat istiadat yang sama.  Etnis Tionghoa di Indonesia, dimanapun berada, suku lain tetap mengenali dan menyebut mereka sebagai orang Tionghoa atau orang Cina.

Jadi pengakuan itu telah diberikan secara alamiah walaupun belum disahkan oleh MPR/DPR.   Saya rasa tidak ada satu suku pun di Indonesia yang pernah disahkan secara resmi oleh DPR/MPR.  Masyarakat mengenali dan menyebut mereka begitu saja.

End.

HOMPIMPA

Jawaban kepada : Iskandar Hamzah hamzahisk@yahoo.com
Tanggal, 8 November 2012, Jam 6:51 pm

Pak Iskandar Yth.

Menjawab Anda sebagai berikut :

1. Kalau pun warga Hakka disebut suku, menurut pengamatan saya,
itu dikarenakan mereka serumpun HAN ( di Tiongkok ) dan sama sama orang Tionghoanya.

2. Sedangkan kaum kita, BERASAL ORANG ASING DARI TIONGKOK yang hijrah atau bertransmigrasi ke Nan Yang Jin Dao, Kepulauan di Samudra Selatan antara lain Philipina, Malaya, Sarawak, Kalimantan Utara, Papua Nugini dan Nusantara = Indonesia, dan kita adalah keturunannya dinamakan keturunan Tionghoa.

Oleh karena itu, bila kaum kita keturunan Tionghoa ingin diakui menjadi SUKU di Indonesia harus memiliki teritorial / wilayah yang dikukuhkan oleh Pemerintah, DPR dan Tokoh Masyarakat.
( Tentu saja, teritorial tidak dapat diartikan sebagai hak guna usaha pada perkebunan kelapa sawit kan ? ! )

Namun, kalau masih ada saja yang berhasrat menjadi suku Tionghoa Indonesia, sebaiknya membeli salah satu pulau di Nam Sha Jin Dao (Paracel dan Spratley) untuk legitimasi teritorialnya, gimana setuju ya ?

Terima kasih.

Tanggal 9 Nov. 2012, Jam 17.00
hendrotan

End.

——————————————————————————————————————————————————————————————————–

HOMPIMPA

DISKUSI KEBANGSAAN

From: Iskandar Hamzah <hamzahisk@yahoo.com>
Subject: Tulisan Hompimpa
To: hendrotan888@yahoo.com
Date: Monday, October 29, 2012, 7:26 PM

Pak Hendrotan yang baik,

Persoalan kebangsaan bagi Suku Tionghoa Indonesia sudah hampir final. Keadaan saat ini sangatlah baik bagi bangsa Indonesia dalam kaitannya dengan suku Tionghoa.

1. Dengan di Amandemen nya UUD 45 dimana kata “Asli” telah dihilangkan maka hak dan
kewajiban semua Warga Negara Indonesia berdasarkan Hukum telah disamakan.

2. Dikeluarkannya berbagai peraturan Per-Undang-undangan yang menghilangkan berbagai
peraturan yang membedakan suatu golongan Warga Negara dari yang lain. -UU No. 39 th. 1999
tentang Hak Azazi Manusia -UU No 12 th. 2006 tentang Kewarganegaraan Republik Indonesia –
UU No 23 th 2006 tentang Administrasi Kependudukan -UU No 42 th 2008 tentang Pemilihan
Umum Presiden dan Wakil Presiden _UU No. 40 th. 2008 tentang Penghapusan Diskriminasi
Ras dan Etnis

Maka berdasarkan Undang-Undang kedudukan Warga Negara Republik Indonesia Etnis Tionghoa adalah sama dengan Warga Negara yang lain.

Bagi mereka yang lahir di Indonesia, kewarganegaraan nya cukup dibuktikan dengan KTP, dan Surat Bukti Kewarganegaraan Republik Indonesia TIDAK diperlukan lagi.

Maka sebagai reaksi dari kesemuanya itu suasana hati Etnis Tionghoa pada umumnya adalah merasa ikut memiliki Tanah Air Indonesia seutuhnya, dan siap berjuang sebatas kemampuan mereka untuk membangun dan membela bangsa dan negara Indonesia.

Haruslah dicatat, bahwa keadaan ini tidaklah dicapai dengan mudah, melainkan telah melalui proses panjang dan perjuangan yang berliku-liku sesuai dialektika zaman.

Adalah kewajiban kita untuk memberikan informasi dan menyebar luaskannya kepada seluruh Etnis Tionghoa yang belum mengetahui hal ini, karena mereka pun berlatar belakang Sosial dan pendidikan yang berbeda-beda.

Sejarah memberi pelajaran kepada kita, bahwa ada Aksi ada Reaksi. Cara-cara Orde Baru yang melakukan berbagai pemaksaan berdasarkan kecurigaan dan kebencian Etnis malah akan memberikan hasil yang sebaliknya. Bukannya makin membaur, Etnis Tionghoa yang ketakutan karena ditekan oleh Rezim pada waktu itu malah menutup diri, dan bersikap Apatis, kecuali beberapa Konglomerat yang ber kolusi dengan Rezim Orde Baru demi keuntungan pribadi.

Kesimpulannya adalah, kini lembaran baru telah dimulai, masa lalu yang kelam tetap dijadikan pelajaran untuk tidak diulangi lagi, Suku Tionghoa Indonesia bersama-sama dengan Rakyat Indonesia yang luas berjuang dan bekerja bersama untuk membangun Indonesia Raya yang jaya !

End.

HOMPOMPA

Jawaban kepada : Iskandar Hamzah hamzahisk@yahoo.com
Tanggal, 29 October 2012, Jam 7.26 PM
Dengan hormat,

1. Undang Undang yang Anda sebutkan, sudah ada di buku berjudul SEMANGAT PERJUANGAN PERANAKAN IDEALIS karangan Prasetyadji yang diterbitkan oleh Forum Komunikasi Kesatuan Bangsa dan beberapa buku yang memuat tentang Undang Undang kenegaraan lainnya, walaupun tak mengurangi penghargaan pada maksud baik Anda menjelaskan hal tsb.

2. Di Indonesia tidak ada Suku Tionghoa dan tidak akan pernah ada, karena persyaratan menjadi suku harus memiliki TERITORIAL yang diakui oleh Negara. ( Pemerintah, DPR dan tokoh masyarakat, yang selanjutnya dikukuhkan oleh Undang Undang )
Baca tulisan saya yang bertema Kepala Yang Terbelah di blog www.hendrotanhendro.wordpress.com

Terima kasih

Tanggal 6 Nov. 2012, Jam 18.46
hendrotan

End

——————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————

HOMPIMPA

DISKUSI KEBANGSAAN

PANEL KEEMPAT dari 08123XXXXX

Tgl. 01 Nov. 2012 jam 12.39

Selamat malam saudara2ku.

Ruang diskusi ini menurut hemat sy betul2 bagus utk ditindaklanjuti, karena apa yg disampaikan oleh para panel (meminjam istilah pak Hendrotan) msh dlm tataran saling curiga. Belum menyentuh pd pokok persoalan yg disajikan oleh pak Hendrotan, yaitu Assimilasi.

Assimilasi yg dimaksud pak Hendrotan disini adalah Assimilasi Budaya. Nah Assimilasi Budaya itu disebut Akulturasi Budaya. Menurut kamus bahasa indonesia tulisan Prof. Dr. J.S. Badudu – Prof. Sutan Mohammad Zain, akulturasi budaya adalah “Proses bercampurnya dua kebudayaan atau lebih krn percampuran bangsa2 dan saling mempengaruhi”.

Akulturasi budaya ini sangat manusiawi & berproses secara alamiah, karena memang tdk ada satupun budaya didunia ini yg bs bertahan secara permanen sepanjang masa. Semua budaya2 didunia ini saling pengaruh mempengaruhi. Contoh akulturasi budaya dibidang seni di eropa adalah Opera yg dibawa oleh Marcopolo dari daratan tiongkok ke daratan eropa. Dibidang makanan ada Spagheti, prosesnya jg sama. Nah sebaliknya di asia jg mengalami akulturasi budaya dibidang musik, yaitu musik klasik & musik pop yg dibawa oleh barat ke daratan asia, tdk terkecuali tiongkok. Tdk ada satupun negara di asia yg tdk memainkan musik klasik & musik pop, yg beda cuman alat musiknya aja.

Di indonesia ada makanan Lontong Cap Gomeh, suatu makanan lezat yg dibuat dari campuran santan, dipadu dgn lontong. Makanan ini disajikan pd akhir perayaan Imlek, yaitu tgl 15 (cap goh) bln pertama penanggalan Lunar.

Di bidang pakaian, hampir seluruh masyarakat di asia memakai baju barat atau disebut Hemd, bahan yg dibuat terserah masing2 negara.

Bnyk sekali contoh2 akulturasi budaya didunia yg tdk sy sebutkan disini. Tetapi pd hakekatnya akulturasi budaya adalah manusiawi & berproses secara alami.

Kembali ke pokok bahasan yg ditawarkan oleh pak Hendrotan, bhwsanya akulturasi budaya adalah tugas sejarah yg tdk terhindarkan alias tdk bs dihindari. Akan tetapi hrs diingat bhw proses itu tdk serta merta bs terjadi, jika kedua belah pihak tdk saling mengenal ato tdk saling ingin bergaul. Adalah tugas kita sbg anak bangsa utk menjadi prajurit terdepan dlm proses pergaulan ini, sehingga kecurigaan2 yg msh ada lambat laun bs tereliminasi.

Pengalaman pahit yg kita alami selama hampir 2 generasi, yaitu +/- 35 thn, dimana proses pergaulan ini menjadi terhenti, telah memakan korban yg tdk sedikit. Baik dari sisi materi maupun inmateri. Adalah tdk bijak jika kita tetap melihat kebelakang tanpa menatap kedepan. Karena apa yg ada dibelakang itu adalah catatan, sedangkan apa yg ada didepan itu adalah tujuan. Dan tujuan itu adalah masa depan bagi anak cucu kita. Jayalah bangsaku !! Jayalah Indonesiaku !!

Sekian & Semoga bermanfaat. Terimakasih.
Henry Hadi.

End.

HOMPIMPA

Jawaban Kepada PANEL KEEMPAT dari 08123XXXXX

Tgl. 1 Nov. 2012 jam 12.39

Isi tulisan Anda bagus, selamat ..

Tgl. 1 November 2012

hendrotan

End.

——————————————————————————————————————————————————————————–

HOMPIMPA

DISKUSI KEBANGSAAN

PANEL KETIGA dari  08123XXXXX

Tgl. 30 Okt. 2012 jam 01.20

Terimakasih kpd pak hendrotan yg telah meluangkan waktu & energy utk membuka ruang bagi kita utk mendiskusikan mslh kebangsaan ini.

Saya disini menanggapi dgn gaya bercerita mulai dari pengalaman kehidupan sy sejak kanak2 s/d skrg.
Dimasa kanak2, sy hidup di suatu perkampungan di srby yg dihuni oleh 3 suku, ada suku jawa, madura & tionghoa. Kehidupan kami sbg kanak2 sungguh menggembirakan. Kami semua bermain bersama, tanpa ada sekat2 perbedaan. Demikian jg dgn org tua kami, sbg tetangga, hampir semua penghuni kampung tsb saling bertegur sapa, walo org tua kami dari latar belakang suku yg berbeda. Sy msh ingat, waktu itu sy msh duduk dikelas dasar dari sekolah tionghoa di jl kalianyar. Kehidupan kami sbg kanak2 sungguh indah. Bayangkan ada anak2 tionghoa, jawa, madura bs bermain bersama. Tdk terkecuali anak2 perempuannya. Waktu ada perayaan Imlek org2 tionghoa dikampung tsb merayakan dgn cukup meriah, ada yg kermh tetangga sekedar utk memperoleh angpao, ada yg ke sanak family jg dgn tujuan yg sama. Setelah itu kami ramai2 ke kebun binatang yg terletak di ujung jl raya darmo.

Disaat sy msh kanak2, perayaan idul fitri belum seramai skrg. Yg ramai saat itu adalah peringatan Maulud nabi atau dikenal dgn sebutan “Muludan”. Yg kami ingat adalah aneka aksessori yg dijual disepanjang jl kusumabangsa. yg ngetren adalah aksesori dgn nuansa timur tengah, maklum karena yg dirayakan hr itu adalah hari Maulud Nabi. Sy sendiri berdandan ala timur tengah. Hampir semua anak dikampung tsb larut dlm perayaan Maulud nabi. Padahal kami saat itu tdk mengerti apa itu Maulud Nabi, yg penting bermain.

Tahun 1965 sy mendpt libur panjang, hampir 2 bln lamanya kami libur. Sayup2 terdengar berita dari kakak2 kami bhw sekolahan kami di jl kalianyar ditutup. Sy dipindah oleh org tua sy ke sekolah negeri di jl kusuma bangsa. Disini sy jg bermain bersama anak2 lain, yg mayoritas adalah dari jawa, ada sedikit madura & sedikit batak. Disekolahan ini sy hny bertahan 2 thn. Setelah itu sy pindah kesekolah swasta di jl jagalan. Disini mayoritas anak2 dari suku tionghoa, ada jg sedikit jawa. Tetapi tetap tdk ada persoalan bagi kami sbg anak2, yg penting bs bermain. Th 1967 ada kerusuhan, dimana2 toko2 dirusak, mobil2 dibakar. Perlahan2 terdengar bhw penyebabnya karena 2 anggota militer Indo digantung di S’pore, sehingga indo membalas dgn merusak toko2 & mobil2 milik tionghoa. Tamat SMP sy pindah kesekolah katholik di jl dr soetomo, skrg polisi istimewa. Di SMA sini betul2 muridnya heterogen, tetapi mayoritas adalah tionghoa. Tetapi sy tetap bergaul dgn semua teman, tanpa memandang suku. Bahkan sy berteman cukup baik dgn teman sekelas dari etnis arab.

Di saat sy duduk dibangku SMA inilah sy merasakan ada perbedaan perlakuan didlm masyarakat. Sy merasa tdk bebas merayakan hari raya Imlek. Ada semacam kekhawatiran utk merayakannya. Sedangkan teman2 sy dari Nasrani tdk ada hambatan utk merayakannya. Lebih2 dari suku jawa yg merayakan hari raya idul fitri. Sy bertny2 dlm hati, mengapa sy sbg tionghoa tdk boleh merayakan Imlek. Th 1974 terjadi peristiwa Malari, dimana rumah2, toko2 & mobil2 org tionghoa dirusak & dibakar.

Setamat SMA sy melanjutkan study ke eropa. Disinilah mata sy dibuka akan keberagaman budaya dari bermacam2 bangsa dari hampir seluruh dunia. Setahun 2 X kami merayakan festival budaya di kampus2. Dari eropa barat, eropa timur, timur tengah, china, amerika, amerika latin, masing2 negara menampilkan budayanya masing2. Mulai dari makanan, tari2an, hasil kerajinan dll. Sy bertny2, kok lain & beda sekali dgn apa yg sy alami di indo, dimana sy adalah warga negara indo dari etnis tionghoa, tetapi tdk diperbolehkan mengexpresikan kebudayaannya. Sedangkan di eropa ini sy adalah tamu yg numpang belajar, akan tetapi dipersilahkan utk menampilkan kebudayaannya. Apa yg salah dgn negaraku ini ???? Saat itu usia sy baru sekitar 20an. Disini sy bergaul dgn teman2 mahasiswa hampir dari seluruh dunia.

Dari Turki, Yunani, Belanda, Rusia, Afrika, Timur tengah, Hongkong, China, Vietnam, Korea, USA, Brazil, Argentina dll. Pemerintah setempat menyambut dgn baik keberagaman budaya2 seluruh dunia. Tdk itu saja, paham2 & buku2 dijual bebas dimana2, bahkan buku MAOpun dijual dgn bebas. Dijalan2 aliran Harikrisna menari2 sambil berdendangria. Apa yg melatarbelakngi kebijakan pemerintah setempat, sehingga kami boleh menampilkan kebudayaan masing2 ? Tdk lain & tdk bukan adalah KEBEBASAN BEREKSPRESI.

Eropa tdk mempunyai satu pasalpun kebijakan yg membelenggu warga negaranya utk mengekspresikan apa yg menjadi keyakinannya, sepanjang hal tsb tdk mengganggu ketertiban umum. Demikian jg dgn kami sbg tamu jg diberi kebebasan utk mengexpresikan kebudayaannya.

Th 1983 sy pulang ke indo. Suasana berbalik 180 derajat, dimana sy kembali merasakan kekhawatiran seperti sebelum berangkat ke eropa. Sy merasakan ada sesuatu kejanggalan yg ada dinegeri ini. Seiring berjalannya waktu sy memutuskan utk mendatangi kelenteng di jl jagalan utk mempelajari kitab2 agama Khong Hu Cu, kitab ini terbagi dlm 2 bagian, yaitu SHE SHU & WU JING. Suatu hari sy diberi oleh salah 1 teman buku dgn judul “HOA KIAO di indonesia” tulisan Pramoedya Ananta Toer. Dari buku inilah sy mulai diperkenalkan & dibukakan mata tentang penyebab anti cina di indo ini. Dari buku SHE SHU WU JING sy diperkenalkan tentang dunia politik kenegaraan, tugas & kewajiban raja terhdp rakyatnya.

Sambil mempelajari kitab2 diatas sy berkenalan dgn seorg Sri Bintang Pamungkas. Dari perkenalan dgn beliau sy dpt bergaul dgn teman2 aktivis kampus, jg teman2 non kampus, yg kesemuanya tdk puas terhdp kebijakan rezim ORBA. Mereka bertny kpd sy, apa mas henry sbg seorg tionghoa tdk merasa takut berteman dgn aktivis yg ingin menggulingkan Soeharto ? Sy bilang, sy sbg seorg warga negara indonesia berkewajiban menjunjung kebenaran & melawan semua kedoliman ORBA, termasuk melawan penindasan terhdp org2 tionghoa.
Singkat cerita tgl 12 Mei 1998 kami di srby turun kejalan utk memimpin barisan utk menggulingkan rezim ORBA. Teman2 jkrt jg melakukan hal yg serupa, cuma berbeda tglnya aja. Rezim Orba telah turun, kita sbg etnis tionghoa memperoleh kemerdekaan utk mengexpresikan apa yg menjadi keyakinan kita & mengexpresikan kebudayaan kita, seperti yg sy alami di eropa.

Nah setelah kita memperoleh kebebasan berekspresi ini sayangnya ada org2 ato kelompok tertentu yg kebablasan dlm menyikapi kebebasan berekspresi ini. Dan itu yg menjadi kekhawatiran dari pak hendrotan. Akan tetapi kebablasan ini tdk hrs dipertanggungjwbkan ke pundak paham Integrasi, ato sebaliknya kekhawatiran pak Hendrotan itu obatnya adalah paham asimilasi. Kita butuh CharacterBuilding & NationBuilding dlm menjwb semuanya itu.

Terimakasih. Henry hadi.

End.

HOMPIMPA

Jawaban Kepada PANEL KETIGA  08123XXXXX

Tgl. 30 Okt. 2012 jam 01.20

Isi tulisan Anda bagus, selamat .  .

Tgl. 30 Oktober 2012

hendrotan

End.

——————————————————————————————————————————————————————————————————————————

HOMPIMPA

DISKUSI KEBANGSAAN

PANEL KEDUA ( LANJUTAN 2 ) dari 089678XXXXX
Tgl. 30 Okt. 2012 jam 23.00

1. Sepertinya anda lbh tertarik mengomentari cara berdiskusi saya ketimbang menjawab pertanyaan dgn tegas dan lugas. Jwban anda sama sekali tdk mencerahkan, sejauh ini saya tdk bisa menarik kesimpulan apa2 atas klarifikasi yg anda sodorkan. Tapi saya hanya melihat anda berputar2 mondar mandir diluar ring. Tdk menyentuh substansi sama sekali. Contoh: ketika saya bertanya pihak manakah yg perlu berganti keyakinan jika diharuskan demi terwujudnya asimilasi, maka anda hanya perlu menjawab saya atau dia. (tentu disertai dgn alasan) ini yg saya mau.

2. Anda jg tdk bisa sembarang mengubah sejarah imlek hanya berdasarkan ketentuan pemerintah. Jika anda bersikeras maka akan terkesan terlalu dipaksakan.

3. Yg sedang anda “ributkan” salama ini adl asapnya. Tp knp anda tdk mencari dimana sumber apinya? Kita tdk bisa menuntaskan akibat sblm kita menyudahi sebabnya.

4. Yg membahayakan bagi negeri ini bukanlah mslh budaya, tapi melainkan mslh keyakinan yg tdk anda ungkap disini. Sering kita dengar berita terjadinya bentrokan antar agama, tapi blm prnh dgr bentrokan budaya tuh. Justru setau saya budaya tionghoa memiliki andil dlm meraup devisa utk negeri ini. Contohnya kota singkawang yg mampu menarik turis2 dari manca negara utk menyaksikan atraksi2 budaya tionghoa. Jd mnrt saya.. apa yg anda ributkan sama sekali bkn hal yg perlu diributkan. Dan yg perlu dibenahi justru tdk anda ungkap sama sekali. Oh betapa indahnya jika kristen berasimilasi dgn islam, dipadukan menjadi satu aja! Maka damailah Indonesiaku.

5. Bagaimana anda menjelaskan sikap kami yg tdk berubah2 warna ibarat bunglon??? Apakah kami keturunan tionghoa yg mengabdi pada negeri ini tp tdk melupakan tanah leluhur bisa disebut mendua? Lalu apa sebutannya bagi tionghoa yg mengaku mencintai negeri ini tapi justru mempraktekkan dan menganut paham2 barat???

6. Jika seandainya anakmu diadopsi olehku. Apakah dia sudah tdk bole mengakui bhw anda adl ortu kandungnya? Mnrtku.. selama dia tdk mengabaikan kewajibannya thdku, saya kira tdk mslh. Justru saya akan menganggapnya seorg anak yg berbudi luhur. Krn walaopun dia tdk mendapatkan kasih sygmu sama sekali sejak kecil tapi dia tdk menyalahkanmu. Justru dia berjiwa besar msh mengakui anda adl ortu kandungnya. Dan jika saya menyalahkan anak yg msh mengakui ortu kandungnya, maka saya sgh berjiwa kerdil. Bukankah begitu bung hendro???

7. Ingat baek2! Jgn menyesatkan masyarakat awam dgn persepsimu! Ketika kita membahas budaya maka kita tetap harus dalam konteks budaya. Jgn dicampur aduk lalu ditarik kesimpulan semaunya. Sejarah mengatakan bhw chinesse new years yg kita sebut dgn imlek diindo adl merupakan pesta rakyat. Adapun terkandung nuansa2 religius dlm perayaannya, itu krn cara umat manusia mensyukuri sesuatu. Jika anda yg sudah tdk respek thd budaya leluhur dan enggan merayakannya, tdk masalah bagi kami! Tapi saya harap anda jgn seenaknya membuat kesimpulan dgn persepsi pribadi utk menyesatkan org lain. Yakini saja agama pilihanmu. Praktekkan saja budaya barumu. Tekuni saja profesimu, jalani saja hidupmu, urus saja keluargamu! Tdk perlu mencari muka seolah2 ingin membenarkan org lain. Sdgkan anda sndri sudah keliatan jelas ingin mengaburkan kebenaran tentang imlek.

8. Anda tdk mengaku telah menghimbau etnis tionghoa utk berasimilasi,
tetapi anda mengkritisi mereka2 yg enggan berasimilasi. Jika kritikan tsb bukanlah bertujuan utk merubah pola pikir atau menghimbau mereka, lalu apa tujuan sbnrnya??? Apakah anda hanya sdg mencari2 bahan utk memojokkan etnis tionghoa? Agar mereka dibenci pribumi berkat tulisan2mu? Atau agar anda dipuja puji dan mendapatkan simpati dari pribumi? Yg mana satu tujuanmu yg sbnrnya bung??? Kadar kemunafikanmu bisa dinilai atas jwbanmu.

End.

HOMPIMPA

Jawaban Kepada PANEL KEDUA (LANJUTAN 2) dari 089678XXXXX
Tgl. 30 Okt. 2012 jam 23.00

Dari no. 1 s/d no. 8 tersebut, jawabannya sudah tersurat dan tersirat di tulisan – tulisan saya sebelumnya ( http://www.hendrotanhendro.wordpress.com ). Setelah meneliti tulisan Anda, ternyata tidak ditemukan hal yang baru, karenanya tidak diperlukan pengulangan pembahasan.

Terima kasih.

Tgl. 30 Oktober 2012

hendrotan

End.

——————————————————————————————————————————————————————————————————-

HOMPIMPA

DISKUSI KEBANGSAAN

 PANEL KEDUA ( LANJUTAN 1 )  dari   089678XXXXX

Tgl. 26 Okt. 2012 jam 23.00

  1. Kebenaran memang pahit ? sblm kita membahas lbh jauh, saya ingin kamu mendefinisikan dl arti dari ”kebenaran” dl ! kebenaran  mnrt siapa ? versi apa ? Berlandaskan atau berdasarkan kacamata siapa ? Acuannya apa ?
  1. kamu dengan entengnya menghimbau orang lain untuk berasimilasi, tp apakah kamu sendiri sudah melakukannya ? atau mungkin putri2mu? Hanya atas nama cinta? Dan apakah masalah adat, kebudayaan dan keyakinan tidak menjadi kendala bagi kedua belah pihak ?
  1. hahaha kau memang oon. Bisa2nya kau bandingkan seorg/sekelompok aktivis ham dgn prilaku masyarakat awam? Kalo seorang Munir selaku aktivis Ham yang sensitiv thd mslh kemanusiaan ya gak mengherankan. Toh dia mengatasnamakan manusia, bukan pribumi. Kalo masyarakat pribumi yg awam sesensitiv munir itu baru bisa kamu jadikan alasan utk menyalahkan pandanganku.
  1. apakah saya jg bole meminjam istilah ”penganut rasialisme” thd kau ketika kau mencap tionghoa2 lain??
  1. ada apa dgn gaya hidup etnis tionghoa? Apakah lbh buruk dr pribumi? Gaya hidup yg mana ya? Pekerja keras? Hemat? Dan apa yg salah dgn melestarikan budaya selama itu tdk merugikan atau melukai org lain? Apakah kami perlu berbaju batik? Atau merayakan sesuatu dengan tumpengan? Oh sangat sempit wawasanmu. Cinta tanah air bisa dilakukan dgn banyak cara tanpa hrs membuang budaya sndri. Contoh: membayar pajak dan menaati hukum adl slh satunya. Jd jgn terlalu norak dech loe !
  1. Bruakakaka saya rasa kau memang ada maunya, tujuan utamamu adl agar etnis tionghoa menjelma sbg cina yahudian spt kau, hanya saja kau ckp pintar dgn mengatas namakan indo sbg tameng, sejarah mana yg kau baca hingga membuatmu jd bodoh begitu? Chinese newyear adl hari raya keagamaan? Bruakakak br tau kalo KONGZI lahir pd bln 1 tgl 1 imlek. Haha

Silakan join ke group Tionghoa bersatu dan posting pemikiranmu disana

  1. Apakah memungkin bagi saya yg non muslim berasimilasi dgn yg beragama islam? Apakah kamu yakin tdk akan terjadi gesekan dan keruwetan sepanjang kisah kami kelak jika hanya berdasarkan asas slg menghargai? Dan jika slh satu dari kami hrs berganti keyakinan demi terwujudnya asimilasi, pihak manakah itu? Bygkan saja seandainya dirimu sndri yg hendak melakoni asimilasi tsb, apakah kamu sudi berganti agama? Apakah tdk akan ada pertentangan dari keluarga besarmu? Klo mengharapkan pihak mereka yg mengikuti agama kita (non muslim) maka sudah hampir pasti tdk mgkn, kalopun pasanganmu sudi, itupun tak mgkn direstui ortu mereka dgn suka cita. Dgn demikian, adakah solusi yg jelas dan tepat yg bisa kau jabarkan disini? Kawinkan putrimu dgnku maka aku “baru” akan memperlakukanmu dgn baik. Inilah teladan asimilasi yg sdg kau koar2kan utk org lain. Nyaman aja kalo ngomong.

8.        Kami dihimbau agar membuang budaya leluhur dan melakoni budaya negeri ini, tapi budaya mana satu yg kau maksud? Disaat bersamaan sebagian besar pribumi skrg malah lbh mendewakan budaya arab.Dan kau sendiri  tau dgn jelas bhw indo adl negara dgn umat muslim terbesar didunia. Dan kau jg tau dgn pasti bhw muslim dan Kristen memiliki sejarah yg slg bertentangan. Ibarat kasarnya adl “musuh bebuyutan”. Nah demi menunjukkan kecintaanmu thd negeri ini knp kau sengaja memilih Kristen utk menentang mereka? Siapa yg merupakan duri dlm daging bagi negeri ini? Kami atau kalian??? Budaya adl bawaan, jauh lbh melekat drpd keyakinan. Jd knp kau yg bisa membuang budaya leluhurmu malah tidak sanggup membuang keyakinanmu yg berasal dari Israel itu? Mrk bahkan bkn leluhurmu, bahkan tdk ada 1 pun sejarah yg mengaitkan mereka dgnmu. Tp knp kau tdk bisa? Tidak mau beda lho dgn tidak bisa.

9.   Mnrt saya.. Asimilasi mgkn saja terjadi jika terdapat sejumlah kecocokan dan memenuhi kriteria masing2. antara lain dlm hal keyakinan, kepribadian yg baik, penampilan yg menarik, ekonomi yg mapan, dan penerimaan yg tulus dari kedua belah pihak keluarga. Asimilasi yg dilakukan berdasarkan pertimbangan2 diatas tentu lbh bermakna krn menyangkut kebahagiaan yg menjalakannya. Tapi jika asimilasi dilakukan demi kepentingan sekelompok/ras/suku atau apalah sebutannya. Maka itu tak ubahnya ibarat memberi upeti pada pihak yg berkuasa demi mendapat perlakuan yg lbh baik. Ini jelas pemikiran yg salah dan menyesatkan. Saya yakin kamu jg tdk mgkn rela mengorbankan kebahagiaan saudari atau putri2mu demi kepentingan yg msh abu2 utk sekelompok org. jd mnrtku.. Asimilasi tdk bole dihimbau sambil mengintimidasi dan mencap bla3x thd org yg enggan melakukannya. Krn itu menyangkut kebahagiaan dan masa depan org lain.

10.  Ketika saya telah berumah tangga, saya tetap bole berbakti kpd ortu saya. Dan itu tdk berarti mengurangi rasa cinta saya thd istri saya. Ketika saya telah menjadi warga negara lain, saya tetap bole mengenang dan membela negeri leluhur walaopun hanya dalam bentuk suara. Dan itu tdk berarti rasa cinta saya thd negeri ini berkurang atau bahkan berkhianat. Coba kamu pelajari dulu karakter warga kita (indo) yg tlh menetap dan beranak pinak dinegeri lain, apakah mrk juga serta merta melupakan budaya yg menjd jati diri mereka? Apakah mrk jg tlh menjelma sbg sosok yg nasionalis bagi bangsa yg ditempatinya skrg??? Ini hny sbg perbandingan saja. Dan sbnrnya sifat mencintai kampong halaman adl sgt manusiawi dan merupakan suatu anugrah yg indah bagi hampir semua manusia dimuka bumi ini. Sgtlah menyedihkan bagi mereka2 yg tdk diberi anugrah tsb. Bunglon sgtlah cocok mewakili sifat mereka

1 lagi.. Coba pelajari ulang budaya atau sejarah perayaan imlek. Krn Sejauh yg saya ketahui.. imlek merupakan pesta rakyat China. Adapun perayaannya bernuansakan agama Tao dan KHC itu disebabkan krn pada zaman dahulu hampir semua org tionghoa beragama tradisional. Dan otomatis perayaan tsb terbawa hingga ke tata cara mereka dlm merayakan dan mensyukurinya. Yg kita maksud adl Chinese newyears.

Jd sy harap kamu jgn menyesatkan etnis tionghoa dgn persepsi kamu

sendiri ttg perayaan imlek yg sejarahnya entah kamu baca dibuku karangan siapa. Bedakan keyakinan dgn budaya! Tdk mengherankan jika banyak budaya2 tiongkok terkesan bernuansakan keagamaan tradisional. Krn pada zaman dulu rakyat china hanya mengenal dan menganut agama lokal. Jika saat itu agama Kristen sudah masuk ketiongkok mgkn tata cara perayaannya pun akan berbeda dng yg skrg.

End.

HOMPIMPA

Jawaban Kepada PANEL KEDUA (LANJUTAN 1) 089678XXXXX

Tgl. 26 Okt. 2012 jam 23.00

  1. Dalam tukar pendapat ini seringkali Anda melontarkan kata-kata kotor, umpatan,  dan tudingan emosional bernada rasisme. Karena blog ini adalah sebuah forum publik yang dibaca oleh masyarakat luas dengan pelbagai stratanya di seluruh Indonesia serta menjunjung asas kemanusiaan dan budi pekerti cinta damai, maka saya berharap pada tulisan berikutnya Anda mau memakai  kata–kalimat yang wajar / santun; bersama ini saya menjawab pertanyaan Anda ihwal “ kebenaran” dengan mengajukan hikmat seorang sejarahwan-penyair dari UGM, Yogyakarta, Kuntowijoyo. Katanya, kebenaran itu sayap awan yang akan mengabarkan kebun bunga di saat engkau tengah menunggu hari yang membeku, seolah tiada tangan gaib yang sanggup menolongmu. Dengan hikmat itu, saya ingin mengajak pembaca blog ini bukan hanya berpikirankritis tapi juga berhati lapang yang bersedia menampung kebenaran dalam pluralisme sudut pandang dan acuan, meski pahit rasanya. Walau seharusnya Anda sudah tahu, bahwa pada tulisan – tulisan saya di blog (www.hendrotanhendro.wordpress.com) telah tampak intrinsik-seseorang dengan jalan menawarkan KEBENARAN yang diyakini, itulah definisinya.
  1. Pertanyaan Anda ini menunjukkan bahwa Anda adalah seorang penuding yang emosional dengan pikiran berkabut. Karena itu, saya ingin tegaskan kepada Anda, bahwa ihwal asimilasi telah menjadi amalan saya sebagai seorang warga Indonesia, tentang hal ini saya sudah terakan dalam tulisan saya “Arti Asimilasi” (www.hendrotanhendro.wordpress.com). Apalagi saya percaya kepada kebijaksanaan seorang sastrawan besar Indonesia asal Blora, Pramoedya Ananta Toer bahwa seorang terpelajar harus bersikap adil dan jujur sejak dari dalam pikiran.
  1. Sekali lagi, pertanyaan Anda ini memperlihatkan betapa Anda adalah seorang pencemooh ber”kaca mata kuda” dalam menanggapi pendapat orang lain. Persoalan krusial dari cara pandang Anda itu adalah Anda menuding masyarakat pribumi tidak memiliki sensitivitas kemanusiaan sebagaimana para aktivis HAM. Pada hemat saya, pandangan dan tudingan Anda itu merupakan kesimpulan semena-mena (sweeping conclusion).  Kalau Anda membuka cakrawala pengetahuan dan pergaulan sosial Anda, maka Anda akan menemukan banyaknya masyarakat pribumi yang memiliki sensitivitas yang tinggi terhadap kasus mei’98, juga persoalan-persoalan kemanusiaan keturunan Tionghoa lainnya.¹
  1. Kata guru saya, seorang penganut rasialisme itu seperti ” maling teriak maling ” yang suka bersilat lidah dan membolak-balikkan retorika bak tong sampah bunyinya nyaring dan garang dalam menuding-nuding orang lain ketika bertukar pendapat. Karena itu, saya ingin tegaskan bahwa tukar pendapat kebangsaan bertujuan kepada hikmat-kebijaksanaan bagi seluruh anak bangsa Indonesia yang menghargai pluralisme pemikiran dan menolak segala bentuk kekerasan, baik dalam ucapan maupun tindakan.
  1. Pada hemat saya, salah satu persoalan sosial masyarakat keturunan Tionghoa adalah cara berpikir yang telah terkontaminasi dengan stereotipe-stereotipe rasial – yaitu memandang dirinya lebih berbudaya, dengan budaya yang murni dan autentik, sehingga merasa paling unggul dan superior, pintar, bergengsi dan harus mengeksklusifkan dirinya dalam pergaulan sosial. Karena itulah, jika ada orang keturunan Tionghoa ( seperti saya ) yang menolak stereotipe-stereotipe rasial itu, maka Anda memberi cap sebagai orang yang norak dan berwawasan sempit.

6.  Pertanyaan Anda ini, sekali dan sekali lagi, mengungkapkan betapa Anda adalah seorang ”tukang stempel” yang gemar memberi cap orang lain dengan istilah-istilah rasis, seperti ”cina yahudian”. Perlu Anda ketahui bahwa dalam hal imlek di Indonesia, tentu saja saya berpegang pada sejarah sosial-politik Indonesia. saya yakin setiap anak bangsa Indonesia yang membaca sejarah bangsanya sendiri pasti mengetahui bahwa perayaan imlek dimungkinkan di republik ini berkenaan dengan kesediaan pemerintah mengakui Konghucu sebagai agama resmi keenam. Karena itulah, dalam hal tersebut, konteks sosial-politik menjadi penting untukmemahami perayaan imlek di Indonesia. Tegasnya imlek menurut sejarah sosial politik Indonesia adalah suatu perayaan yang berkaitan dengan hari libur keagamaan – bukan budaya keturunan Tionghoa.

7.  Pertanyaan – pertanyaan Anda ini memperlihatkan betapa Anda adalah seorang pencemas yang menarik – narik kecemasan Anda untuk disodorkan kepada orang lain. Maka, saya merasa tidak berhak menjawab pertanyaan-pertanyaan Anda pada point ini, karena saya bukan ahli psikologi sosial yang dapat menjawab kecemasan orang orang yang mengidap penyakit segresi sosial dan kemurnian asal-usul.

8.  Saya tidak pernah menghimbau untuk membuang budaya leluhur. Saya pun tidak pernah menghimbau asimilasi perkawinan. Itu persangkaan Anda. Maka, baiklah saya tegaskan bahwa saya menghimbau Asimilasi Budaya sebagai ikhtiar pikiran dan tindakan untuk menjadi Indonesia seutuhnya. Dengan demikian, ihwal budaya leluhur dan asimilasi Perkawinan merupakan dua pokok soal yang akan terjawab dalam asimilasi budaya. Dengan asimilasi budaya, kita tak akan berkhayal tentang budaya leluhur dari luar, karena sejatinya budaya luhur dan leluhur kita adalah budaya Indonesia. Sedangkan ihwal asimilasi perkawinan, itu akan menjadi kecenderungan alamiah dan sinkretisasi yang dibijaksanai dengan kearifan lokal di negeri ini.

9.  Tentu, saya sepakat bahwa dalam penghimbauan asimilasi budaya, juga hal-hal lainnya, tidak boleh menggunakan cara-cara kekerasan, intimidasi dan mencap orang lain dengan stempel berbau rasisme seperti yang Anda lakukan ketika menanggapi tulisan saya, terutama dalam tukar pendapat kebangsaan ini. Tapi tak mengapa, saya justru menganggapnya sebagai “rahmat” yang memungkinkan saya untuk menghayati nilai pluralisme dan meresapi kebenarannya sebagai sesuatu yang pahit, tapi menyehatkan jiwa dan menyegarkan mata batin saya.

10. Seorang warga negara yang baik seharusnya adalah seorang nasionalis bagi negara dan bangsanya sendiri. Dengan demikian, secara sosial politik, negara – bangsa itu adalah kampung halamannya. Karena itu, bagaimana mungkin seorang yang lahir dan tumbuh berkembang di Indonesia masih berkhayal punya kampung halaman selain Indonesia. Saya kira khayalan itulah yang menunjukkan ketidak pahaman, bahkan ketidak setiaan seseorang dalam kesadaran dan sikap kebangsaannya. Dengan penjelasan itu, sebagai jawaban atas pertanyaan dan pernyataan Anda, saya ingin tandaskan bahwa sifat mendua sebagian masyarakat keturunan Tionghoa justru akan menunjukkan keberadaan mereka sebagai bunglon dimata pemerintah dan suku masyarakat lain di Indonesia. Karena itu, bagi saya , tidak ada cara lain untuk menjadi Indonesia seutuhnya kecuali dengan Asimilasi Budaya.

Tgl. 29 Oktober 2012

hendrotan

End.

Catatan kaki :

1.   Kasus Mei 98 dalam tukar pendapat ini sinonim dengan Kerusuhan Mei

1998 yang berlangsung di sejumlah kota—antara lain Jakarta, Bandung, dan Surakarta, seiring dengan mengalirnya arus deras Reformasi politik di Indonesia.

Dalam kasus tersebut, amuk massa telah memporak-porandakan tak berbilang rumah, toko, dan perusahaan, khususnya kepunyaan warga keturunan Tionghoa. Juga terjadi perkosaan banyak perempuan keturunan Tionghoa—dan pembunuhan sejumlah aktivis mahasiswa serta penghilangan paksa aktivis-aktivis politik.

Hingga kini, Kerusuhan Mei 1998 masih diliputi kabut ketidakjelasan dan kontroversi, terutama ihwal dalangnya. Namun demikian, setiap anak bangsa di negeri ini—dengan hati nuraninya—akan bersepakat bahwa Kerusuhan Mei 1998 merupakan sejarah kelam dalam kehidupan sosial-politik di republik ini.

Mengikuti pemikiran Budiarto Danujaya, pengajar filsafat politik di Universitas Indonesia (Kompas, 23 Februari 2011), Kerusuhan Mei 1998 adalah wujud dari “kebengisan intoleransi” terhadap sesama warga Indonesia. Karena itu, betapa pun kita mengakui bahwa dalam Kerusuhan Mei 1998 terdapat banyak korban dari masyarakat keturunan Tionghoa—kita tak bisa melokalisirnya sebagai peristiwa kekerasan terhadap orang-orang keturunan Tionghoa semata. Pasalnya, seperti kita tahu, tak terbilang pula orang-orang dari warga pribumi yang menjadi korban Kerusuhan Mei 1998.

Dengan demikian, sudah seharusnya kita menyikapi Kerusuhan Mei 1998 sebagai tragedi politik nasional juga kerusuhan sosial ( kesenjangan kaya dan miskin ) yang bernuansa rasialis dan ditenggarai terlibatnya oknum penguasa / pemegang tampuk kebijakan negara. Yang mana tragedi tsb. telah menumpahkan darah dan merenggut nyawa anak-anak bangsa Indonesia. Alih-alih, sepatutnya kita senantiasa mengingatnya sebagai tragedi politik yang telah merampas hak hidup sesama saudara kandung di negeri ini.

———————————————————————————————————————————————————————————————————

HOMPIMPA

DISKUSI KEBANGSAAN
Menanggapi tulisan Hompimpa di blog : http://www.hendrotanhendro.wordpress.com

PANEL KESATU dari 085232XXXXX
Tgl. 25 Okt. 2012 jam 13.00

1. Meninggikan Etnis sendiri dilakukan oleh semua bangsa di Dunia. Lihatlah, bangsa Inggris, Amerika, Jepang, Indonesia, semua mempunyai kebanggaan atas bangsanya. Sesudah berdirinya Tiongkok Baru, pemerintah RRT berupaya mengembalikan kepercayaan diri rakyat Tiongkok dan kebanggaan atas bangsanya. Ini disebabkan selama seratus tahun bangsa Tionghoa telah dihina dan direndahkan oleh bangsa-bangsa lain terutama oleh bangsa-bangsa Barat. Kini Amerika, Inggris, Perancis dll. Merasa terganggu dan terancam dengan bangkitnya Tiongkok sebagai kekuatan Dunia. Karena serangan militer seperti waktu yang lalu pasti gagal, mereka berusaha melemahkan mental orang Tionghoa dengan berkampanye menyerang berbagai kebijakan pemerintah Tiongkok. Ini juga menjadi pelajaran bagi kita Bangsa Indonesia yang belum benar-benar terbebas dari pengaruh Asing, yaitu Bangsa-bangsa Barat, dalam bidang Ekonomi dan Politik.

2. Sebetulnya ” Silent War ” antara Amerika Cs. Dengan negara-negara progresif didunia masih berlangsung. Amerika menggunakan inteligen CIA untuk melakukan berbagai aktivitasnya diluar negeri. Meskipun tidak secara formal di organisir, mayoritas etnis Tionghoa diluar negeri cenderung berpihak ke Tiongkok dalam “perang” ini. Apa sebabnya ? mau tidak mau etnis Tionghoa tetap dikaitkan dengan Tiongkok. Bila Tiongkok berjaya dan makmur etnis Tionghoa sebagai diaspora ikut dihargai. Bila Tiongkok melarat dan kalah, kita ikut dihina dan diusir-usir. Ini saya alami sendiri waktu SMP dan SMA dulu. Seringkali bila guru marah, ia berkata : “ kamu anak-anak Cina, kalau tidak suka di Indonesia, pulang saja ke negeri Cina !” Lebih-lebih dimasa Orde Baru, ketika CIA berhasil menggulingkan Bung Karno yang progresif, anti Tionghoa makin menjadi-jadi, sampai berbahasa Tionghoa pun tidak boleh. Bangkitnya Tiongkok menyaingi Amerika, membawa dampak yang baik bagi etnis Tionghoa.

3. Kini pelecehan dan penghinaan terhadap etnis Tionghoa makin jarang terjadi. Bahkan kita sudah diperlakukan sama dengan warganegara yang lain. UUD 45 sudah diamandemen sehingga teoritis kita dapat menjadi Presiden. Sudah ada yang menjadi Wagub DKI yaitu Basuki Cahaya Purnama atau Ahok.

4. Menghilangkan identitas ke Tionghoa an secara massal adalah tidak mungkin. Di Afrika saja, yang warna kulitnya sama hitamnya dan kita tidak bisa membedakan, masih terjadi permusuhan Etnis. Etnis Yahudi di Jerman dulu sudah melebur diri jadi orang Jerman asli, toh Hitler masih bisa membedakan dan membasmi mereka. Yang penting kita cegah adalah berkuasanya rezim rasialis seperti Hitler dan Orde Baru.

5. Memang benar, Basuki Cahaya Purnama alias AHOK mengabdi kepada bangsa dan negara Indonesia sebagai wakil Gubernur DKI, Liem Swie King mengabdi dalam bidang bulutangkis, Yap Thiam Hien SH mengabdi dalam bidang hukum, Kwik Kian Gie mengabdi dalam bidang Ekonomi. Semua mereka tidak mengganti nama Tionghoa nya dan orang mengetahui kalau mereka etnis Tionghoa. Tidak perlu anti.

6. Mereka berjasa besar bagi Indonesia tanpa mengganti identitas ke Tionghoa an nya. Pengabdian mereka diterima dan dihargai. Tidak perlu menjauhkan diri apalagi ikut-ikutan Amerika untuk anti Tiongkok dan anti Tionghoa, bahkan kita harus mendekatkan Indonesia agar bersahabat dengan Tiongkok. Ini pendapat saya.

End.

HOMPIMPA

Jawaban Kepada PANEL KESATU 085232XXXXX
Tgl. 25 Okt. 2012 jam 13.00

1. Program kerja pemerintah Tiongkok untuk mengembalikan rasa percaya diri rakyatnya ( yang dinistakan oleh Sekutu Militer Delapan Negara dan dampak psikologi selama satu abad ), itu baik saja ! saya pun ikut berbangga dan berbahagia !

2. Namun pemerintah RRC jangan memakai pengaruh diaspora manca negara, kita yang sudah menjadi warga negara dan lahir diluar negara Tiongkok, mengharap RRC menghormati pernyataan pada kebijakan kewarganegaraan yang telah ditanda tangani, jangan lain di kata lain pula tindakan.

3. Dengan mengemban sejarah gelap yang ada, kedepannya saya dan anak, cucu, cicit sebagai keturunan Tionghoa di Indonesia, berharap menjadi salah satu anak bangsa Indonesia seutuhnya tanpa menonjolkan identitas Tionghoa, apalagi hubungan emosional dengan Tiongkok

4. Pengakuan ( diterimanya ) atas harkat dan martabat warga keturunan
Tionghoa di Indonesia DITENTUKAN Oleh kesadaran dan pengabdian
( sikap ) kita sendiri, bukan dikarenakan maju atau mundurnya negara /
pemerintah RRC.

5. Karena itulah, bila berbicara dalam konteks kebangsaan, RRC harus
dipahami sebagai negara asing, sama seperti Amerika, Australia, Jepang dll.
Maka, sudah seharusnya warga bahkan masyarakat keturunan Tionghoa
Indonesia MENUNJUKKAN EKSISTENSINYA berdasarkan pengabdian
dan kesetiaan kepada bangsa Indonesia bukan kepada bangsa China.

6. Jika dicermati dengan seksama pada tulisan – tulisan saya, maka kesadaran dan
sikap kebangsaan saya jelas, saya seorang anak bangsa Indonesia yang
berkeinginan membagi pengetahuan atau refleksi berdasarkan wawasan kritis atas
persoalan-persoalan sosial–politik yang melingkupi masyarakat Tionghoa di
Indonesia.

Dengan begitu, sejatinya saya berkehendak menjelmakan cinta tanah air saya
dalam naungan kemanusiaan bagi seluruh anak bangsa Indonesia, khususnya anak
bangsa Indonesia keturunan Tionghoa, agar tanpa keraguan sedikitpun untuk rela
mengabdikan diri sesuai dengan keahlian masing-masing kepada republik tercinta
ini. Singkatnya, kritisisme saya kepada sebagian warga keturunan Tionghoa di
Indonesia yang masih berpegang teguh pada nasionalisme romantik kampung
halaman di Tiongkok sebagai tanah air mereka, adalah didasarkan pada kesadaran
saya pada nasionalisme demokratik bahwa Indonesia adalah tanah air kita sebenar-
benarnya.

Tanggal, 26 Oktober 2012

hendrotan

End.

—————————————————————————————————————————————————————————————————————–

HOMPIMPA

DISKUSI KEBANGSAAN

PANEL KEDUA dari 089678XXXXX
Tgl. 25 Okt. 2012 jam 20.00

1. Pesan guruku : jangan lakukan apa yang kamu tidak inginkan orang lain lakukan terhadapmu ! ini mgkn akan berguna utkmu.

2. Pemerintah tiongkok “MEMANFATKAN”??? Apakah ada himbauan resmi dari pemerintah tiongkok utk etnis tionghoa perantauan agar melakukan ini dan itu ? Jadi apa yang menjadi dasarmu utk mengkritik pemerintah tiongkok? Dasar edan loe..

3. Tak perlu yang jauh2 dulu. Kau jelaskan dulu pertanyaanku yg tadi. Kenapa mereka lebih sensitive ketika rakyat palestina ditindas ketimbang kasus 98mei yang menimpa etnis tionghoa dinegeri sndri?

4. Tak ada pencerahan yang bisa kudapat dari mu. Aku tdk begitu suka membaca artikel yang panjangnya amit2 dan isinya tak jelas. Aku lbh suka tanya jawab perpoint gitu. Tapi sygnya tak satupun yg bisa kau jelaskan padaku. Kecewa mode on. Ironisnya.. Saat kau gencar menghimbau etnis tionghoa melepaskan jati diri dan kebudayaan mereka, malah kau sendiri yang menjalani budaya yahudi. Hahaha kau ibarat pisang. Alias chinese banana. Kulitnya kuning isinya putih. Tapi malah berlagak item. Bruakakaka

5. Saya rasa cukup itu dulu. Semoga ada pencerahan yg benar2 bukan berdasarkan kemunafikan. Quote: Brani mengakui kesalahan bukanlah suatu kemunduran.

6. Agar lbh fair, tdk ada salahnya jg kau mewakili pemerintah tiongkok dlm mengkritisi suku uighur dichina yg jauh lebih menutup diri dibanding etnis tionghoa diindo.

7. 1 lg.. Menurutmu Apakah etnis tionghoa perlu membuang budaya perayaan imlek? Dan jika dibuang, kami diarahkan utk merayakan hari apa? Natal? Idul fitri? Atau apa neh? Saya sgh tak abis pikir dgn cara berpikirmu yg mempermasalahkan kebudayaan. Sdgkan sesama pribumi aja saling melestarikan budaya mereka masing2. Suku batak, jawa, sunda, madura, melayu, dayak dsbnya masih mempertahankan budaya mereka masing2, lalu knp kami harus membuang budaya kami? Lalu kami hrs pilih mana satu utk menggantikan budaya kami? Ironis sekali ya..Disaat pemerintah skrg yg lbh toleran thd budaya tionghoa, eh malah ada cina oon yg mempermasalahkan budayanya sendiri. NB: saya bukan dari keluarga guru, saya bahkan tdk tamat sma. Tp setidaknya saya bisa berpikir lebih bijak drpd org yg mgkn pny gelar spt kamu. Saya jg tdk pinter merangkai kata2 agar enak dibaca, tp setdknya mksd yg ingin saya sampaian bisa dimengerti dgn kalimat sederhana.

End.

HOMPIMPA

Jawaban Kepada PANEL KEDUA dari 089678XXXXX
Tgl. 25 Okt. 2012 jam 20.00

1. “Kebenaran itu memang pahit”, kata guru saya. ”Tapi sampaikanlah, karena pahitnya itu justru akan menentukan nilai hidupmu, jika kebenaran itu dianggap oleh orang lain sebagai kebodohan, maka yakinkanlah dirimu bahwa orang itu adalah bagian dari masa lalu yang gagal menerangi masa depan, sehingga benaknya mengelana dalam kabut. Karena benak orang itu berkabut, sesungguhnya engkau perlu memaklumi bila semua perkataanmu yang berisi kebenaran dipandangnya sebagai kesalahan, kemudian menudingmu sebagai orang edan. Tak mengapa, engkau sejatinya tengah beruji kesabaran yang akan mendekatkanmu kepada hikmat dan kebijaksanaan dari kaum yang tercerahkan di republik Indonesia”.

2. Dengan mengumandangkan pernyataan simbolis : Hoa Ren Hoa Chiao, Chio Tze Yuu Chia Jin = ”Orang Tiongkok dan perantau Tionghoa merupakan satu keluarga besar yang mesra”–itulah yang menjadi dasar KRITIK saya kepada pemerintah Tiongkok. Harap diingat, dalam konteks asimilasi budaya dan sikap kebangsaan, pernyataan itu menyiratkan pengertian bahwa orang Tionghoa dimana pun, tidak terkecuali di Indonesia, masih merupakan warga bangsa Tiongkok. Padahal, sesungguhnya mereka tahu bahwa itu merupakan sesat pikiran dari sudut pandangan dan konsep negara-bangsa yang berdaulat. Sementara itu, warga keturunan Tionghoa di Indonesia seharusnya mengerti bahwa setelah berabad-abad hijrah ke Indonesia, maka tak ada negeri lain yang patut di cintai kecuali negeri ini – Indonesia. Selain yang ( telah ) memberikan tempat pijak bermukim, kehidupan dan kesejahteraan, juga memberikan kenangan, kekinian dan pengharapan.

3. Orang yang mengatakan bahwa kaum pribumi lebih sensitif kepada penindasan rakyat Palestina ketimbang kasus mei ’98 – sepertinya mereka miskin informasi. Perlu saya sampaikan, kalau Anda membuka mata hati dan mengamati dengan cermat, maka Anda akan mengetahui betapa sangat sensitifnya kaum pribumi kepada kasus mei ’ 98. Bacalah majalah Tempo (edisi 6-12 Oktober 1998 ), maka Anda akan menemukan bukti bahwa mereka tak hanya sensitif, tapi juga berjuang membongkar kasus mei ’98 sebagai persoalan kemanusiaan. Selain itu, amatilah apa yang dilakukan mendiang Munir dkk. lewat lembaganya Kontras (komisi untuk orang hilang dan korban kekerasan). Bahkan Munir mengorbankan nyawanya, antara lain karena memperjuangkan kasus Mei ’98 yang sengaja disembunyikan oleh penguasa.

4. Karena itulah, tak mengapa saya di cap sebagai Chinese Banana, cap yang justru menunjukkan bahwa orang yang memberi cap itu adalah penganut rasialisme yang memuja kemurnian etnisnya. Padahal, itu merupakan konstruksi politik yang akan menjebaknya sebagai kambing hitam, terutama pada saat terjadinya huru-hara sosial–politik .

5. Itu sebabnya, lebih dari sekedar pencerahan, warga keturunan Tionghoa sebaiknya kalau tidak boleh dikatakan harus merangkul pluralisme dalam kehidupan sehari-harinya dengan cara berfikir dan bergaul terbuka sebagai bagian integral suatu kelompok masyarakat Indonesia dimana ia berada. Bukan mengembang-biakkan gaya hidup dan sikap kesukuan yang di import dari Tiongkok. Ingat pepatah, dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung. Dalam pepatah tersebut terkandung hikmat budaya asimilasi yang telah diamalkan oleh banyak orang keturunan Tionghoa yang memiliki wawasan nasionalisme dan sikap kebangsaan yag mendalam, seperti Onghokham, PK Ojong dan John Lie.

6. Dengan asimilasi, saya yakin akan eksistensi orang keturunan Tionghoa di Indonesia menjadi nyata lewat kontribusinya kepada kehidupan disekitarnya, dimana ia merupakan masyarakat bagian integral yang tak terpisahkan lagi, sehingga tidak ada alasan lagi bagi dalih–dalih politik untuk mengeksklusi1. warga keturunan Tionghoa di Indonesia.

Dengan demikian, bukan perayaan imlek yang menentukan nilai hidup orang keturunan Tionghoa, tapi penghormatan dan pengabdiannya kepada bangsa ini lewat pengabdian pada masyarakat dimana orang Tionghoa telah melebur jadi satu. Contohlah warga keturunan Arab, mereka menjadi terhormat karena ada orang-orang seperti Munir, Anis Baswedan dll. yang mengabdi untuk harkat dan martabat bangsa ini, bukan karena memperjuangkan hari raya Idul Fitri. Bagi saya, orang keturunan Tionghoa seharusnya lebih mengedepankan budaya perayaan kebangsaan, bukan perayaan etnis, apalagi yang di import dari Tiongkok. Dengan itu, saya ingin menandaskan bahwa saya bukan Anti Tiongkok atau benci Tionghoa, melainkan seorang anak bangsa Indonesia yang ingin menumbuh-kembangkan dengan cinta terhadap budaya dalam negeri, apa pun latar belakangnya, berdasarkan nilai-nilai luhur yang digali-dalam dari tanah air sendiri.

Menjawab pertanyaan apakah etnis Tionghoa perlu membuang budaya perayaan Imlek ?. Menurut hemat saya, Imlek adalah hari raya agama Kong Hu Cu, tentu umat agama Kong Hu Cu harus dan wajib merayakannya, bagi warga keturunan Tionghoa yang Kristiani dan yang Muslim bisa ikut merayakan sepanjang tidak bersentuhan dengan kaidah keagamaan masing masing.

Dengan demikian perlu ditegaskan bahwa perayaan Imlek itu adalah perayaan agama Kong Hu Cu, bukan perayaan etnis Tionghoa atau warga keturunan Tionghoa. (hendrotan)

Catatan kaki
1. meminggirkan, mengasingkan atau memojokan

Tanggal, 26 Oktober 2012

hendrotan

End.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: